Fenomena Halilintar

Posted on August 11th, 2015

“Learning is not the product of teaching. Learning is the product of the activity of learners.” (John Holt)

BELAJARLAH sampai ke Negeri China. Belajar sampai hembusan napas terakhir. Dan masih banyak lagi ungkapan yang kita dengar sehari-hari, yang mendorong kita semua untuk terus belajar, setiap saat.

Seperti pesan dalam kutipan di atas, elemen yang penting dalam belajar, adalah bagaimana orang yang belajar terlibat dalam kegiatan untuk memperdalam pemahaman atas apa yang sedang dipelajari. Selanjutnya membawa pelajaran dalam implementasi di kehidupan sehari-hari. Menarik juga untuk menyimak sebuah fenomena baru yang saya namakan “Fenomena Halilintar”.

Kesebelasan GenHalilintar

Acara Halal Bi Halal di perusahaan kali ini agak unik. Penceramah yang diundang biasanya satu orang, kali ini hadir 13 orang. Panitia pun sudah tahu, kalau yang satu ini, bila diundang, biasanya ke-13 orang tersebut akan hadir bersama. Mereka adalah Bapak Halilintar Anofial Asmid, istrinya Lenggogeni Faruk dan sebelas anaknya. Mungkin ini juga yang menginspirasi mereka untuk memberi nama buku pertamanya dengan judul: “Kesebelasan GENHALILINTAR, My Family My Team”.

Fenomena Halilintar

Saya berasal dari keluarga besar (8 bersaudara), demikian juga istriku. Tapi kami semua dilahirkan 40 sampai 60-an tahun lalu. Zaman sudah berbeda. Saat ini kampanye “Keluarga Kecil Keluarga Bahagia” semakin semarak.

Tapi yang menarik dari keluarga ini bukan saja menyangkut jumlah anggota keluarga, tetapi juga bagaimana kesebelas anak itu dididik dan dibesarkan. Menjadi unik karena untuk mengurus mereka, tidak ada pembantu, tidak ada baby sister.

Setiap anak diberikan peran masing-masing untuk mengurus rumah tangga keluarga besar tersebut, seperti misalnya: House Keeping, Laundry, Cooking, Service and Maintenance, Travel, Photographer/Designer/Writer, dan lain-lain. Semuanya diberikan sejalan dengan pengamatan minat masing-masing anak. Mereka seakan sepakat dengan orang bijak berikut ini:

“I never teach my pupils; I only attempt to provide the conditions in which they can learn.” (Albert Einstein)

“Children have to be educated, but they have also to be left to educate themselves.” (Abbé Dimnet)

Apakah semuanya berjalan lancar dan effektif ? Dalam bukunya tersebut di atas, di bagian awal, dengan jujur disampaikan:

“…Kami belum bisa dikatakan Berjaya dalam berumah-tangga, melainkan kami sedang terus berusaha membenahi diri dan keluarga ini…”

Beri Value Positif

Bila cara mereka membesarkan anak-anak tersebut dijalankan dengan baik dan benar, itu karena ada banyak nilai positif yang sebetulnya sudah mulai dipupuk sejak kecil. Demikian pengakuan Halilintar. Sebut saja: rasa tanggung-jawab/rasa memiliki; kerja sama dalam rasa kekeluargaan.

Ternyata, yang bertanggung jawab untuk mengurus travel keluarga, menemukan ide untuk membuat bisnis travel. Atau penanggung jawab laundry, akhirnya membuat bisnis laundry dan juga butik. Juga sang master chef akhirnya bisa membuka bisnis catering dan restoran. Berpikir creative dan innovative, sudah ada dalam menu mereka di rumah. Dan kreativitas itu yang bahkan mendatangkan uang.

Maka ketika ditanya:

“Kalau kita liburan ke luar negeri dengan keluarga kecil saja, untuk lama seminggu, sudah banyak uang yang dihabiskan. Bagaimana keluarga Halilintar bisa begitu sering pergi keluarga negeri, tiga belas orang dalam periode yang lebih lama, bukankah membutuhkan biaya besar?

Dengan tenang Pak Halilintar menanggapi:

“Kalian jalan-jalan keluar negeri memang untuk menghabiskan uang. Kami jalan-jalan ke luar negeri sambil memasukkan uang. Ketika pergi ke negara lain, kami membawa contoh atau foto produk. Misalnya pakaian. Bila tiba di negara tujuan, promosi produk tersebut laku, selanjutnya tinggal container produk tersebut berangkat dari Indonesia. Atau sebaliknya, kembali dari negara lain, kami membawa contoh produk negara tersebut untuk di jual. Dan sejauh ini hasilnya cukup menggiurkan.”

Mereka telah mengajarkan anak-anaknya untuk berdagang sejak dini. Kalau ada yang masih perlu menunggu waktu lebih lama untuk menunjukkan buktinya, adalah dampak terhadap anak-anaknya yang dididik melalui “Home Schooling” di rumah mereka ditambah dengan jadual travel yang juga cukup banyak: apakah cukup kesempatan sosialisasi anak-anak dengan teman-teman seusia, menikmati dunia bermain layaknya anak-anak atau dunia remaja di lingkungan yang lebih luas!!

