Pertanyaan yang Menginspirasi

Posted on November 8th, 2016

“It’s not hard to make decisions when you know what your values are.” (Roy Disney)

YANG TERPENTING DALAM HIDUP. Mudah-mudahan kita sudah sempatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang paling berharga dalam hidup ini? Kesempatan itu hanya akan muncul kalau kita lungkan waktu untuk itu.

Bukan sekali, tidak pula dua kali, tapi berkali-kali. Jawabannya pun mungkin tidak sama. Setiap tahap kehidupan akan memberikan jawaban berbeda.

Saat kecil mungkin sebuah sepeda dianggap yang paling bernilai di mata anak itu. Begitu mendapatkan hadiah sebuah arloji di ulang tahun ke-17, dia menganggap inilah barang yang paling berharga, penuh kenangan manis.

Dan daftar ini bisa kita perpanjang dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ditemukan sepanjang perjalanan hidup ini. Foto bersama Prof George Kohlrieser.

pertanyaan-yang-menginspirasi

Drama Penyanderaan

Cerita Prof George Kohlrieser begitu berapi-api, seakan menghadirkan suasana nyata, saat dia yang baru lulus kuliah, pergi bersama seorang letnan polisi menuju rumah sakit. Di sana seorang pasien, Sam,  sedang menyandera perawat dengan sebuah gunting diarahkan di lehernya.

Saya pun menyimak cerita yang dipaparkan sendiri oleh George, dengan penuh semangat, tidak ingin melewatkan sedetik pun momen itu. Dengan keyakinan bahwa masih banyak senior dan spesialist yang hadir, tidak terlintas di pikiran George bahwa dia akan mendapat tugas penting itu, sampai suara letnan terdengar pasti menawarkan tugas negosiasi:

“George, how would you like to do it?” yang langsung dijawab: “Sure, why not.”

Memasuki ruang penyanderaan, George memulai dialog dengan:

 “What do you need, Sam? What do you want?”

Sam mulai berteriak sambil menggores leher perawat dengan gunting:

“I’m going to kill you and everybody I can.”

Setelah beberapa pertanyaan tidak digubris Sam, George mendekat, memandang langsung di mata Sam, dan langsung menawarkan sesuatu yang penting:

“What about your children, Sam?”

“Don’t talk about my children, bring them here and I will kill them too,” teriak Sam.

Walau ini bukan jawaban yang diharapkan George, tapi ini tanda positif, karena ada jawaban dan bisa membuka peluang berikutnya. Muncullah pertanyaan berikut dari George:

“Do you want them to remember you as a murder?”

Hening sejenak, tapi ini sudah memberikan signal positif untuk George melanjutkan pertanyaannya:

“We have to talk about your kids. How do you want them to remember you?”

Pertanyaan ini sudah mulai membangun jembatan TRUST dengan Sam, yang mulai merasa nyaman untuk meneruskan dialog dengan George, sampai akhirnya George bertanya:

“Do you still need the scissors? Would you throw them on the floor or hand them to me?”

Begitu diberikan opsi, Sam menyodorkan gunting kepada George, sebuah pertanda bahwa Sam sudah cukup mempercayai George untuk menyerahkan senjatanya.

Singkat cerita, begitu Sam diserahkan kepada Polisi di luar ruangan, dia berkata:

“George, you’re all right, I am glad I didn’t kill you.”

Dan George pun menimpali:

“Me too, Sam.”

Kemudian Sam dengan tulus berterima kasih kepada George yang bertanya, untuk apa anda berterima kasih. Sam menjawab:

“For reminding me how important my children are to me.”

Terkadang nilai terpenting dalam diri kita, tertanam dalam, tersembunyi sedemikian rupa sehingga tidak kita sadari, tidak kita rasakan. Bagi Sam, cintanya pada anak merupakan sebuah nilai yang teramat penting, dan tidak bisa tergantikan dengan apa saja.

Dan nilai itu tidak akan begitu saja berubah, hanya karena dia sudah menjadi penyandera yang nyaris membunuh orang lain. Menyentuh value penting ini, sudah bisa membuka peluang bagi yang diajak bicara untuk menemukan sebuah solusi penting dalam kehidupan ini.

Trust dan Inspirasi

Setelah situasi redah, penuh penasaran George bertanya kepada Dan, sang letnan:

“How dare you send me into that room! I could have been killed!”

