Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik

Posted on April 3rd, 2018

“People do not care how much you know until they know how much you care.” (John C. Maxwell)

KESEMPATAN EMAS. Langsung saya mengatakan IYA, ketika saya diminta untuk membahas buku baru karangan Pendeta Gilbert Lumoindong. Tim mengharapkan agar saya coba memotret buku setebal 600 halaman tersebut menggunakan kacamata keseharian di dunia kerja, perusahaan atau organisasi masyarakat umumnya. Sebuah tantangan menarik, karena ulasan saya harus mampu menjawabi pertanyaan pokok: Mungkinkah isi Buku “33 Ways to lead as Jesus Led” bisa menjawabi kebutuhan akan konsep Leadership kekinian?

3 April 18_Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik1

Isi ulasan ini juga menjadi Kata Pengantar di Buku “33 Ways to Lead as Jesus Led” edisi khusus untuk Peluncuran.

Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik

Pertanyaan penting yang perlu kita kedepankan sebelum bicara tentang peran seseorang adalah: Mengapa seseorang lahir ke dunia ini? Peran apa yang kiranya akan dimainkan oleh seseorang, baik sendiri ataupun bersama dengan yang lain?

Dan pertanyaan tersebut hendaknya dicarikan jawabannya oleh masing-masing kita dalam konteks kontribusi kita dalam masyarakat. Bahkan untuk tugas yang sudah atau sedang dijalankan pun, kita akan terus bertanya pada diri sendiri: Mengapa saya mengerjakan apa yang saya kerjakan sekarang ini?

Bila dengan rendah hati kita berusaha untuk menemukan jawaban tersebut di atas, akan membuat masing-masing kita paham bahwa ada peran yang saya mainkan dan ada yang dimainkan orang lain. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi anggota. Ada yang menggagas, ada yang menindak-lanjuti.

3 April 18_Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik2

Hadirnya Buku “33 Ways to lead as Jesus Led” memberikan dimensi yang berbeda guna melengkapi buku-buku tentang Leadership yang sudah ada. Ada beberapa catatan penting yang ingin saya kedepankan:

  1. Awal Belajar dari Rumah, Bapa dan Ibu: Kita sering mencari jauh di luar kehidupan keseharian kita untuk belajar tentang kehidupan, termasuk belajar tentang leadership. Dihadapan kita sejak kecil, ada tokoh yang memainkan peran leader yang sangat visible, adalah ayah dan ibu kita. Mereka selain mengajarkan kita tentang banyak aspek kebaikan, juga mendemonstrasikan bagaimana mereka memainkan peran sebagai leader. Bila kita jeli, kita akan banyak belajar tentang itu. Dan ini yang sengaja di angkat oleh penulis di bab yang paling awal.
  2. Leaders Creating More Leaders. Leader sejati memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lebih banyak lagi leaders yang berbobot, tanpa takut disaingi. Dia melihat visi jangka panjang tidak akan bisa diselesaikan olehnya sendiri dalam periode di mana dia bertugas. Karena itu dia akan dipacu dengan waktu untuk membuat regenerasi, menciptakan leader-leader baru yang lebih tangguh dari dirinya sendiri. Pada akhirnya, kebahagiaannya adalah pada suksesnya menciptakan pemimpin baru, yang lebih handal dan relevan untuk periode setelah kepemimpinan dia. Dia akan terus membesarkan orang-orang sekitarnya agar mampu menjalankan peran peran masing-masing.
  3. Keteladanan seorang pemimpin. Sang pemimpin sejati sadar sepenuhnya bahwa dia berada dalam ruang kaca yang transparan sehingga semua tindak tanduknya dilihat banyak orang. Dan semua tindak tanduknya akan mengirim pesan pada seluruh timnya dan juga orang lain tentang tata nilai yang dia sendiri anut, yang juga dianut oleh organisasi dan anggotanya. Ini merupakan pembelajaran yang paling ampuh, yaitu mengajarkan melalui contoh nyata. Dan contoh seperti itu sangat menjamin, karena yang dipimpin akan melihat keselarasan dari apa yang dipikirkan, dengan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan, yang semuanya berlandaskan pada pola pikir positif, yaitu demi kebaikan banyak orang.

3 April 18_Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik3

  1. Mampu Memimpin diri sendiri. Sering mereka yang lama berkecimpung sebagai pemimpin, mengalami perubahan dalam berperilaku. Tadinya memikirkan kepentingan banyak orang, berubah menjadi memikirkan diri sendiri. Awalnya bersikap melayani, berubah menjadi tuntutan untuk dilayani. Semula berbicara dengan santun, berubah menjadi berbicara penuh kesombongan dengan nada memerintah, dan banyak lagi. Dan semua ini didemonstrasikan dalam kehidupan sehari-hari, memberikan contoh secara gamblang. Karena itu pertanyaan yang juga relevan, bukan saja berkaitan dengan kemampuan memimpin orang lain, tapi yang lebih utama adalah: Apakah sang pemimpin ini masih mampu memimpin dirinya sendiri?

Buku ini sengaja mengajak kita semua bukan saja untuk belajar cara-cara ampuh untuk memimpin orang lain, tapi juga agar kita mau luangkan waktu untuk refleksi dan bertanya dalam keheningan dan doa: Masihkah saya mampu memimpin diri sendiri? Ini akan membuat kita selalu sadar dan waspada terhadap setiap perubahan, yang hendaknya mengarahkan kita menjadi pemimpin yang lebih baik, apapun tugas dan tanggung jawab yang diemban. Menyadari dan paham akan panggilan hidup masing-masing kita, akan lebih memudahkan kita untuk paham juga bahwa leadership adalah sebuah panggilan untuk melayani, demi lingkungan yang lebih baik, demi Indonesia yang lebih baik dan pada akhirnya demi dunia yang lebih baik.

Belajar yang serius dengan cara ringan penuh sukacita

Kita tidak mau terjebak dalam situasi serius mengikuti isi materi yang memang serius. Menemani Pendeta Gilbert yang membantu peserta memahami lebih jauh isi buku tersebut, saya sendiri mengambil peran mengangkat suasana keseharian di lingkungan kerja di mana isi buku itu akan terasa sangat relevan dan bermanfaat. Sementara itu kang Maman Suherman, asli Makasar yang dikira orang Sunda, menjadi moderator dengan warna santai dan terkadang mengundang gemuruh tawa penuh sukacita. Termasuk didalamnya tentu keempat BooMillennial (Boomers Berjiwa Millennial) berswa foto dipanggung disaksikan gelak ketawa semua peserta.

3 April 18_Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik4

Karena itu, tidak berlebihan pula, kalau di postingan Instagramnya Kang Maman menulis:

“Hari ini kami berLITERASI HATI. Tak cukup dituangkan dalam kata sepanjang apapun. Makin diresapi makin merasuk ke jiwa, karena cintaNya, karena kasihNya.”

Dengan cara seperti itu kami semua percaya bahwa penyerapannya maksimal. Dan harapan kita adalah buku yang diterima semua peserta bisa menjadi pedoman bermanfaat, membuat mereka menjadi pribadi yang berkemampuan sebagai Pemimpin yang handal. Dan tanggung jawab selanjutnya adalah menciptakan lebih banyak lagi pemimpin masa depan yang lebih handal lagi. Semoga Allah Yang Maharahim mengabulkan doa serta memberkati niat baik kami untuk terus menyebarkan kebaikan kepada dunia.

“It is a shame that so many leaders spend their time pondering their rights as leaders instead of their awesome responsibilities as leaders.” (James C. Hunter)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Santi, sering kita yang membuat hal sederhana menjadi kompleks. Bahagia atau tidak ada dalam...

josef:
Terima kasih Bily, mungkin masih banyak lagi cerita seperti itu yg layak ditulis atau di ceritakan untuk...

Santi Sumiyati:
Selamat siang Pak Josef, saya setuju sekali dengan tulisan Bapak bahwa bahagia tidak selalu...

Bily:
Inspiratif, pak. Mirip seperti cerita yang pernah saya dengar. Seorang pekerja tambang mengangkut ratusan kilo...

josef:
Terima kasih Rolin, jadikan kebiasaan “belajar dan berbagi” sebagai menu harian kita.


Recent Post

  • Menularkan Kebaikan
  • Bahagia itu Sederhana
  • Talent Value Proposition
  • Menggali Permata Dalam Dirimu
  • Pengembangan Diri Berkelanjutan
  • Memimpin Demi Dunia Yang Lebih Baik
  • Generasi Harapan Masa Depan
  • Kita Ada Karena Dibutuhkan
  • Inspirasi Sang Master
  • Mereka Percaya Bisa Berubah