Berani Bersuara

Posted on March 12th, 2021

“You feel proud of yourself as you tell people what you think. It’s a great way to connect with your inner-self on an intimate level.” (Lisa Nichols)

TEPAT jam 19:00 sesi webinar saya mulai, walau belum 100% peserta hadir. Ini merupakan kebiasaan saya untuk tetap mulai tepat waktu berapapun peserta yang hadir. Selain untuk menegakkan disiplin yang saya bangun, juga untuk memberikan pesan kepada yang lain bahwa saya menghargai mereka yang sudah hadir tepat waktu. Sesi malam itu adalah bagian dari Certified Human Resource Professional (CHRP) Program, Universitas Atma Jaya batch 58.

TRUST Menjadi Syarat Utama

Dalam hubungan antar manusia, dalam konteks manapun, saling percaya merupakan unsur penting. Dan itu dimulai dari diri saya sendiri, selain mulai percaya pada diri sendiri, juga mengirim pesan pada yang lain bahwa saya mempercayai mereka. Seorang leader di tempat kerja mulai dengan berbagai langkah untuk membangun TRUST. Dan tujuan paling utama adalah demi meraih trust bagi dirinya sendiri dihadapan teamnya. Karena itu tidak berlebihan, saat seorang peserta bertanya: saat saya ngobrol dengan teman2 dari divisi lain, kami mendapat kesan bahwa yang tidak punya trust itu management bukan kami, padahal kami dituntut untuk kerja dengan trust.

Karena Trust itu perlu diraih, maka saran saya, kita sendiri perlu fokus meraih trust dari atasan, bawahan serta rekan kerja kita. Dan tidak kalah pentingnya adalah hilangkan kebiasaan men-judge, dan mulai dari introspeksi diri, apalagi yang perlu dilakukan, pendekatan berbeda apa lagi yang perlu dilakukan untuk terus meraih dan mempertahankan trust yang sudah diraih. Berikut foto sebagian peserta webinar.

Mempertanyakan Status-quo

Ragam generasi dalam sebuah perusahaan sering disikapi dengan cara berbeda. Ada yang melihatnya sebagai peluang untuk mengoptimalkan kelebihan masing2, walaupun ada yang merasa terganggu.

Saat saya mengedepankan kasus untuk diskusi, dimana ada perusahaan yang memerlukan dua belas tanda-tangan untuk mendapatkan persetujuan, seorang peserta dengan nada menggemaskan memberikan komen, bahwa di tempat dia, enam tanda-tangan saja sudah membuat dia mengamuk (istilah dia untuk mengatakan tidak bisa diterima). Tapi yang terpenting, apa yang anda lakukan dengan ini? Demikian tanya saya lebih lanjut.

Ternyata dia tidak saja mempertanyakan status-quo, dia juga mengusulkan langkah kongkrit untuk memangkas 6 tanda tangan menjadi hanya 2-3. Belum puas dengan itu, dia mengajukan usul digitalisasi proses persetujuan. Yang ini sudah disetujui dan proses digitalisasi sedang dikerjakan.

Speak-up

Perbedaan pandang tentang suatu praktek tertentu di dalam perusahaan pasti selalu ada. Tetapi, apakah kita paham mengapa suatu ketentuan ini dirumuskan pada awal mulanya? Banyak milenial yang tergoda untuk mempertanyakan ini, dan tujuannya tentu ingin memahami dan melihat peluang untuk perbaikan. Apakah para senior bisa menerima pendekatan ini? Tidak semua berkenan, tapi marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Kita mendorong generasi muda untuk bertanya. Karena itu mereka tampil bertanya dan merasa berhak untuk mendapatkan jawabannya.

Kami sudah bertanya, selah seorang milenial, namun yang senior mengatakan: sudahlah, kerjakan saja, dari dulu juga sudah begini, dan ok ok saja. Yang bagus adalah, sudah berani speak-up, berani bersuara.

Yang bertanya, hendaknya berbesar hati untuk mencari pendekatan yang berbeda. Boleh jadi cara bertanya yang harus diperbaiki. Atau momen bertanya harus dicari yang tepat. Singkat cerita, selalu ada peluang untuk mendapatkan jawaban, namun belum ketemu. Terus mencari!

Adalah ketua kelas pa Primadi yang mengirim pesan lewat WA bahwa karena belajar di sesi 2 jam ini belum cukup, dia cari lagi di YouTube dan menemukan sesi lain di link ini: https://youtube.com/watch?v=pkclEMQ5Hyg&feature=share

 

Terima Kasih Kepada 79 Peserta

Jam memang sudah mendekati 21:00, tapi semangat bertanya dan keingintahuan peserta masih tinggi. Tidak cukup dengan bertanya atau komentar langsung, saat diminta untuk mengisi formulir evaluasi, mereka masih antusias. Beberapa komen saya pilihkan untuk disertakan di tulisan ini:

  1. Positif sekali, banyak pesannya, to be a good person. Tengkyu Pa
  2. Kelas pak Josef super sekali, mampu mengubah mindset and its like mood booster for me. Many thanks pak Josef
  3. Terimakasih untuk konsep yang disampaikan sangat inspiring untuk milenial yang kadang masih terbawa emosi dalam menghadapi macam macam karakter employee ditempat saya bekerja
  4. Terimakasih Pak Josef atas humanist approachnya..
  5. Sangat inspiratif dan memotivasi. Saya jadi bertambah kepercayaan diri di tengah situasi yang saya hadapi saat ini.
  6. Sangat inspiratif, ide IMF itu kalau boleh, akan saya terapkan juga di kantor. Terima kasih banyak atas sharing pengalamannya

Saya sendiri menyampaikan terima kasih kepada peserta untuk keterbukaannya dalam bertanya atau memberikan komen sehubungan dengan sesi itu. Saya juga mengapresiasi langkah peserta dalam membawa satu atau dua butir yang dipetik selama sesi itu untuk diimplementasikan di tempat kerja, seperti niat dari beberapa yang disampaikan dalam form evaluasi.

“Just remember to always be yourself and don’t be afraid to speak your mind or to dream out loud.” (J.A. Redmerski)

Bookmark and Share

4 Responses to Berani Bersuara

  1. Primadi Candra Susanto says:

    *walau belum 100% peserta hadir. Ini merupakan kebiasaan saya untuk tetap mulai tepat waktu berapapun peserta yang hadir. Selain untuk menegakkan disiplin yang saya bangun, juga untuk memberikan pesan kepada yang lain bahwa saya menghargai mereka yang sudah hadir tepat waktu*

    Selama saya menjadi Dosen Dari 2018 s.d hari ini bila saya mengajar selalu menunggu yg belum hadir karna mau mahasiswa/i saya hadir semua agar tdk ada yg tertinggal materi, dgn saya membaca statement Pak Josef pemikiran saya jadi terbuka, lbh tepat statement Bapak ketimbang saya menunggu yg lain dan jd tdk menghargai yg sdh hadir.

    Saya akan rubah pola ajar saya dalam kelas, spt yg Bapak terapkan.

    Terimakasih Pak Josef

    • josef josef says:

      Terima kasih pa Primadi sudah mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Terima kasih juga untuk insightnya, yang meneguhkan untuk disiplin sambil menghargai mereka yang tepat waktu. Salam

  2. YK. Tasha says:

    Terima kasih Pak Josef telah mengingatkan kita “to speak up”, karena dengan speak up berarti kita selalu mendapat jawaban terhadap apa yang kita pikirkan. Baik jawabannya sesuai harapan dan memberikan solusi atau tidak sekalipun.
    At least menjadi tidak penasaran dan tahu langkah selanjutnya setelah menyampaikan pemikiran kita.

    Terima kasih juga untuk pencerahannya seminggu sekali. Selalu inspiratif!
    Sehat selalu Pak Josef :). Salam.

    • josef josef says:

      Terima kasih Tasha untuk kunjungannya ke blog ini dan menyimak tulisan2 yang saya hadirkan disini. Bila terasa luang waktunya, silahkan simak sekitar 760 artikel dengan berbagai kategori di blog ini, semoga bermanfaat. Salam

Leave a Reply to josef Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 mas Arie, saya juga senang kita bisa belajar bersama. Salam untuk teman2 semua

Arie Frederik:
Terima kasih Pak sudah mau membagikan pengalaman dan materi ini ke kami. Kami semua senang mendapatkan...

josef:
Terima kasih sama2 pa Dedy, terima kasih juga sudah berkenan mengunjungi dan menyimak tulisan di blog ini....

Dedy:
Terima kasih sharenya pak Josef.

josef:
Terima kasih sama2 Santi. Melalui Prof Jennifer, kita mjulai sadar bahwa ada penjelasan ilmiah tentang Humor...


Recent Post

  • Pandemi: Empathy dan Coaching
  • FUN di Tempat Kerja
  • Dosen Yang Tanggap Perubahan
  • Maling Keren
  • Terima Kasih Pintuku Dibuka
  • VALUES Landasan Sukses
  • BERMAKNA Bagi Orang Lain
  • Berani Bersuara
  • Saya Belajar Bersyukur dari Murid SD
  • Mengukir Positive Legacy