Orang Penting yang Sering Diabaikan

Posted on July 30th, 2013

“Leaders touch a heart before they ask for a hand.”(John C. Maxwell)

DALAM PEMAPARAN ORGANISASI, ataupun dalam pembagian tugas-tugas, saya belum pernah mendapatkan pembagian berdasarkan penting atau tidak pentingnya job. Bahkan dalam pemetaan job berdasarkan hirarki, tidak disebutkan bahwa hirarki yang lebih tinggi, lebih penting dibandingkan hirarki yang lebih rendah. Kalau memang demikian, layakkah seseorang merasa bahwa dirinya, pekerjaannya, atau divisinyalebih penting dibandingkan yang lain??

Fokus Bisnis Sering Disalah-pahami

Ketika saya mulai bekerja ditahun 1980-an, kami diberitahu bahwa perusahaan tempat kami bekerja adalah “Marketing Oriented Company.”Ini membuat mereka yang bekerja di bagian Marketing merasa penting. Sampai disini memang tidak salah, karena fokus bisnis adalah di marketing. Tetapi akan menjadi berlebihan, kalau orang marketing sudah mulai merasa LEBIH penting dibandingkan dengan teman-temannya di divisi lain.

Sepuluh tahun berikutnya, 1990-an, kelompok Finance seperti mendapat angin. Divisi Finance menciptakan kehadiran mereka di semua penjuru perusahaan. Saking pentingnya, mereka menempatkan akuntan di berbagai unit, sampai-samapi kami harus punya yang namanya HR Accountant.  Memang fokus bisnis ini membuat penekanan prioritas pada fungsi tertentu, tapi tidak ada statemen explisit bahwa mereka yang bekerja di fungsi ini Lebih Penting dibandingkan dengan unsur bisnis yang lain. Tapi tidak bisa dipungkiri, perilaku pemangku jabatan di unit-unit tersebut sering berlebihan sesuai interpretasi sempit yang mereka buat sendiri.

Staff Pantry

Secara bercanda, kita sering berkata, “Kalau seorang manager cuti seminggu, semuanya masih berjalan lancar. Bayangkan kalau staff pantry kita cuti seminggu, apa yang bakal terjadi??

Setiap pagi, Tabah secara rutin dan disiplin mengantarkan secangkir kopi panas. Dengan tetap tersenyum, dia meletakkan cangkir kopi sambil berkata;

“Kopi susunya Pak!”

…dan sayapun menyambutnya dengan ucapan terima kasih. Setelah makan siang, ritual yang samapun terjadi, Sukadi membawa secangkir kopi tubruk, meletakkannya di meja, dan dengan tersenyum berkata;

“Silahkan kopinya, Pak!”

Pentingkah pekerjaan mereka?? Dalam sebuah obrolan santai di suatu siang, pertanyaan itu sengaja saya ajukan kepada mereka. Dengan merendah, mereka menanggapi pertanyaan saya;

“Kami bersyukur bahwa kami dibutuhkan disini. Pekerjaan kami  penting, karena semua pekerjaan berhubungan. Misalnya, kalau kami diminta mengantar surat dengan tanda Confidential/Penting, akan masalah kalau telat nyampe atau tidak nyampe.“

Ini adalah ungkapan rendah hati sekaligus sederhana, tapi penuh makna. Bahkan ketika saya berikan pertanyaan yang lebih tegas;

“Apakah merasa kecewa kalau ada teman-teman disini lupa mengucapkan terima kasih ketika kalian memberikan pelayanan?”

Jawaban Sukadi,  sungguh menyejukkan:

Nggak lah pak, karena itu adalah tugas kami, dan kami harus mengerjakan sebaik mungkin. Ada atau tidak ada ucapan terima kasih, kami akan terus bekerja, tidak pengaruh.

Dan saya sungguh yakin, bahwa jawaban atas pertanyaan diatas, bukan karena saya yang menanyakan, tapi memang terlontar dari hati mereka, dari pemikiran sederhana mereka, dari ketulusan mereka dalam bekerja.

Seberapa Perhatian Kita pada Orang-orangSeperti Itu??

Walau mereka akan terus bekerja, dengan ada atau tidak ada ucapan terima kasih, namun kita, semua karyawan lainnya yang mendapatkan pelayanan dari mereka, pasti merasa bersyukur karena kehadiran mereka. Dan syukur itu bukan saja karena secara fisik mereka melayani kita dengan secangkir teh atau kopi, tapi lebih dari itu. Karena ketika saya tanyakan apa dan saat mana yang membuat mereka merasa bahagia;

“Pada saat melayani karyawan di bagian yang menjadi tanggung-jawab kami. Kami merasa sebagai anggota keluarga, dan kami melayani sebagai bagian dari keluarga ini.

Menurut saya ada ketulusan pelayanan yang tidak terucap, tapi begitu kuatnya untuk mereka bagikan dalam bentuk gelombang positif yang hadir bersama secangkir teh atau kopi, dan mungkin itu membuat teh atau kopinya terasa lebih nikmat. Perasaan sebagai anggota keluarga, mereka tunjukkan ketika diajak berpartisipasi  dalam berbagai acara.

Sebut saja: ikut stretching rutin dua kali sehari, dan terakhir yang membuat mereka tambah gembira, ketika mereka diminta untuk tampil memimpin stretching, berdiri di depan  menuntun kami semua untuk acara yang membuat kita tetap sehat.

Bukan saja mereka merasa sebagai anggota keluarga, tapi dengan peran seperti diatas, mereka juga menangkap signal bahwa mereka juga diberi peran untuk partisipasi sebagai anggota keluarga, diluar tugas rutin sehari-hari, terutama dalam usaha kami bersama untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan kami semua.

Mereka Juga Punya Cita-cita

Tabah yang masih bujangan dan baru bekerja 8 bulan, dengan lancar mengedepankan harapannya: “Cepat menikah dan membuat ibu saya senang selagi saya bisa.

Sementara itu Sukadi yang sudah bekerja 25 tahun, punya 4 anak (tertua 21 tahun dan terkecil 2 tahun) berharap agar anak-anaknya bisa sekolah dan maju serta punya penghasilan sehingga bisa membantu orang tua kalau dirinya sudahtidak mampu bekerja lagi.

Ketika saya menggoda mereka dengan pertanyaan: “Apa yang membuat mereka tersenyum pagi ini, jawaban polos mereka tidak beda dengan karyawan lainnya?

“Senyum pagi ini karena bisa bercanda dengan ibu sebelum berangkat kerja.” (Tabah)

“Anak-anakku dengan manja minta uang jajan buat di sekolah, walaupun tidak banyak, tapi saya masih bisa membagi mereka, dan mereka gembira sekali. Itu yang membuat saya senang dan tersenyum.” (Sukadi)

Dua komentar terakhir ini memberikan saya pelajaran teramat penting untuk terus menyadari bahwa mereka adalah manusia seperti kita semua ini, yang punya cita-cita, punya harapan. Dan mereka hadir di Perusahaan kita dengan fungsi yang juga penting sama seperti fungsi lainnya di organisasi ini. Namun terkadang kita tidak menganggap tugas mereka penting, bahkan mengabaikan pekerjaan mereka, sehingga akhirnya kitapun lupa bersyukur bahwa tugas mereka adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tugas-tugas lainnya di perusahaan ini.

Atas nama teman-teman di Divisi CHR, saya mengucapkan terima kasih dan dalam rangka Hari Raya Lebaran, tidak lupa kami ucapkan: “Mohon Maaf Lahir dan Batin.

“I admire men of character, and I judge character not by how men deal with their superiors, but mostly how they deal with their subordinates, and that, to me, is where you find out what the character of a man is” (Gen. H. Norman Schwartzkorpf)

Bookmark and Share

24 Responses to Orang Penting yang Sering Diabaikan

  1. hanny says:

    Touching Pak. Satu pesan yang saya tangkap pagi ini adalah be grateful.

    • josef josef says:

      Terima kasih Hanny, semakin kita bersyukur, hati kita semakin tenang dan damai. Salah satu bentuk syukur adalah dengan menghargai orang lain yang mungkin punya peran beda, tapi sama2 saling membutuhkan

  2. Victor says:

    Terima kasih pak. Melalui kisah bapak ini, saya diingatkan untuk peduli pada orang – orang di sekitar saya. Btw, izin share ya pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Victor. Silahkan share dengan orang2 yang mau belajar dan bisa mengambil manfaat dari tulisan ini dan tulisan lainnya di blog ini.

  3. Stefanus Edo Prasetya says:

    Thank you Mas Tabah, Pak Kadi dan Pak Hanny.
    Terima kasih banyak Mbak Evie, Neng Sondra, Mba Kiki, Mba Putri
    Thx 4 all your support 🙂

  4. Wilvan says:

    Love this article

  5. devi says:

    Org penting hari ini sungguh banyak disekitar kehidupan kita, terkadang kita lupa bahwa yg penting itu adalah yg berkuasa, berharta, berilmu tinggi, dll. Tulisan bpk hari ini sebenarnya sesuatu yg sederhana dan gampang tp itu yg sering terlupakan. Saya tersadarkan lagi bahwa sd kita semua bisa melakukan aktivitas dan mencapai hasil yg diinginkan tidak terlepas dari peran org disekitar kita. Terima kasih Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi, kita perlu saling mengingatkan tidak hanya sekali, tapi sesering diperlukan. Dari sana kita disadarkan, kita belajar, kita berubah…. !

  6. alit Kuswara says:

    Menghargai dan menghormati orang lain berarti kita telah menabung sebuah bangunan kepribadian dengan sendirinya, subhanalloh, terima kasih pak Josep artikelnya bagus sekali I like it

    • josef josef says:

      Terima kasih Alit, dan setuju sekali dengan analogi tabungannya. Simak juga berbagai artikel di blog ini, sekitar 180 artikel, dan posting2 mendatang

  7. Darwin F. Manao says:

    Pencerahan yg sangat bagus sekali Pak…inilah yg sering terjadi di dalam perusahaan, divisi/departemen tertentu merasa yg paling dibutuhkan, merasa sebagai ujung tombak…izin share ya Pak, God Bless you.

    • josef josef says:

      Terima kasih Darwin, kenyataan memang sudah ada disana, jangan sampai kita sendiri yang melakukannya. Silahkan kalau mau share sama teman2

  8. irvan lesmana says:

    nice share pak josef,,

    terkadang dan sering kali memang kita sering lupa dan ageng diri untuk menyatakan kitalah yang terpenting..

    disinilah bagaimana kita belajar untuk

    “memanusiakan Manusia secara manusiawi”

    🙂

  9. Delvi Avriani says:

    Sebagai seorang staff atau pemimpin sekalipun harusnya wajib mengamalkan ini ya pak, agar tidak terpaku selalu bekerja di balik meja saja, tetapi harus terjun langsung menyentuh mereka (OB, security, messenger) yang kadang ‘tidak terlihat’ tapi sesungguhnya nampak jelas. Terima kasih ilmunya ya Pak 🙂

  10. danu aryanto says:

    Tks telah diingatkan kembali mengenai hal yg kecil namun berdampak besar, kita sering lupa hal kecil krn kita sering menganggapnya sepele

  11. danu aryanto says:

    Tks telah diingatkan kembali utk hal yg kecil namun berdampak besar, kita sering lupa utk hal-hal yg kecil krn kita menganggapnya biasa, padahal makna sangatlah besar, pelajaran kecil yg dapat membuat kita lebih dihargai oleh orang lain

    • josef josef says:

      Terima kasih Danu, di sekitar kita, setiap hari ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Tapi kita abaikan, karena kita tidak membuka diri untuk belajar, termasuk belajar untuk menghargai orang lain. Mari kita saling belajar

  12. Rangga says:

    Dear Pak Josef, saya paling senang mengkiyaskan fungsi dlm suatu organisasi dg 11 orang dlm team sepakbola, 11 orang dg tugas dan tanggungjawab yg berbeda demi 1 tujuan, membuat goal. Goalkeeper, centre back, wing back, central midfielder, left midfielder, dll hingga central striker, semua posisi sama pentingnya. Meski seorang striker mencatatkan namanya di papan skor dg mencetak goal, namun goalnya menjadi tidak berarti ketika central back dan goalkeepernya kebobolan goal lebih banyak. Jadi saya sepakat bahwa setiap tugas dan posisi dalam suatu organisasi itu sama pentingnya.

    Dan terkait tugas dan fungsi office boy di kantor, saya mengumpamakan seperti tugas dan fungsi anak gawang (ball boy) dlm pertandingan sepakbola. Tanpa anak gawang, mungkin setiap pemain akan kelelahan mengejar dan mencari bola yg keluar lapangan, dan karenanya bukan tdk mungkin pertandingannya menjadi molor lebih dari 2 x 45 menit 🙂

    Thanks & regards,
    Rangga

    • josef josef says:

      Terima kasih Rangga, perumpamaan yang bagus. Beginilah caranya kita saling mengingatkan, agar dalam kehidupan sehari2, dalam interaksi dengan orang lain, siapapun dia dan apapun pekerjaan/jabatannya, kita akan tetap menghargai sebagai manusia yang sederajat dengan kita. Sekali lagi terima kasih atas ulasannya.

Leave a Reply to Stefanus Edo Prasetya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam

josef:
Terima kasih Tromol, belajar hendaknya menjadi menu harian kita, termasuk belajar menjadi Leader yang handal....

Riski Saputra:
wahhh terimakasih pak atas sharingnya 🙂


Recent Post

  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan
  • Peluang ke Jenjang Lebih Tinggi
  • Bermanfaat Bagi Orang Lain
  • Komitmen Belajar dan Berbagi