Tumbuhkan HARAPAN bersama Anies Baswedan

Posted on August 27th, 2013

“In our work and in our living, we must recognize that DIFFERENCE is a reason for celebration and growth, rather than a reason for destruction. (Audre Lorde)

PERSIAPAN acara Halal Bi Halal karyawan kali ini cukup istimewa. Beberapa pemikiran penting ingin disatukan dalam acara ini. Dan kalau saya boleh merumuskan kembali tema acara hari itu hanya dalam satu kata, maka kata yang saya pilih adalah HOPE atau HARAPAN. Kata Hope ini spontan keluar dari mulut Pak Anies Baswedan, ketika saya menginformasikan bahwa suara merdu yang sedang membaca ayat suci Al Quran adalah seorang office boy.

Saatnya Melangkah

Tiada henti-hentinya kita semua diajak untuk memanjatkan syukur dan terima kasih ke hadirat Allah Yang Maha Rahim atas semua berkat yang sudah kita peroleh sejauh ini, juga berkat kesehatan yang sering kita abaikan, dan tentu saja berkat atas hasil yang diperoleh Perusahaan melalui tangan karyawan yang hadir pada acara hari itu. Acara untuk saling menyampaikan “Mohon Maaf Lahir dan Bathin.”

Dalam sambutan singkat atas nama Direksi, saya menyampaikan bahwa periode refleksi selama satu bulan sudah usai, dan sekarang saatnya untuk melangkah, untuk perbuatan nyata. Apa perbuatan nyata itu??

Pengamatan saya melalui sosial media, terutama Twitter sepanjang hari Sabtu 17 Agustus 2013: pagi hari masih dipenuhi dengan ucapan selamat, Dirgahayu RI, berita-berita seputar hari raya kemerdekaan di berbagai wilayah, dan juga guyonan sekedar menggunakan kata ‘merdeka.’ Misalnya: ”Memerdekaan beberapa kue sisa Lebaran yang masih ada di toples.

Selanjutnya, semakin banyak yang mulai menggugat pimpinan Republik ini, memaparkan berbagai kekurangan, menyalahkan, dan mengedepankan berbagai ketidak-beresan di negara ini. Yang menarik adalah, mereka bertanya, seakan ada orang lain yang harus menjawab. Mereka menyalahkan, seakan mereka berada di dunia lain menunggu perubahan, mereka menggugat, seakan-akan mereka hanya berhak untuk menikmati hasilnya, sementara orang lain yang akan bekerja.

Untuk itu saya mengajak seluruh karyawan untuk memberi makna pada kehidupan sesuai harapan dari tema perayaan: ”Meningkatkan Potensi Diri Dalam Menyambut Hari Yang Fitri”

Pada zaman dahulu Bung Karno mengajak kita untuk: ”Singsingkan lengan baju,” saat ini ajakan yang pas adalah: ”Lipat tangan?? Lebih baik turun tangan.

Sambil mohon ijin Pak Anies Baswedan yang empunya kata-kata itu yang ada di bio-profile akun Twitter-nya. Kita mulai dari diri sendiri dengan meningkatkan potensi diri dalam berkarya, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan cara demikian, kita akan mempunyai karyawan yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, demi karya yang lebih baik, untuk pertumbuhan Perusahaan yang lebih baik, dan pada gilirannya, demi Indonesia yang lebih baik.

Buah dari Perjuangan Masa Lalu

Saat yang ditunggu-tunggu, Pak Anies Baswedan, tokoh pembaharu, mengajak kita semua untuk memanfaatkan hari yang berbahagia ini untuk mencairkan yang beku karena masalah yang dihadapi selama ini, meningkatkan silaturahmi untuk melangkah lebih positif ke depan.

Pak Anies kemudian memaparkan pengalamannya dalam berbagai diskusi tentang “Indonesia.” Yang selalu muncul di awal adalah “Masalah” Negative. Harus difasilitasi untuk menggali sisi positif. Kita sering lupa bahwa kita adalah lambang keberhasilan Indonesia. Hasil yang masing-masing kita capai, baik individu, perusahaan atau kelompok masyarakat, adalah hasil yang diraih Indonesia. Haruskah kita terus mengeluh??

Lima menit kita menaikkan bendera, kita sudah mengeluh kepanasan. Berapa puluh tahun pendahulu kita berjuang untuk bisa menaikan Sang Saka Merah Putih?? Reformasi kita baru berjalan 15 tahun, kita terus mengeluh, sementara para pahlawan kita telah berjuang ratusan tahun melawan penjajahan untuk memerdekakan kita.

Kita memang belum sempurna, tapi cermatilah pendidikan yang kita semua dapatkan. Pendidikan itu menjadi escalator untuk membawa kalian semua di sini, di gedung tinggi ini, di perusahaan ini. Siapakah yang mengelola perusahaan ini?? Kita semua yang hadir disini… Dan kita masih terus mengeluh… terus menggugat hasil yang dicapai di negeri ini. Kita seakan merasa tidak terpanggil untuk ikut mengambil bagian.

Mensyukuri Sambil Berperan Aktif

Melangkah ke depan tidak akan lepas dari mensyukuri masa lalu. Dengan mensyukuri perjalanan Republik ini, kita bisa dengan hati terbuka menerima panggilan untuk ambil bagian dalam pembangunan bangsa ini.

Kami semua kaget, tersentak, ketika Pak Anies mengajukan pertanyaan:

Kapan terakhir kali kalian mengunjungi SD atau SMA tempat kalian dulu sekolah??

Berbagai statistic dikedepankan untuk memperlihatkan betapa Indonesia sudah jauh di depan dalam hal melek huruf. Namun demikian, kita masih harus belajar dari berbagai Negara di kawasan ini, yang kemajuan mereka sangat pesat, berkat komitmen mereka di bidang pendidikan. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Luangkan waktu untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak yang masih duduk di bangku SD atau SMA. Bila ada waktu, kunjungi mereka dan cerita tentang pengalaman kalian. Bila belum sempat, buatkan Power Point presentation tentang perjalanan kariermu, dan kirim ke sekolah kalian untuk merangsang semangat belajar mereka.

Inilah salah satu cara kita mensyukuri pendidikan yang kita peroleh,  mensyukuri rahmat berlimpah yang sudah kita dapatkan selama Indonesia merdeka, sekaligus menyadari bahwa perjalanan kita masih panjang. Kelas Menengah di Indonesia sekarang ini paling berhutang-budi. Mereka perlu membayar kembali dengan kontribusi nyata, bukan dengan mengeluh.

Tugas kita adalah mempersiapkan Indonesia ini untuk anak cucu kita. Dengan apa?? Jangan menjadi penonton, tapi ambil bagian, berapa pun kecilnya. Isilah pikiran kita dengan hal-hal positif tentang upaya membuat Indonesia lebih baik, dan bukannya mengeluh dan menyalahkan orang lain. ”Jangan Lipat Tangan!! Lebih Baik Turun Tangan,” demikian Anies Baswedan.

“Laughter is sweet when enjoyed alone. But it becomes sweeter when you enjoy it together with the people around you. Your success must lead to the success of others.” (Israelmore Ayivor)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life