Bangga Dengan Namaku: AGRI

Posted on April 1st, 2016

“I think the foremost quality – there’s no success without it – is really LOVING WHAT YOU DO. If you love it, you do it well, and there’s no success if you don’t do well what you’re working at.” (Malcolm Forbes)

SAYA BARUSAN selesai menanda-tangani Piagam Penghargaan Masa Kerja untuk karyawan Perusahaan kami. Ada yang mencapai 30 tahun, 25 tahun dan 20 tahun. Dari tebalnya tumpukan di foto ini, bisa dibayangkan berapa banyak yang menerimanya. Itupun hanya sebagian yang saya tanda-tangani secara berkala, mencicil, tidak sekaligus. Akankah tumpukan Penghargaan masih setebal itu dalam 15-20 tahun mendatang?

foto1_namaku agri

Kebanggaan Anak Cucu

Lama masa kerja tersebut bisa mengindikasikan kecintaan mereka pada pekerjaan mereka dan pada perusahaan. Kecintaan karyawan tidak hanya dirasakan, tapi juga diceritakan pada keluarga, teman atau siapa saja yang merka anggap layak mendengarkannya.

Usai sebuah seminar publik, saya didatangi seorang peserta yang memperkenalkan diri dengan nama Ayu Mukti. Baru saja tangannya dilepas dia berujar:

“Ayah saya bekerja dan pension dari Indofood.”

Di sore harinya dia masih posting foto berdua di Instagram dengan caption:

“..biaya sekolah saya dari kecil sampai besar dari Indofood. Saya bangga sekarang jadi HR junior dan bisa menimba ilmu sekaligus berfoto ria sama bapak low profile ini.”

Kebanggaan terhadap perusahaan ini, tidak hanya dihayati oleh karyawan, anak mereka pun merasakan ada keterikatan batin dengan keluarga besar di perusahaan di mana ayah mereka bekerja. Ada rasa mensyukuri bisa menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan ini.

Obsesi Terpendam

Lain lagi cerita tentang karyawan dari sebuah perusahaan barang konsumen.

“Saya lulus SMP dan diterima disebuah SMA favorit. Ketika berita gembira itu saya sampaikan pada mamaku, jawabannya, “Bagus dong!” Sebuah tanggapan datar walau masih senyum gembira. Begitu juga ketika saya berhasil diterima di sebuah universitas top di negeri ini, jawaban mama, “Bagus dong, berapa biaya kuliahnya?”

Tetapi ketika saya menyampaikan berita gembira bahwa saya diterima sebagai management trainee di sebuah perusahaan consumer goods, saya langsung dipeluk dan dicium mama dengan penuh sukacita, katanya: “Mama senang karena bisa mendapat pembagian margarine tiap bulan.”

Mama ini bukannya tidak menghargai prestasi anaknya. Bukan juga tidak mampu membeli margarine. Tapi obsesi terpendam yang begitu kuatnya tentang Perusahaan ini, membuat kegembiraannya berlipat ganda mendengar berita ini. Dia bangga bahwa dia punya keterkaitan nanti dengan Perusahaan ini melalui anaknya yang bekerja sebagai karyawan di sana.

AGRI Hadir di Ujung Namaku

Saya barusan ketemu. Tapi namanya sudah menggugah perasaan ingin-tahuku. Akhirnya dia pun bercerita:

“Ibuku kuliah di IPB, ayahku bekerja di Kehutanan. Keinginan mereka tidak terbendungkan, anak-anaknya harus sekolah di IPB. Bukan saja bersekolah di tempat yang diinginkan kedua orang tuaku, saya dan adikku juga diberi nama yang menurut mereka bagus: Nama saya Michelia W. AGRI dan adik saya bernama Gamelina (mengambil nama pohon). Adik saya masih bekerja di Kehutanan, sementara saya sendiri sempat berkecimpung di pekerjaan yang bertalian dengan bidang studi, di salah satu perusahaan consumer goods, namun sekarang saya mencoba dunia lain, Perbankan.”

Kedua orang tua ini sangat mencintai perguruan tinggi tempat mereka menimbah ilmu. Mereka bangga menjadi lulusannya. Dan merekapun berupaya agar anak-anak mereka juga bisa mengenyam kebanggaan dengan menimbah ilmu di sana.

foto2_namaku agri

(Foto: Michelia W. AGRI)

Kembali ke pertanyaan di awal. Menyimak perkembangan situasi akhir-akhir ini, apalagi bila dikaitkan dengan karakteristik Gen Y yang antara lain tidak betah berlama-lama di satu pekerjaan yang sama: “Apakah tumpukan piagam penghargaan masa kerja panjang masih setebal itu dalam kurun waktu 15-20 tahun mendatang?”

Baik di seminar publik atau di kelompok lain yang saya tanyakan, umumnya mereka menyatakan tidak yakin. Tetapi saya sendiri sangat YAKIN bahwa jawabannya masih YA. Bila Perusahaan terus beradaptasi dengan berbagai perubahan dan terus mengasah kepekaannya dalam menanggapi berbagai perkembangan zaman, bila para pimpinan terus membuka diri untuk menanggapi berbagai perubahan secara positif, maka keyakinan saya tersebut akan menjadi kenyataan. Karyawan yang tinggal lebih lama karena mencintai pekerjaannya pun masih banyak jumlahnya.

“Never continue in a job you don’t enjoy. If you’re happy in what you’re doing, you’ll like yourself, you’ll have inner peace. And if you have that, along with physical health, you will have had more success than you could possibly have imagined.” (Johnny Carson)

Catatan: Karena kepadatan aktivitas di luar kota sepanjang minggu depan, maka tidak akan ada posting artikel baru di Selasa 5 April 2016 dan Jum’at 8 April 2016.

Bookmark and Share

2 Responses to Bangga Dengan Namaku: AGRI

  1. bambang eko p says:

    Salam sejahtera pak
    pasion dan kecintaan akan suatu perusahaan akan tercipta dari suasana dan dukungan dari perusahaan bagimana me”maunisiakan” karyawan. dan adanya support dari pihak manajemen dan atasan yang menciptakan pasion.
    mohon dikoreksi jika salah
    salam
    BEP

    • josef josef says:

      Terima kasih Bambang, saya hanya koreksi tulisannya saja “memanusiakan” karyawan. Sedikit tambahan dari saya, langkah proaktif karyawan juga diperlukan. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET