Bawa Juga Hatimu ke Tempat Kerja

Posted on May 4th, 2018

“Learn to light a candle in the darkest moments of someone’s life. Be the light that helps others see; it is what gives life its deepest significance.”  (Roy T. Bennett)

MEMANUSIAKAN MANUSIA. Slogan ini sudah saya dengar sejak mulai bekerja di tahun 1980-an. Hal ini dilakukan untuk mencegah jangan sampai pekerja diperlakukan sebagai alat produksi, setara dengan mesin.

Apakah ini hanya berlaku di pabrik saja? Tidak, slogan itu ditujukan juga di lingkungan kerja kantor tanpa mesin agar  karyawannya tidak diperlakukan seperti mesin, tetapi sebagai manusia.

Apakah slogan itu masih relevan untuk disuarakan saat ini? Pertnyaan ini saya sengaja angkat ke permukaan, seiring dengan kecemasan para pihak akan kehadiran robot atau teknologi canggih yang semakin diidolakan.

Harus Bangkitkan Harapan

Dalam WorkHuman Summit di Orlando 2015, Derek Irvine, Vice President, Client Strategy and Consulting at Globoforce,  dengan gamblang mengedepankan: “We brought our brains and bodies to work, but forgot our hearts.

Sementara itu Venture Capitalist, Marc Andreesen mengatakan:

“Software is not only eating the world, but also eating our spirits.”

Sejalan dengan itu, survey Gallup 2013 memberikan konfirmasi akan hal itu:

“Up to 85 percent of workers worldwide are disengaged at work. On average, initial enthusiasm on the job fades after six months. The majority of employees report feeling disconnected from their management team and its vision.”

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab: stress karena teknologi baru, kurang dirasakan makna (meaning) dalam pekerjaan sehari-hari. Akibatnya tingkat kepercayaan terhadap business leader menurun. Namun demikian berita gembiranya adalah sejak itu ada beberapa langkah positif yang diusulkan untuk dijalankan, mencakup tiga area yang bertalian satu sama lain: work-life integration, workplace experience, and purpose.

Work-life Integration: catering to body and soul

Pendekatan ini menyarankan keterkaitan terhadap body dan soul dalam setiap langkah yang ingin diambil. Hidup ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang: kerja, sosial, keluarga, spiritual dan lain-lain. Tapi itu tidak berarti kita harus memandangnya secara berkotak-kotak.

Karena itu, banyak perusahaan mulai menerapkan flexible schedule, telecommuting, different models of leadership development, family-friendly benefits, dan program lainnya yang membantu keterkaitan dunia kerja dan kebutuhan hidup lainnya.

Ada pula yang mulai menciptakan healthy workplaces untuk meningkatkan apa yang disebut the individual wellbeing of employees, misalnya menghadirkan program promoting and rewarding physical exercise, termasuk mental health and happiness. Setiap karyawan mulai diajarkan “mindfulness program” (termasuk meditasi, yoga, and kegiatan spiritual lainnya di tempat kerja),

Purpose: inspired by something greater than yourself

Konsep “wellbeing”, diasosiasikan dengan “good life,” mengekspresikan nilai-nilai tertentu yang ingin dihidupkan di perusahaan tertentu. Tentu saja setiap keputusan bisnis akan berkaitan erat dengan values tertentu yang melekat padanya. Dewasa inipun, banyak perusahaan yang secara gamblang memperkenalkan apa yang mereka sebut dengan social mission melalui berbagai media sosial.

Apalagi kalau nilai-nilai tersebut menggaris-bawahi apa yang disebut Adam Grant (penulis buku Give and Take) dengan konsep “productive generosity,” konsep yang meyakini bahwa perusahaan dengan budaya peduli pada yang lain (giving and low taking) yang akan berjaya. Nilai-nilai tersebut akan menjadi perekat antar karyawan dan menyelaraskan nilai individu karyawan dan nilai yang dianut perusahaan. Pada akhirnya ini akan membantu meningkatkan produktivitas.

Hal ini bisa dipahami, karena organisasi ini berkesempatan untuk menginspirasi karyawan untuk suatu tujuan (purpose) yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mereka bisa menemukan makna hidupnya sendiri dan sekaligus membantu yang lain untuk juga menemukan makna hidup mereka. Dan ini bisa didapatkan karena bekerja dengan perusahaan tertentu, bukan yang lain.

Workplace experience: designing for mystery, delight, and play

Budaya di tempat kerja akan sangat mewarnai pola perilaku dalam bekerja di  perusahaan tersebut, dan juga berpengaruh pada cara kerkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Tempat kerja adalah pentas di mana semua karyawan dan pimpinan beraksi. Karena itu keterlekatan (engagement) dari para pelaku pentas akan sangat menentukan tingkat produktivitas. Di sela-sela kesibukan kerja mereka, tim CHR ini ingin mengunjuk kebolehan, berkompetisi dengan teman-teman divisi lain, dalam menerjemahkan tema “Aku Indonesia”. Mereka tampil all out setelah berlatih dan didukung lainnya, dan mereka bisa mengukir prestasi.

Bawa Juga Hatimu ke Tempat Kerja

Pertanyaan yang perlu terus dikedepankan: Berapa sebetulnya tingkat rutinitas, komfort/kenyamanan tanpa membuat karyawan menjadi bosan. Seberapa perimbangan public dan private, open dan closed; apakah transparency selalu positif dan di mana batasnya? Hal ini penting diangkat ke permukaan, karena jawabannya terletak pada kesungguhan pimpinan untuk menangani ini. Sementara engagement juga membutuhkan bumbu excitement berupa play, surprise, and even mystery.

Gamification adalah hanya sebuah contoh dalam implementasi ini: ada unsur play, ada unsur surprise tapi di sana ada pembelajaran yang mudah dicerna. Di situ juga ada pengalaman mendalam dalam interaksi antar karyawan yang sulit dilupakan.

Tania Luna (yang menyebut dirinya “surprisologist”) mengatakan:

“Surprises make us come alive, they are the source of the “wow” moments. Surprises create memorable experiences that shake up our routines and let us fight boredom and view the world through fresh eyes every day.”

Sementara itu, kegiatan seperti ini tentu juga membutuhkan biaya. Teman-teman bisnis tentu akan mempertanyakan, apakah ada ROI yang diperoleh perusahaan untuk aktivitas semacam itu?. Jawabannya adalah: The ROI is not more money. It is MEANING!

Source: http://timleberecht.com/article/what-it-really-means-to-humanize-work/

“Work gives you meaning and purpose and life is empty without it.” (Stephen Hawking)

Selain hadir di blog: https://www.josefbataona.com/

Saya juga bisa ditemui di:

Bookmark and Share

4 Responses to Bawa Juga Hatimu ke Tempat Kerja

  1. Sangat menginspirasi. Institusi yang sungguh menjadi keluarga bagi para anggota, akan membuat anggota betah dan memberi yang terbaik. Kata mentor saya, John C. Maxwell, “People quit people not companies.” Alasan terbesar orang keluar kerja adalah ketidakcocokan dgn pemimpinnya. Tks Pa Josef. Tuhan memberkati selalu.

    • josef josef says:

      Terima kasih Paulus, langkah kecil yang bisa dilakukan adalah dimulai dari lingkungan kecil dimana kita berkesempatan sebagai pemimpin. Semoga kebiasaan itu bisa terbawa dalam perjalanan hidup selanjutnya.

  2. roma says:

    Love the book “Give and Take” yang ditulis Adam Grant — memang ini saatnya kita musti budayakan think of others di tempat kerja…jadi musti flip the script dari “ME” to “WE”. Dengan begini tiap orang akan punya kesempatan to align purpose with the greater good

    • josef josef says:

      Terima kasih Roma, bila itu dilakukan, maka lingkungan kerja akan sangat kondusif, semua saling mendukung, produktivitas bisa ditingkatkan, karyawan akan termotivasi dan akan terus tinggal di perushaannya. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Sutjipto untuk menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya kita menyadari pentingnya...

josef:
Terima kasih Sutjipto, semua itu perlu prsiapan, termasuk persiapan mental untuk memasuki dunia yang boleh...

josef:
Terima kasih Koekoeh, inilah maknanya berbagi siapa tahu ada yang bisa dimanfaatkan oleh teman lainnya. Yang...

Sutjipto Budiman:
Sangat setuju, kalau kita tidak sehat bagaimana mau produktif. Kalau pun sudah punya uang, uang itu...

Sutjipto Budiman:
Selamat menjalani kehidupan baru Pak. Sangat berkesan dan memberi pelajaran bahwa Bapak...


Recent Post

  • Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
  • Setelah Baju Itu Kutanggalkan
  • KESEHATAN: Harta Tak Ternilai
  • Perhatian Kecil Berdampak Besar
  • Kesan Positif Yang Ditinggalkan
  • Bahagia di Tengah Harmoni
  • Keberagaman Talent Ciptakan Sukses
  • Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita
  • Bangga dengan Pekerjaanku
  • Saatnya Mengisi Baterei