Pilihan di Tangan Anda

Posted on May 11th, 2018

“The content of your character is your choice. Day by day, what you choose, what you think and what you do is who you become.” (Heraclitus)

PEDULI PENGEMBANGAN KARYAWAN. Mungkin ini adalah tanggapan spontan, saat menyaksikan berbagai kegiatan di lantai 3A kantor ini. Selama dua hari perusahaan menampilkan berbagai booth yang menjelaskan tentang beberapa key inisiatives yang dilakukan oleh departemen Human Resources.

Sebut saja booth Talent Acquisition, booth GLOE (Global Leadership and Organization Effectiveness); booth Talent Management dan sebagainya. Semua karyawan, yang 50% adalah millenial diundang untuk mampir mendapatkan penjelasan di sana. Inisiatif ini untuk memperteguh kepercayaan karyawan, bahwa perusahaan peduli pada pengembangan karyawan, dan merancang berbagai langkah agar karyawan bisa menggali dan mengembangkan potensi dirinya untuk mendapatkan kesempatan berkarya di berbagai bidang di  perusahaan ini.

Foto bersama Panitia usai berbagi.

11 Juli 2018_Pilihan di Tangan Anda1

Unleash Your Potential

Saya diundang untuk berbagi dengan topik Unleash Your Potential. Pertanyaannya, setelah potensi di unleash, lalu apa?

Karena itu saya membuatnya lebih tajam dengan memilih topik: A Brand Called YOU. Dalam konteks marketing sebuah produk, yang merancang Brand adalah pemilik Brand tersebut. Demikian juga Brand Pribadi, seyogyanya yang bersangkutan yang bertanggung jawab dalam merancang apa yang diharapkan menjadi tanggapan spontan orang begitu mendengar namanya atau bila bertemu langsung.

11 Juli 2018_Pilihan di Tangan Anda2

Dengan mengambil judul seperti itu, pesan yang ingin saya garis-bawahi adalah setiap kita bertanggung-jawab atas label apapun yang diberikan orang kepada kita, di komunitas yang berbeda-beda. Sayang sekali kalau kita tidak mengambil inisiatif untuk merumuskannya. Untuk itu, langkah yang saya tawarkan adalah:

  1. Kenalilah siapa dirimu: Latihan sederhana meminta peserta untuk menuliskan sebanyak mungkin apa strength-nya, ternyata hanya sedikit yang menuliskan 5 ke atas. Bukan karena mereka tidak punya banyak strength, tapi belum dibiasakan untuk menggali dan memahami semua potensi diri. Tentu kita tidak akan mengharapkan orang lain mengenali diri dan kekuatan kita sementara kita sendiri belum paham.
  2. Kenali siapa teman-teman dan lingkunganmu: Apakah saya senantiasa bersama teman-teman yang menikmati gossip saat bertemu, atau saya selalu bersama teman-teman yang senang dengan cerita-cerita positif membangun? Apakah group WA saya sukanya menyebar kebencian dan kata-kata kasar atau suka membagi berbagai kisa inspiratif untuk belajar?
  3. Bila sudah tahu siapa dirimu, siapa teman-temanmu, apa lingkunganmu: Apa yang akan Anda lakukan dengan semua itu?
  4. Selanjutnya tunjukan siapa diri anda, melalui tutur kata dan juga perbuatan sehari-hari. Sharing melalui social media pun hendaknya menggambarkan siapa diri Anda. Ingat sekali lagi, bahwa perbuatan lebih ampuh mengirim pesan tentang diri Anda, lebih dari hanya sekedar kata-kata.

Foto bersama Pak Legowo, seorang Pemimpin yang humble, yang kehadirannya mendemonstrasikan interest dan kepedulian tentang pengembangan karyawan.

11 Juli 2018_Pilihan di Tangan Anda3

Menatap Masa Depan

“Saya orangnya cerewet,” ujar seorang peserta dengan jujur, apakah saya harus membuat diri menjadi lebih calm, dalam proses self-branding?

Yang menarik, saat pernyataan diucapkan, “saya orangnya cerewet” tak sadar saya mendengar celetukan spontan “Emang”, dari deretan peserta lainnya. Ini memperlihatkan bahwa label cerewet saat itu sudah melekat pada dirinya, dan itulah reaksi spontan teman-temannya bila kita menyebut namanya.

Tanggapan saya:

  1. Adalah hal yang positif, bahwa kita tidak saja mengenali kekuatan diri, tapi juga kekurangan diri. Ini yang diperlihatkan penanya. Selanjutnya, bagaimana mengambil langkah untuk mengurangi kebiasaan itu, dengan merujuk kepada tips nomer satu, menjadi seorang leader yang handal yang saya bagi: “mampu mengelola emosi”. Bila perlu minta teman-teman untuk membantu memberikan feed-back berkala.
  2. Bila kebiasaan itu dimaknai sebagai mendominasi pembicaraan, maka yang perlu dipahami adalah seorang pemimpin yang handal mempunyai listening skill yang baik. Itu berarti memberikan kesempatan kepada orang lain berbicara, sementara kita menahan diri sambil mendengar. Ini juga berkaitan dengan tips no.5 dan no.6, “mampu mengelola pikiran dan kata-kata”. Label cerewet berkonotasi negatif. Dan negatif yang keluar dari mulut karena isi pikiran kita juga banyak kandungan negatif, yang spontan terlontarkan saat kita bereaksi spontan terhadap suatu kejadian atau tutur lawan bicara. Dengan demikian, saran untuk kawan ini adalah untuk mengasah “listening skill-nya” dengan demikian label lama tersebut diharapkan pelan-pelan akan pudar.
  1. Hal positif yang kita semua belajar dari peristiwa ini adalah kesadaran dan pengakuan spontan kawan tersebut, yang sepatutnya kita acungkan jempol. Apa lagi niat baiknya untuk berusaha belajar memperbaiki diri.

Peserta berkesempatan untuk mendapat buku Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku, atau buku kedua, #CURHATSTAF: Seni Mendengarkan bagi Para Pemimpin.

11 Juli 2018_Pilihan di Tangan Anda4

Pilihan di Tangan Anda

Sesi sharingku adalah satu dari beberapa sharing dengan pembicara dari luar, yang panitia pilihkan untuk memberi kesempatan karyawannya dari berbagai lini dan level untuk belajar. Semua booth yang dihadirkan, adalah sebuah langkah positif untuk memberikan rasa aman karyawan yang sebagiannya adalah millennial, bahwa dengan tinggal lebih lama di perusahaan ini, mereka berkesempatan untuk berkarier, bukan saja di divisi yang mereka tempati ini, tapi juga di divisi lainnya.

Saat saya menyiapkan tulisan ini, saya juga melihat berita di sosial media, kalau perusahaan ini menerima Penghargaan sebagai The Best Company to Work for in Asia 2018, untuk tahun ketiga berturut-turut. Congratulation !

Perusahaan sudah dan akan menyajikan berbagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, untuk mempersiapkan masa depan. Sekarang, pilihan ada di tangan masing-masing karyawan, apakah mau memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa lari cepat meraih cita-citanya.

“We all find ourselves in situations that at times seem hopeless. And, we all have the choice to do nothing or take action.” (Catherine Pulsifer)

Selain hadir di blog: http://www.josefbataona.com/

Saya juga bisa ditemui di:

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Tromol. Semoga pemahaman ini akan semakin meningkatkan kerja sama dalam tim. Salam

Tromol:
Semakin paham arti TRUST sesungguhnya yang aplikatif dan thanks pak Josef Bataona atas sharing materi ini....

josef:
Terima kasih Haris. Ikuti terus artikel baru yang akan hadir setiap hari Jumat dan Selasa pagijam 08:00

haris h sidauruk:
kereen om Bataona. Regards Haris H. Sidauruk

josef:
Terima kasih Santi, dengan membiasakan diri mengatur tutur kata terhadap rekan kerja, teman2 di masyarakat...


Recent Post

  • Menyamakan Makna TRUST
  • Komunikasi dan Seni Mendengarkan
  • Pilihan di Tangan Anda
  • Tutur Kata Seorang Pemimpin
  • Bawa Juga Hatimu ke Tempat Kerja
  • Kartini Zaman Now
  • People With Purpose
  • Menularkan Kebaikan
  • Bahagia itu Sederhana
  • Talent Value Proposition