Harapan Akan Kesempatan Baru

Posted on December 7th, 2018

“Can you imagine what a different world we will live in when businesses do what’s right for the communities and the environment in everything they do?” (Richard Branson)

TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Selagi menyimak kembali bahan presentasi untuk siang nanti, muncul berita di portal berita yang mengangkat isu sebuah perusahaan ternama mem-PHK 7.500 karyawan karena beralih jualan online. Screen-shot berita itu saya jadikan slide pertama untuk memprovokasi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pancasila dengan bertanya: “Apa reaksimu saat membaca berita hari ini, sebuah perusahaan ternama mem phk 7.500 karyawan karena beralih jualan online?”

Apa Perlu Membangun Rasa CEMAS?

Industri 4.0 memang sudah di depan mata, atau persisnya sudah hadir di tengah kita. Begitu banyaknya paparan entah melalui tulisan di internet, presentasi di publik ataupun di korporasi, yang terus menerus mengingatkan untuk bahaya yang sedang mengancam yang namanya Digital Disruption, bila kita tidak cukup siap untuk mengantisipasinya.

Mereka tidak salah, bahkan harus diberikan apresiasi dan ucapan terima kasih. Namun pembaca atau peserta yang mendengarkan yang perlu mencermatinya secara BIJAK. Karena umumnya ada balance dalam pemaparan atau berita tersebut

Ada saja organisasi yang sudah siap atau sudah menanggapinya secara cermat. Namun masih ada industri yang berada di tahap yang masih jauh dari memiliki DIGITAL MINDSET. Karena digitalisasi itu bukan saja issue teknologi. Bukan karena punya uang, membeli teknologi kekinian, membeli program yang tercanggih. Yang paling penting adalah, seluruh unsur di organisasi percaya akan pentingnya digitalisasi, membangun DIGITAL MINDSET dari pimpinan dan karyawannya, menciptakan echo-system dalam organisasi untuk bersama memasuki dunia baru ini dan mengambil manfaat maksimal dari digitalisasi untuk pelanggan dan konsumen.

Berikut foto bersama peserta.

Harapan dan Kesempatan Baru

Kembali ke slide saya yang pertama di atas, begitu saya tayangkan, saya sengaja memperhatikan reaksi tubuh dan ekspresi wajah para mahasiswa. Semua hening. Apakah mereka cemas? Komen teman mereka dari pojok kanan depan, Faiz Abdurrahman, mungkin bisa mewakili apa yang ada di kepala mereka:

“Ada memang kecemasan, karena kami baru akan memasuki dunia kerja, sementara banyak berita yang kita dengar mirip seperti itu. Tetapi saya percaya akan ada banyak pula kesempatan kerja yang baru diciptakan. Karena itu masih ada harapan.”

Berbincang dengan Faiz melalui telepon di luar sesi tersebut, dia menyampaikan bahwa dalam diskusi dengan teman-teman, ada kecemasan seperti halnya masyarakat banyak yang menghadapi perubahan menuju Industri 4.0 yang begitu cepat. Namun lama-lama juga bisa diterima masyarakat, karena transformasi ini ternyata juga menciptakan peluang baru, harapan baru.

Berikut foto Faiz (paling kiri) dan teman-temannya yang beruntung menerima hadiah buku dariku, karena aktif bertanya.

Dan mereka sepenuhnya benar. Walau ada penghapusan jenis pekerjaan yang berdampak pada PHK 7.500 karyawan secara global, IKEA juga berencana untuk membuka posisi pekerjaan baru. Reorganisasi itu diprediksi akan menciptakan 11.500 pekerjaan baru karena adanya perluasan format toko kecil dengan konsep baru di seluruh dunia.

Cita-cita di Tengah Ketidak-pastian

Kecemasan itu muncul karena kita belum siap. Menurut Faiz:

“Sikap saya pribadi, sesuai motto hidup bapak, Be Yourself but Better Everyday, terus belajar mempersiapkan diri. Dalam bidang psikologi pun ada profesi baru yang dirintis dosenku, Psikologi Milennial.”

Saat ditanya tentang apa cita-citanya setelah lulus kuliah, Faiz ingin tetap pada passionnya di bidang psikologi dan fokus pada Intervensi Sosial, berkaitan dengan perilaku masyarakat tertentu. Ketika ditanyakan contohnya, dengan bangga dia menceritakan bahwa dia barusan meraih juara II saat  mengikuti lomba kompetisi nasional di UI untuk Design Intervensi Sosial. Faiz mendesign konsep untuk membuat penumpang kereta api mempunyai perilaku yang terpuji, spontan dan tulus memberikan kesempatan duduk bagi orang tua, tanpa harus disuruh.