Tapi Dan menjawab:

“But, George, you were the right person. I’ve been watching you and I knew you were ready to deal with a situation like this. I knew you could do it.”

Kalimat terakhir, “I knew you could do it’ adalah kata-kata yang sangat menginspirasi George. Di sana terkandung pengakuan atas kemampuannya walau masih belia. Dan yang terpenting adalah siratan TRUST bahwa George punya potensi, dia bisa. Dan saat itu George juga merasakan, bahwa dia tidak diperlakukan sebagai junior, tapi sebagai seorang professional yang dianggap mampu menyelesaikan misi penting tersebut.

Kekuatan sebuah Pertanyaan

George memasuki arena penyanderaan dengan sebuah pertanyaan: “What do you want!

Fokus di sini adalah YOU, seakan mengatakan saya di sini untuk membantu, memfasilitasi. Ketika berbagai upaya dilakukan belum juga membuahkan hasil, George menciptakan pertanyaan yang menggugah MAKNA hidup yang paling dalam:

“We have to talk about your kids. How do you want them to remember you?”

Pertanyaan ini langsung membawa Sam untuk dalam sekejap menggali hal yang terpenting dalam hidup ini, nilai kekeluargaan, cintanya pada anak.

Senjata George hanyalah pertanyaan, tapi pertanyaan yang jitu.

Dalam lingkungan kerja atau kehidupan sehari-hari, kita juga berhadapan dengan mereka yang tersandera oleh perilaku atau pikiran yang menghambat mereka untuk menemukan berbagai solusi yang dicari. Peran Coach yang senantiasa mengajukan pertanyaan provokatif sering membuat coachee membuka sendiri pintu dan menemukan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Coachee tidak diberitahu tentang solusinya, tapi menemukan sendiri.

Andaikan peran ini, COACH, bisa lebih banyak dimainkan oleh para leaders, maka timnya akan dibiasakan untuk berpikir kreatif mencari solusi dari berbagai situasi sulit yang dihadapi. Leaders akan bertanya dan membebaskan anak buahnya untuk leluasa bereksperimen, berkreasi untuk menemukan sendiri berbagai jawaban yang dicari.

Andaikan….. setiap leaders memperlakukan timnya dengan dasar kepercayaan, maka kata-kata yang didengar George: “I knew you can do it” akan terasa seperti musik yang nyaring, yang menggugah motivasi, sehingga karyawan akan memutuskan untuk tinggal dan berkarya lebih lama di perusahaannya.

“Most people struggle with life balance simply because they haven’t paid the price to decide what is really important to them.” (Stephen Covey)

Bookmark and Share

6 Responses to Pertanyaan yang Menginspirasi

  1. Tini Moeis says:

    Dear Pak Josef yang budiman,
    Bapak selalu dapat mengangkat esensi mendalam dari setiap peristiwa, termasuk dari buku dan paparan Prof Kohlrieser 2 minggu lalu. Sepakat sekali salah satu tugas utama seorang leader adalah membangun trust dan confidence pada tim yang menimbulkan enerji positif yang luar biasa. Semoga kita dapat terus memberi dan membangun trust dan confidence pada masyarakat dan bangsa kita di tengah dinamika yang sedang sangat intens. Kalau bukan kita sendiri yang memberikan trust, siapa lagi ya Pak.
    Salam hormat

    • josef josef says:

      Terima kasih bu Tini untuk waktunya yang berharga yg diluangkan untuk mengunjungi dan menyimak kisah di blog ini. Setuju, semuanya berawal dari komitmen kita sendiri, dan langkah yang diambil untuk merealisasikan. Semoga artikel ini bisa menginspirasi lebih banyak orang. Salam

  2. Betul Pak. Apabila atasan mampu berperan sebagai coach dengan optimal bagi para stafnya, dengan didasari kepercayaan, maka menurut saya kreativitas staf dalam mengatasi persoalan yang dihadapinya akan meningkat. Apalagi disertai dengan pola komunikasi yang terbuka diantara kedua pihak ini.

    • josef josef says:

      Terima kasih Mas Novan, mari kita mulai dengan diri kita sendiri, dan hasilnya bisa menjadi contoh untuk yang lain. Semoga kebaikan ini bisa cepat menular. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan