Posted on July 14th, 2017
“Don’t dwell on what went wrong. Instead, focus on what to do next. Spend your energies on moving forward toward finding the answer.” (Denis E. Waitley)
ISI EMAIL ini sangat menyejukkan, terutama karena hadir hanya 4 hari menjelang Lebaran. Pengirimnya tidak asing lagi, Robin Sharma. Dia mencoba membagi pengalamannya berbincang dengan orang dekat Nelson Mandela, dalam kunjungannya ke Johannesberg beberapa waktu lalu.
Pribadi Nelson Mandela yang kita kenal ternyata terbentuk selama dia berada dalam penjara:
“It was the solitude, degradation, devastation and inhumanity of that time in confinement that made him who he became.”
Mandela sungguh berubah justru saat-saat dia diasingkan dari dunia ini yang memungkinkan dia memimpin dalam dunia nyata. Selagi di pengasingan di Pulau Robben, ia membaca buku tentang iconic leaders. Ia mempelajari kebiasaan orang-orang berjiwa besar. Melakukan refleksi atas kebajikan moral utama. Mengubah permusuhan menjadi kesempatan, atau mengubah kemarahan menjadi pengampunan.
Hasil dari semua refleksi dan pelajaran tersebut nampak ketika dia diangkat menjadi Presiden Afrika Selatan, ia mengundang orang-orang yang memenjarakannya pada upacara pelantikan. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
“Tanpa mereka saya masih dipenjara, karena pikiranku masih terbelenggu.”
Demi Misi Hidup yang Lebih Besar
Robin selanjutnya mengajukan pertanyaan, seakan kepada saya pribadi, atau mungkin kepada Anda yang membaca tulisan ini: Ada baiknya luangkan waktu sejenak untuk melakukan perenungan atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

“Apakah Anda merindukan pekerjaan dan kehidupan di dunia ini yang penuh WOW, tapi hari-harimu diisi dengan pikiran yang masih terbelenggu?
Selanjutnya dia memberikan pernyataan peneguhan:
Terus terang saja, semua yang disampaikan Robin Sharma di atas adalah bagian dari promosi Program Leadership-nya. Tapi disampaikan dengan pesan yang menyentuh, membuat kita berpikir berulang-kali merenungkan dampak positif dari program ini. Tapi tanpa memikirkan kepesertaan di program itu, pesan-pesan yang disajikan sangat piawai menjadi bahan perenungan yang sangat bermakna.
Robin Sharma pun menutup tulisannya dengan memberikan kontradiksi karakter Leader yang berbeda:
“Victims blame everything on everyone.”
“But to really LEAD your life, you absolutely must own that all that’s in our lives right now is the result of our own actions. Every movement we’ve made has created a consequence. Every cause has had an effect… “
Dan dengan nada optimis sekaligus menyemangati, dia meninggalkan pesan inspiratif yang saya sajikan juga sebagai petikan akhir tulisan ini:
“…and as we make the rise to excellence of thought, performance and being, all we do rises with us.” (Robin Sharma)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...