Elemen Ketiga

Dalam obrolan santai menjelang acara Halal Bi Halal dimulai, setelah mendengar kisah keluarga tersebut di atas, saya sampaikan bahwa selama ini kami selalu mendorong karyawan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan, melalui program service excellence. Dan kamipun memberikan garis bawah kepada semua leader, bahwa cara mereka memperlakukan karyawan (misalnya penuh caring), akan menjadi contoh yang akan ditiru oleh karyawan sebagai perilaku yang akan mereka demonstrasikan kepada pelanggan.

Dua elemen ini: perilaku terhadap pelanggan dan perilaku terhadap karyawan, akan lengkap, kalau karyawan atau pimpinan juga membawa perilaku positif seperti itu dari rumah. Kalau sifat melayani, penuh kepedulian sudah dipupuk sejak dini di rumah, maka memperkenalkan kedua elemen lainnya tersebut di atas akan lebih mudah.

Mudah-mudahan hadirnya keluarga Halilintar di saat seperti sekarang ini, memberikan kita sebuah dimensi lain dari cara mendidik keluarga. Kita tidak perlu meniru memiliki 11 anak, tapi bisa juga mengintip bagaimana anak-anaknya diberikan peran mandiri sejak kecil, penuh tanggung-jawab dalam suasana kekeluargaan. Tentu saja perekat semuanya ini adalah Cinta Kasih orang tua pada anak-anaknya.

“Too often we give children answers to remember rather than problems to solve.” (Roger Lewin)

Catatan: Berhubung saya akan pulang ke kampung dalam beberapa hari kedepan, tidak akan ada postingan artikel pada tanggal 14, 18 dan 21 Agustus 2015. Artikel baru akan hadir kembali hari Selasa, 25 Agustus.

Bookmark and Share

6 Responses to Fenomena Halilintar

  1. Irene Sandra says:

    Selamat Pagi pak. Terima kasih atas sharing tulisan bapak pagi ini. Hati saya tergelitik oleh salah satu kalimat sebagai pimpinan harus mempunyai sikap melayani dan peduli kepada orang lain/karyawan. Ternyata training pembekalan pertama yang seharusnya diberikan kepada karyawan atau team kita sangat murah dan tidak perlu jauh-jauh. Hal itu yang sering dilupakan oleh para pimpinan. Alangkah nyamannya jika setiap individu mengingat dan mengaplikasikan hal ini. Terima kasih remindernya Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Sandra untuk mengangkat kembali perilaku keseharian yang simple, tapi banyak kit lupakan. Semoga kita tidak jemu-jemunya saling mengingatkan untuk saling melayani, apapun posisi dan jabatan kita.

  2. Irene Sandra says:

    Setuju pak. Selamat bercuti yah pak. Pasti banyak nanti penceraham yamg dishare dari hasil cuti yah pak.

  3. Mawardi says:

    Selamat Siang Pak Josef.

    Salah satu kutipan tulisan Pak Josef adalah… ‘kami selalu mendorong karyawan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan, melalui program service excellence.

    Saya jadi teringat akan sebuah hasil kajian yang sangat menarik adalah apa yang dilakukan oleh ill, Bierly & Mac Dougal (1999) yang menyebutkan bahwa, ada hubungan yang sangat signifikans antara layanan sebuah perusahaan dengan loyalitas pelanggan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa apabila layanan sebuah perusahan, memberikan rasa yang sangat memuaskan bagi konsumen, maka peluangnya sebanyak 95% dia akan menjadi pelanggan yang loyal, sementara apabila layanan tersebut hanya dirasakan memuaskan maka peluang untuk menjadi konsumen yang loyal adalah sebanyak 65%, artinya ada peluang 35% konsumen tersebut akan pindah ke lain perusahaan, sementara apabila layanan tersebut dirasakan kurang memuaskan, maka loyalitas konsumen hanya mencapai 2% dan apabila konsumen merasakan sangat tidak memuaskan atas layanan perusahaan tersebut, mereka tidak akan melakukan transaksi kembali dan lebih berbahaya mereka, akan menceritakan tentang buruknya layanan perusahaan kepada minimal 20 orang kenalannya.

    Demikian Pak Josef, sedikit sharing dari saya.

    • josef josef says:

      Terima kasih tambahan ulasan Mawardi, untuk mempertegas butir2 penting tentang dampak sebuah pelayanan tulus. Salam

Leave a Reply to Mawardi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Elfi, I am who I am because of who we all are. Banyak tangan yang ikut berkontribusi menjadikan...

Elfi:
Sekali lagi tulisan Bapak menjadi sumber pengingat dan penguat Pak, lebih jauh lagi dalam situasi sesulit dan...

josef:
Terima kasih Rolin untuk ulasan detailmu. Kita hadir di muka bumi ini tidak sendirian, dan panggilan hidup...

Rolin:
Lama sebelum mengenal Pak Josef Bataona, saya menginginkan sosok role model dalam hidup saya untuk menajamkan...

josef:
Terima kasih coach Indra, sukses juga untuk bukumu yang baru: Effective Coaching Skills for Leaders. Salam


Recent Post

  • Panggilan Mengubah Paradigma
  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST
  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris