Anda Juga Punya Cerita Inspiratif

Posted on July 29th, 2016

“You and I are essentially infinite choice-makers. In every moment of our existence, we are in that field of all possibilities where we have access to an infinity of choices.” (Deepak Chopra)

SERING KITA MEMBACA sharing tokoh-tokoh terkenal tentang perjalanan hidup atau karier mereka. Ribuan bahkan jutaan kisah seperti itu yang bisa ditemukan di buku atau internet. Sering juga mereka diundang untuk sharing secara langsung. Dan umumnya kisah-kisah mereka sangat menginspirasi, menggugah kita untuk melakukan sesuatu, atau juga mengingatkan kita akan hal yang perlu kira kerjakan dalam hidup ini kalau kita mau sukses.

Pertanyaannya adalah: Apakah kita menunggu sukses dulu untuk membuat cerita kita sendiri? Apakah memang kita yang baru memulai karier, belum mempunyai cerita yang menginspirasi seperti orang-orang sukses tersebut? Tiga contoh berikut ini, sekedar menggugah.

Anda Juga Punya Cerita Inspiratif

Sisi HUMAN

Dalam berbagai survey, kita temukan bahwa salah satu faktor yang membuat karyawan termotivasi dan akan tinggal lama di perusahaan adalah “Challenging Work.” Pekerjaan yang menantang, yang selalu menggugah intelektualitasnya untuk menjajagi berbagai pendekatan untuk sebuah hasil yang lebih baik. Tapi apakah yang memotivasi adalah esensi pekerjaan itu sendiri?

Terkadang kita melupakan sisi human dari pekerjaan itu sendiri, sisi human dari hubungan antar karyawan. Bahkan terkadang kita lupa bahwa di balik dokumen yang sedang kita tangani, ada seseorang yang sangat mengharapkan kecepatan dan pelayanan prima. Semua itu merupakan bagian dari challenges dalam berkarya, namun sering luput dari perhatian dalam pengungkapan cerita kita.

Bila kita ingin menyajikan kisah yang menarik, pertanyaannya adalah, apakah kisah yang menarik itu adalah challenging work itu sendiri atau sisi human dalam menanggapi challenging work itu?

Menulis dari Hati

Seorang kawan mengirimkan saya pesan tentang kesulitannya membuat satu saja tulisan. Padahal sejauh yang saya kenal, begitu kita bertemu, banyak cerita yang bisa mengalir begitu saja dari mulutnya, dan kita pun bisa betah duduk berlama-lama mendengarkannya. Pesan di emailnya itu kalau saya singkat: “Sulit memulai, tersendat di tengah dan galau di akhir”

Bayangkan saja, demikian diakuinya, banyak yang sudah ada di kepala saya, tapi mau memilih kalimat pertama saja sulitnya minta ampun. Saya mengirim pesan balik: Tuangkan saja dalam tulisan, seakan kita bertemu dan anda bercerita kepada saya. Boleh sendirian, atau tarik siapa saja yang ada didekatmu lalu anda mulai bercerita.

Kawan ini kemudian mengirimkan dua lembar tulisannya, dengan catatan: “Sampai disini saya mulai tersendat, bahkan mulai galau bagaimana mengakhirinya.”

Saya kemudian mengajukan beberapa pertanyaan untuk membantu dia memoles kisahnya. Setelah beberapa korespondensi, dia pun berhasil menuntaskan tulisannya berjudul: “Semua Orang Punya Mimpi”.

Bahkan dia hampir tidak percaya membaca kembali tulisannya itu. Kok, bisa? Tentu saja bisa! “Sulit memulai, tersendat di tengah dan galau di akhir” yang saya ringkas di atas, sebetulnya hanya ada di kepala teman ini. Begitu dia singkirkan dengan bantuan beberapa pertanyaan dari saya, ternyata bisa. Karena itu saya sedikit memberikan dia 6 (enam) tips tambahan:

  1. Menulis dari Hati
  2. Layaknya sedang bercerita
  3. Biarkan ide mengalir, koreksi belakangan
  4. Berlatih, bukan saja berlatih menulis, tapi mulai dengan mencermati berbagai kejadian sehari-hari, mungkin saja di antaranya ada yang menarik untuk ditulis.
  5. Minta feed-back teman
  6. Belajar menulis dari profesional

Hambatan Imajiner

Teman yang satu ini sedang berkarya di Kalimantan, seorang ibu muda beranak dua. Komitmennya untuk berkarya dan mengurus anak dan rumah tangganya sama-sama tingginya, dan dia ingin lakukan sungguh-sungguh sepenuh hati.

Dalam sebuah kesempatan menghadiri salah satu sesi sharing saya, dia mengakui bahwa mendengar kisah perjuangan hidup saya, seakan dia sedang membaca perjalanan hidup dia sendiri, perjuangan hidupnya sendiri. Sambil meneteskan air mata, dia bertanya bagaimana langkah terbaik untuk memungkinkan dia bisa menapaki semua hidupnya secara berimbang, karya dan keluarga.

Saya menyanggupi untuk membantu tapi saya menginginkan melalui sesi coaching, walau coaching via telepon. Dalam sesi coaching pertama, dia sudah menemukan salah satu tantangan adalah bekerja sampai larut sehingga lebih sering perhatian terhadap anak dan keluarga agar tersampingkan.

Tapi siapa yang menyuruh mereka bekerja sampai larut padahal jam kerjanya sampai jam 17:00? Dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan, dia menemukan bahwa:

  • Tinggal dan bekerja sampai larut adalah karena perasaan tidak enak, takut pada atasan tanpa alasan, karena yang lainnya juga demikian
  • Tidak ada pekerjaan urgen yang harus diselesaikan hari itu juga
  • Atasan juga tidak pernah melarang untuk mereka pulang on time
  • Dia dan teman-temannya belum pernah mencoba untuk pamit pulang on time

Semua alasan di atas hanya karena kekhawatiran yang ada di kepalanya, dan terbawa perasaan solidaritas dengan teman-teman lainnya. Karena ketika bicara dengan kepala bagian, dia sendiri kaget dengan  jawabnya: “ngga apa-apa, kamu yang atur pekerjaan. Yang penting kerjaan beres, SLA beres.”

Kawan ini ingin “Menjadi ibu yang baik dan punya waktu cukup untuk mengajari anak-anaknya.” Akhirnya dia pun mulai membuat komitmen untuk pulang on time, tapi mulai dengan target sekali seminggu. Untuk itu langkah sederhana yang dilakukan adalah:

  • Membicarakan rencana itu dengan suami dan kepala bagiannya untuk mendapatkan dukungan mereka
  • Akan menyelesaikan pekerjaan yang memang harus selesai hari itu sesuai standar pelayanan yang dituntut dari pekerjaannya.
  • Mengupdate kepala bagian tentang progress pekerjaannya, dan mendiskusikan apakah ada lagi yang perlu diselesaikan hari itu sebelum dia pulang.

Dalam update dua bulan kemudian, dengan gembira dia memaparkan bahwa bukan saja sekali seminggu tapi sudah sampai 3-5 kali seminggu dia bisa pulang on time.

Dalam update ketiga, enam bulan kemudian, teman ini mengakui sudah hampir setiap hari dia pulang jam 17:00. Kalau ada yang mendesak harus diselesaikan, paling dia pulang 17:30. Dan yang paling membahagiakan adalah, kata teman ini:

“Saya merasa semakin dekat dengan anak, kemajuannya di sekolah pun sangat bagus.”

Kembali ke kata pembukaan di atas, banyak cerita inspiratif yang kita temukan dari orang lain, melalui berbagai media atau langsung dari yang bersangkutan. Anda pun punya cerita inspiratif tentang pengalaman hidupmu sendiri. Tinggal pertanyaannya adalah bagaimana menyajikannya kepada orang lain yang juga sedang mencari cerita inspiratif. Anda juga punya, dan itu banyak!

“You have to decide what your highest priorities are and have the courage — pleasantly, smilingly, non-apologetically — to say ‘no’ to other things. And the way to do that is by having a bigger ‘yes’ burning inside.” (Stephen Covey)

Bookmark and Share

4 Responses to Anda Juga Punya Cerita Inspiratif

  1. canisius soriton says:

    Terima kasih Pak Josef atas inspirasinya hari ini. Saya termasuk orang yang sukit utk menulus pengalaman saya tp kalau cerita bisa berjam jam.

    • josef josef says:

      Terima kasih pa Canis untuk sharingnya. Saya sendiri juga alami ketika kita kumpul bersama, bisa mendengarkan berjam-jam karena ceritanya menarik. Salam

  2. Terimakasih banyak pak Josef, setelah coaching bersama bapak dan komitmen diri, saya mampu menulis dan yang menyenangkan ketika tulisan saya tembus media online hingga traffic untuk tulisan saya mencapai ribuan dan mendapat feedback dari rekan2 yang membaca bahwa tulisan saya mampu menginspirasi dan bermanfaat. Senang rasanya berbagi y pak apalagi bermanfaat untuk orang lain. Sekali lagi terimakasih banyak bapak semoga bapak sehat selalu 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Herva, saya salut dengan progressmu. Bayangkan sejak Januari sudah menghadirkan 94 postingan di blogmu: mynameera.blogspot.co.id dan paling produktif adalah di bulan Maret dengan 33 postingan. Kita perlu jadualkan untuk coaching berikutnya lagi. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan