Fully Engaged Tapi Frustrasi

Posted on February 1st, 2019

“Connect the dots between individual roles and the goals of the organization. When people see that connection, they get a lot of energy out of work. They feel the importance, dignity, and meaning in their job.” (Ken Blanchard)

BUKU LAMA. Tapi sepertinya menarik perhatian saya, saat melihat-lihat kembali buku-buku yang ada di lemari buku di rumah. Judulnya: The Enemy of Engagement, Put an end to work place frustration, and get the most from your employees, karangan Mark Royal and Tom Agnew, terbitan Hay Group 2012. Rasanya klik begitu membaca kembali, karena apa yang terjadi yang diceritakan di buku ini sering ditanyakan peserta seminar saat saya menjadi pembicara.

Komentar di sosmed
Sambil membaca buku tersebut, saya tergoda untuk membuat posting di sosmed dan reaksi teman-teman sudah bisa diduga, antara lain

• sounds familiar, sepertinya pernah dengar, di perusahaan mana ya? Luv that “talk” pa… similar, Thanks for the review pak. Sepertinya bagus, karena it does happens in the real life
• Jangan2 yang di “atas”nya belum punya digital mindset, attitude, dan behavior pak. Betul boz JB. Kita nuntut orang engagement. Tapi sebagai atasan ngga mendukung itu terjadi
• True pak. Kita sering hanya focus pada perilaku (leadership behavior) padahal system dan symbol sama pentingnya.

Mereka Benar: 12 Tanda Tangan Approval
Tidak ada yang salah dalam praktek ini, karena sudah berjalan cukup lama. Latar belakang mereka membutuhkan tanda-tangan lebih banyak, umumnya agar bisa melakukan kontrol berlapis. Kalau yang satu lolos, mudah-mudahan yang lain bisa melihat kalau ada yang tidak beres. Atau singkatnya: Lebih dari seorang melakukan kontrol akan lebih aman, dibanding hanya seorang. Pertanyaannya, idealnya berapa banyak, yang disebut lebih dari satu.

Engaged Tapi Frustrasi
Banyak tools yang digunakan untuk mengukur tingkat engagement di perusahaan. Namun dalam wawancara dengan karyawan di sebuah perusahaan dengan hasil survey tentang nilai engagement tinggi dan karyawannya juga fully engaged, karyawan itu itu mengatakan:

“Suka dengan masa depan perusahaan ini, tetapi……..”
Di titik ini nada suaranya merendah, atau ada jedah, lalu kalimat berikutnya sungguh menarik, persisnya sebagai berikut:
“I ‘ve never worked for a better company. I’m excited about our future, but …….
– Everything is urgent
– Make a decision and move on, instead of rehashing old arguments.
– Why does every decision have to go through 12 people?
– And so on…..

Para manager ini committed to the company, aligned with the goals, tapi mereka frustrasi karena berbagai hambatan di lingkungan kerja. Berbagai hambatan ini yang tidak memungkinkan manager ini menggunakan seluruh talenta, atau pengalaman dan kemampuannya di tempat Kerja.
Masih ada contoh lain yang dikedepankan, dimana orang tidak ditempatkan pada posisi sesuai kualifikasinya. Inipun akan menghambat proses kerja sebagai tim, dan mereka yang ingin berlari cepat menjadi frustrasi.

Sudut pandang yang berbeda
Kembali ke contoh 12 tanda tangan, ada beberapa tanggapan yang bisa dikedepankan:

– Kalau ada 12 orang yang dipercaya untuk melakukan kontrol, boleh dibilang orang-orang itu dipercayai 12%
– Bila ada 12 orang tanda-tangan dengan mindset percaya pada yang lainnya, maka boleh jadi mereka hanya tanda-tangan tanpa melihat detail
– Bila 12 orang itu sungguh bertanggung-jawab, mereka akan meneliti detail dokumen itu sebelum tanda-tangan. Hitung sendiri berapa waktu dibutuhkan untuk semuanya, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk dokumen itu berjalan dari satu titik ke titik lainnya.
– Bila ternyata ada yang lolos dan terjadi masalah, siapakah yang akan bertanggung jawab? Tidak mungkin masing-masing bertanggung jawab 12%. Umumnya yang punya posisi tertinggi, atau penanda-tangan ke-12. Sayangnya, masih ada kebiasaan menyalahkan orang lain, sehingga jari ditunjuk pada penanda-tangan sebelumnya.

Buat mereka yang memang menginginkan kerja cepat, efisien dan efektif, tapi tidak bisa berbuat apa-apa dengan situasi ini, tentu mereka akan frustrasi.

Best Practice dan Hari Esok
Saya sering mengedepankan dalam beberapa forum, bahwa yang namanya “Best Practice” itu artinya sejarah, masa lalu, kemarin. Jadi kalau dahulu kala diperlukan 12 tanda tangan, kita perlu melakukan analisa, dengan beberapa pertanyaan sederhana:

– Siapa yang seharusnya berwewenang untuk membubuhkan tanda-tangan persetujuan tersebut?
– Bila masih ada yang perlu menanda-tangani, nilai tambah apa yang diberikan oleh  yang bersangkutan?
– Disamping makna tanda-tangan untuk menyetujui, apa lagi makna atau konsekuensi tanda-tangan tersebut?
– Apakah perlu dibuat panduan tentang lamanya proses menanda-tangani sebagai bagian dari upaya menjaga tingkat pelayanan yang prima?
– Apakah proses approval tersebut, sebagian atau seluruhnya bisa dibuat online?

Dengan menyederhanakan atau mempersingkat proses tersebut, maka selain mempercepat proses, waktu tersisa bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif.

“Employees who believe that management is concerned about them as a whole person, not just an employee – are more productive, more satisfied, more fulfilled. Satisfied employees mean satisfied customers, which leads to profitability.” (Anne Mulcahy)

Catatan: Berhubung Selasa 5 Pebruari 2019 adalah hari libur, maka tidak akan ada posting baru di blog. Posting baru akan hadir kembali hari Jumat 8 Pebruari 2019.

 

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

2 Responses to Fully Engaged Tapi Frustrasi

  1. Ratih says:

    Tidak dipungkiri lagi kalau hambatan dalam proses kerja bisa membuat frustasi, butuh komitmen management untuk mau mendengar dan mendukung perubahan ke arah yang lebih baik. Dan yang tidak kalah pentingnya, butuh peran serta karyawan untuk membuat usulan perbaikan dan juga kemauan dari karyawan lainnya untuk mau berubah.. Terima kasih untuk sharing-nya Pak …

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, dukungan secara proaktif dari semua unsur dalam organisasi memang dibutuhkan. Namun perlu digarisbawahi bahwa peran management sangat menentukan. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih. Semua kita punya kontribusi untuk menciptakan lingkungan untuk tumbuh kembangnya mindset...

Ratih:
Penutupnya keren Pak, “fokus pada solusi”. Hal ini akan mudah diterapkan jika kita punya mindset...

josef:
Terima kasih Ratih, sungguh cantik, hanya terbatasnya ruang untuk penyajian saya di blog. Salam

Ratih:
Cantik sekali ya Pak pemandangannya..

josef:
Terima kasih Tromol untuk waktunya menyimak kisah ini. Banyak momen hadir dihadapan kita, untuk mengingatkan...


Recent Post

  • Kick-off Coaching Program
  • Suasana Penuh Kedamaian
  • Jadikan Pelajaran Berharga
  • Swedia Negara Ribuan Pulau
  • World’s Happy Countries
  • Indahnya Ciptaan Tuhan
  • Meaning dibalik Aktivitas
  • Optimisme Pekerja Mandiri
  • Positive Organization
  • Benih Positif di Taman Kehidupan