Konsisten Menjalankan Komitmen

Pertanyaan lain yang diajukan saat tanya jawab,

“Bagaimana agar bisa konsisten menjalankan berbagai komitmen dalam meraih mimpi, sebagaimana halnya bapak konsisten menjalankan berbagai komitmen hidup.”

Tanggapan saja saat itu:

“Komitmen yang saya buat adalah merupakan janji pada diri saya sendiri. Karena itu kalau saya tidak jalankan, maka yang malu adalah saya sendiri. Bila apa yang saya janjikan kepada diri saya sendiri itu baik, maka seharusnya saya juga jalankan. Kemudian saya juga membagi cerita tentang kebaikan itu. Jangan sampai saya membagi kisah itu kepada orang lain, tanpa saya sendiri konsisten menjalankannya.”

Kesiapan untuk Format Bisnis Baru

Sementara itu, seorang peserta lain menanggapi slide berikut ini dengan bertanya, bagaimana bapak menghadapi situasi dengan lebih dari satu atasan. Mana yang dianggap lebih penting.

Saya kemudian mengajak mereka untuk berpikir tentang situasi di dalam keluarga kita sendiri. Kita seakan-akan punya dua orang penting, ayah dan ibu, seakan mereka adalah atasan kita di keluarga. Sebagai anak, kita tidak pernah mempertanyakan mana hubungan kita yang straight line dan mana yang dotted line seperti konsep dalam buku. Mana yang lebih penting, ayah atau ibu. Karena mengenal mereka, kita tahu kapan harus bertemu dengan siapa untuk membahas urusan apa.

Sementara itu, orang tua dewasa inipun sadar bahwa perilaku jaman kolonial sudah tidak akan mempan dalam mendidik anak. Mereka bersedia menjadi teman, berada di tengah anak-anak, berusaha memahami mereka untuk mempermudah dialog. Pelajaran leadership dalam keluarga ini ternyata sangat powerful, namun sering kita abaikan.

Pendekatan seperti itu sangat bermanfaat, apalagi ilmu yang kalian geluti di bidang psikologi juga mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memahami orang lain yang beragam perilaku, agar bisa berkomunikasi secara tepat dengan manusia lain.

Perubahan struktur seperti tergambar di atas umumnya berbarengan dengan perubahan format bisnis, perubahan cara kita bekerja, perubahan mindset, yang semuanya itu seharusnya ditangani secara serius saat memulai perubahan itu. Dengan demikian akan menciptakan kejelasan (CLARITY) tujuan dan juga kejelasan peran masing-masing dan bagaimana synergy antar anggota tim dibangun.

“Arming employees with the tools, know-how, and mindset needed to successfully innovate on a continual basis will be paramount to organizational survival.”  (Kaihan Krippendorff)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

2 Responses to Harapan Akan Kesempatan Baru

  1. Faiz says:

    Terima kasih bapak josef atas sharing ilmunya disruption technology memang perbincangan menarik baik dalam bisnis bahkan politik, semoga sehat selalu ☺️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 bu Nuniek, semangat belajarmu penuh disiplin, dengan rajin membuat rekap setiap hari di FB...

Nuniek Tirta:
Saya sangat beruntung mengikuti kelas ini dan terlebih lagi beruntung karena sekelas dengan Pak Josef....

josef:
Terima kasih sama2 Faiz, semoga bermanfaat dan sukses selalu. Salam

Faiz:
Terima kasih bapak josef atas sharing ilmunya disruption technology memang perbincangan menarik baik dalam...

josef:
Terima kasih Indri, Tim mereka selalu menginspirasi untuk siapa saja yang berkunjung kesana. Salam


Recent Post

  • Self Empowerment
  • Forum Network dan Saling Belajar
  • Harapan Akan Kesempatan Baru
  • Blessing in Disruption
  • Valuable Leader Multiplicator
  • Pemimpin Berkarakter Positif
  • Dampak Kata-Kata Positif
  • Enneagram: A Journey of Self-Enlightenment
  • Agar Lulus Meredam Ego
  • Menginspirasi dengan Perilaku Positif