Organization Capability

Posted on August 8th, 2017

“Organization capabilities represent what the organization is known for, what it is good at doing, and how it allocates resources to win in its market.” (Dave Ulrich)

SUDAH SEJAK LAMA langkah kita mengikuti strategi perang yang namanya “Talent War”. Betapa tidak, berbagai analisa memberikan data tentang kelangkaan talent di pasar tenaga kerja. Sementara itu statistik yang memperlihatkan tingkat retention di perusahaan juga mencemaskan.

Belum lagi kalau kita bicara tentang kehadiran kelompok milenial yang sering dianggap tidak akan tahan berlama-lama dan ingin mencari kesempatan baru. Lalu sampai kapankah perang memperebutkan talent tersebut?

Walau banyak perusahaan sudah mengambil langkah proaktif dengan mengembangkan sendiri talent melalui “Management Trainee Program” tidak ada jaminan bahwa mereka akan tinggal di perusahaan itu untuk jangka yang panjang, karena godaan dari luar amat sangat menarik.

Talent versus Organization

Tidak sedikit perusahaan yang berhasil mengumpulkan banyak talent dari mana-mana. Tapi mengapa mereka masih belum berhasil, atau masih belum seperti yang diharapkan? Memiliki banyak tenaga handal di perusahaan merupakan langkah yang bagus. Tetapi kalau kita tidak mengorganisir mereka secara tepat, maka kita kehilangan kesempatan menang.

Sudah sejak lama organisasi memfokuskan kompetisinya melalui fokus investasi di bidang strategi, keuangan atau operasional. Tapi pesaing bisa dengan mudah menirunya. Bila belum berhasil maka mereka akan melakukan perubahan melalui nama-nama keren seperti downsizing, rightsizing, restructuring, delayering, dan intervensi  lainnya.

Hasilnya, banyak dari mereka yang mengisi kotak-kotak organisasi itu harus dikeluarkan, karena tidak bisa lagi berkontribusi untuk mencapai hasil. Sejauh itu mereka melihat organisasi itu sebagai struktur, gambar kotak-kotak, belum sepenuhnya tentang capability yang perlu diisi oleh masing-masing penanggungjawab di kotak itu.

VALUE Di Balik Organization Capabilities

Dengan semakin transparannya dunia ini, maka organisasi hendaknya semakin bijak menyikapi transparan tersebut, terutama ketika design organisasi dengan eco-system yang menunjang strategic partner, collaboration dan collective leadership. Semua ini akan dilandasi oleh budaya perusahaan yang dibentuk berdasarkan VALUES yang dianut.

Dan budaya seperti ini hendaknya mulai diresapi, dipahami dan dijalankan secara konsisten oleh para top leaders. Semua yang ada di bawah mereka akan lebih mudah memahami makna values tertentu dengan melihat perilaku para top leaders dalam berinteraksi.

Dan perlu pula diingat, bahwa organization capability juga menyangkut hal-hal yang sifatnya intangible. Salah satunya yang digaris-bawahi oleh Dave Ulrich dalam paparannya di Jakarta beberapa hari lalu:

“Komitmen investasi terpenting untuk next generation, termasuk untuk anak-anak kita adalah menciptakan KESEMPATAN agar mereka menemukan MEANING dalam kehidupan.”

Dave menjelaskan ini ketika menemukan bahwa saya, Josef (Bataona) duduk di samping Maria (Theodora Kurniawati), dan ini sudah mengundang gelak ketawa peserta yang tentu paham apa maksud Dave.

8 Agustus 17_Organization Capability1

Dia pun menambahkan, bahwa MEANING itu tidak diberikan oleh perusahaan kepada karyawan. Mereka harus proaktif menemukan sendiri. Inipun bisa terjadi kalau perusahaan menciptakan lingkungan kerja di mana komitmen tersebut diterima sebagai panggilan hidup dan panggilan professional para leaders.

Tanpa disadari, semua itu akan membentuk perilaku karyawan di semua tingkatan dan semua lini, dan sekaligus menjadi identitas perusahaan yang mudah dikenali pihak luar: pelanggan, investor, pencari kerja dan lain-lain.

Langkah Berbenah Diri

Secara ke dalam, kami juga tidak tinggal diam. Tim HR dari semua divisi pun kami undang untuk mulai memahami makna Organisasi, dan bagaimana menyusunnya untuk menanggapi panggilan Bisnis ke depan.

8 Agustus 17_Organization Capability2

Kebutuhan secara internal tidak sama untuk semua divisi atau anak perusahaan. Namun mengantisipasi berbagai perubahan sekitar kita yang berjalan sangat cepat, maka langkah proaktif untuk membekali tim dengan pengetahuan tentang oganisasi akan membuat mereka siap kapan saja mendapat panggilan tugas.

Ini juga untuk membantu mereka menarik garis dari berbagai kenyataan yang ada di dalam perusahaan, mulai dari hadirnya Corporate Values, organisasi yang berbeda di berbagai divisi, pola interaksi antar karyawan secara vertical atau horizontal.

Dengan cara seperti itu, mereka juga bisa memetakan berbagai kebutuhan pengembangan yang bisa dilakukan, bilamana diperlukan.

“To fight a war, you need time, talent, energy. To win a war, you gotta have organization.” (Dave Ulrich)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih coach Indra, sukses juga untuk bukumu yang baru: Effective Coaching Skills for Leaders. Salam

Indra Dewanto:
Sukses selalu dan terus menginspirasi Pak Josef Bataona….:)

josef:
Terima kasih sama2 Tromol, satu dua kata yang bermanfaat, kiranya menyejukan. Salam sehat dan sukses

Tromol Sihotang:
Terima kasih pak Josef yang setiap saat memberikan pandangan, arahan dan tentunya bimbingan yang...

josef:
Terima kasih sama-sama bu Dwi Suwarnaning, sukses selalu, salam


Recent Post

  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST
  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement