Bersyukur di Tepi Kawah Ijen

Posted on November 22nd, 2019

“In this moment, there is plenty of time. In this moment, you are precisely as you should be. In this moment, there is infinite possibility.” (Victoria Moran)

Suasana pedesaan penuh dengan pepohonan, ataupun tepi pantai adalah suasana yang selalu dirindukan, seakan pulang ke kampung halaman. Dengan penerbangan langsung dari Jakarta, kami mendarat di Banyuwangi dan langsung disuguhkan sarapan dan kopi khas Ijen di Sun Osing.

Ditengah gencarnya berbagai program untuk memajukan destinasi wisata nusantara, kami dan beberapa teman (hanya bertujuh) membuat rencana liburan bersama dengan pilihan kali ini Banyuwangi dan Kawah Ijen. Suasana menjadi dag dig dug lantaran setelah semua rencana dipastikan dan dibayar, muncul berita kawasan wisata Ijen ditutup karena kebakaran besar. Beberapa opsi pilihan dirancang, namun kami yakin tidak akan bisa menggantikan sensasi kawah Ijen. Untunglah dua hari menjelang keberangkatan kami, wisata Ijen dibuka kembali. Rasa sedih melihat semua pepohonan tua dan besar di hutan seputar daerah Ijen sampai ke bibir kawah, hitam bekas dibakar api. Tapi ini tidak mengurangi pesona kawah ijen, tidak mengurangi minat wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung kesana.

Keindahan kawah Ijen

Jam 24:00 kendaraan meluncur dari hotel, membawa kami ke pos Paltuding, titik dimana pendakian dimulai.

Jarak menuju puncak Ijen kami tempuh dalam 2.5 jam dengan suhu antara 10° – 13°celsius. Kami diberitahu tour leader, bahwa dengan posisi jam 03:30, kami tidak akan mungkin mendapatkan momen blue fire dan sunrise sekaligus, harus memilih. Karena itu, hanya satu anggota team yang memilih melihat blue fire, sementara kami berenam memilih meneruskan pendakian ke puncak untuk menyaksikan sunrise sambil menikmati Kawah Ijen dari ketinggian, dengan pemandangan yang lebih leluasa.

Walau matahari munculnya masih malu2 di pagi hari, tapi dampaknya membuat kami bisa menikmati kawah yang fenomenal dan juga perbukitan sekitarnya.

Saat saya dan istriku Lena menatap kawah ijen dari ketinggian, kami hanya bisa mengucap syukur, tak bisa berkata apa-apa lagi, karena di usia kami dengan kepala enam, kami masih bisa hadir di tempat ini untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan. Beberapa foto kenangan.

Belajar Tentang kehidupan

Adalah kebiasaan kami untuk mengangkat berbagai kejadiaan untuk dijadikan pembelajaran dan kami diskusikan bersama. Suasana asri seperti di foto ini, di pinggir laut, menghadap pulau Bali, bisa menjadi tempat dan momen indah untuk diskusi.

Kami belajar bahwa komunikasi merupakan elemen sangat penting, untuk membuat apa yang kita maui juga dimengerti dan ditindak lanjuti oleh yang mendengarkan. Karena itu mengulangi permintaan kita (oleh yang mendengarkan) akan sangat membantu. Kami juga belajar bahwa pengembangan SDM untuk sector riil seperti pariwisata, termasuk perhotelan, culinary dan lain-lain perlu mendapat perhatian pihak terkait, tidak hanya pada level manager tapi terutama di lini depan. Kami juga belajar bahwa ada momen penting dalam kehidupan ini, dimana kita berhenti, diam sejenak dan merenungkan perjalanan hidup ini …. Momen dimana kita akan sangat bersyukur atas berkat yang sudah kita terima.

Kunjungan ke Banyuwangi kami tutup dengan belajar mengenali biji kopi dan proses lanjutannya, serta mencicipi Kopi Ijen Arabica ditemani kue cucur pandan.

Kami bersama tim sudah tiba kembali di rumah dengan selamat, sehat wal’afiat berkat kemurahan Tuhan. Satu hal yang akan terus kami kenang adalah momen kebersamaan selama perjalanan, momen perjuangan menuju puncak dan saat berada di seputar kawah Ijen yang indah, sebuah fenomena alam yang luar biasa.

“Cultivate the habit of being grateful for every good thing that comes to you, and to give thanks continuously. And because all things have contributed to your advancement, you should include all things in your gratitude.” (Ralph Waldo Emerson)

 

Bookmark and Share

2 Responses to Bersyukur di Tepi Kawah Ijen

  1. Ratih Hapsari says:

    Wah keren sudah sampai kawah Ijen Pak. Benar sekali yang Pak Josef sampaikan, perlu ada momen penting utk kita merenung dan mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dan kita capai..

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, bahkan hanya lima menit saja sudah lebih dari cukup, namun dilakukan secara rutin dan di momen yang berbeda-beda. Rasakan sendiri nanti hasilnya. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih, bahkan hanya lima menit saja sudah lebih dari cukup, namun dilakukan secara rutin dan di...

josef:
Terima kasih Ratih, saya boleh mengangkat kembali komennya untuk postingan ini. Terima kasih juga untuk rutin...

Ratih Hapsari:
Sudah beberapa waktu ngga baca blog-nya Pak Josef, sekalinya baca saat di MRT eh ada nama saya di...

Ratih Hapsari:
Wah keren sudah sampai kawah Ijen Pak. Benar sekali yang Pak Josef sampaikan, perlu ada momen penting...

josef:
Terima kasih juga karena Santi senantiasa meluangkan waktu untuk menyimak tulisan2 ini, dan membagi manfaatnya...


Recent Post

  • Membekali Agen Perubahan
  • Mengukir Kebahagiaan Bersama
  • Bersyukur di Tepi Kawah Ijen
  • Sewindu Membagi Cerita
  • Sentuhan Tangan Yang Diberkati
  • Tempat Kerja Idaman
  • Momen Mendengarkan Milenial
  • Memacu Gairah Belajar
  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching