Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita

Posted on June 26th, 2018

“A smile is the light in your window that tells others that there is a caring, sharing person inside.” (Denis Waitley)

MEMASUKI Bulan Suci Ramadhan, kita bisa menyaksikan berbagai aktivitas kepedulian kepada masyarakat yang sangat membutuhkan. Mereka tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga membutuhkan perhatian. Mereka yang dibantu tersebut, ingin merasakan bahwa mereka adalah bagian dari anggota masyarakat, yang punya tetangga dan kenalan seputar tempat mereka tinggal.

Syukur-syukur dalam perjalanan hidup selanjutnya, berkat buat mereka berlanjut, entah dalam bentuk apa saja. Paket-paket seperti ini diberikan sebagai bentuk perhatian kepada tetangga yang memerlukannya, yang juga kita temui seputar hari raya keagamaan lainnya atau juga even khusus sepanjang tahun.

26 Juni 2018_Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita1

Tanggung Jawab Bersama

Melalui postingan group WA, saya menerima video, dengan referensinya hanya tertulis “Inspired”. Tapi saya merasa tertarik untuk membagi ini dalam bentuk cerita yang diambil dari caption yang ada di video tersebut.

Kisah ini diambil di sebuah pengadilan di New York tahun 1935, yang diangkat dari kejadian sebenarnya. Cuaca bulan Januari itu sangat dingin. Seorang wanita tua didakwa mencuri roti. Dia terlihat sedih sekaligus malu.

??????????

Wali Kota New York, Fiorello LaGuardita yang menjadi hakim malam itu:

Hakim: “Apakah Anda mencuri roti?

Terdakwa: “Iya Yang Mulia, saya mencuri roti itu.”

Jawabnya sambil menunduk dan menutup mukanya.

Hakim: “Apa motifmu? Apakah engkau lapar?

Terdakwa: “Iya, saya memang lapar, tapi saya tidak mencuri roti untuk diri saya. Mantuku menceraikan putriku, sementara putriku lagi sakit. Dua anak mereka kelaparan karena beberapa hari tidak makan. Saya tidak tahan melihat mereka kelaparan.”

Saat nenek tua itu berbicara, seluruh ruangan hening.

Hakim: “Semua orang harus diperlakukan sama di mata hukum. Untuk mencuri roti, anda boleh memilih denda $10 atau penjara 10 hari.

Terdakwa: “Yang Mulia, saya bersedia membayar denda untuk perbuatan saya. Tapi jujur saja, kalau saya punya $10 saya tentu tidak akan mencuri roti itu. Karena itu saya siap untuk dipenjara. Namun yang saya cemaskan adalah siapa yang akan mengurus putriku yang sakit dan dua anaknya, selagi saya di penjara.”

Hakim terdiam. Dia kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang $10 dan berujar.

Hakim: “Dengan $10 ini, saya akan membayar denda tersebut, karena itu Anda dibebaskan.

Ia kemudian menatap semua orang yang ada di ruangan dan berujar:

Hakim: Tambahan lagi, saya menetapkan denda $0.50 pada setiap orang yang hadir di ruangan ini, karena ketidak-pedulianmu kepada anggota masyarakat sekitarmu. Bila kalian peduli, wanita tua ini tentu tidak akan mencuri roti itu untuk memberi makan keluarganya.

Uangpun terkumpul dan diberikan kepada teerdakwa, masing-masing $0.50 dari pemilik toko tempat wanita tua itu mencuri, semua yang hadir dan juga beberapa polisi. Mereka semua merasa bangga bisa ikut berpartisipasi.

Dari surat kabar keesokan harinya diketahui bahwa uang yang terkumpul berjumlah $47.50.

Apakah Kita Peduli?

Banyak sekali program kepedulian yang kita saksikan atau yang kita baca. Namun yang benar-benar kita harapkan adalah kepedulian kepada yang membutuhkan yang lokasinya jauh dari rumah tinggal sendiri atau dari tempat kerja, hendaknya dilakukan setelah mereka yang tinggal sangat dekat dengan kita mendapatkan perhatian yang sama: tetangga dekat rumah tinggal kita atau sekitar tempat kerja kita.

Keputusan hakim mengedepankan, bagaimana orang seharusnya peduli dan terlibat membantu yang menderita. Dan bagaimana setiap kita juga bertanggung jawab atas terjadinya kejahatan di masyarakat. “We are all connected in this world, if one suffers, so do we all.”

Hendaknya masing-masing kita mengupayakan, agar tidak ada orang di sekitar kita yang luput dari perhatian kita, apalagi yang kelaparan tanpa kita ketahui.

“Kindness is the language which the deaf can hear and the blind can see.” (Mark Twain)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

2 Responses to Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita

  1. rolin says:

    Terima kasih Pak Josef, untuk tetap mengingatkan kami.
    Saya sangat digugah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Rolin, fondasinya adalah senantiasa bersyukur. Melangkah setiap hari dengan mindset positif, maka...

rolin:
Kehidupan Bapak&kel seperti sungai yang tidak habis airnya. Terima kasih selalu mengajarkan kami untuk...

josef:
Terima kasih banyak Santi, kami telah berusaha untuk mengawal dia sampai ke pintu kehidupan berikutnya,...

josef:
Terima kasih Santi, nilai nilai kebaikan seperti itu sering hadir dihadapan kita setiap hari. Begitu juga...

Santi Sumiyati:
Pak Josef, selamat atas kelulusan putri Bapak dari program Post Graduated di UK. Semoga Eka...


Recent Post

  • Energi dan Harapan Masa Depan
  • Mengapresiasi Tiap Momen Kehidupan
  • MU dan Leadership ala Alex Ferguson
  • Perjuangan Meraih Sukses
  • Kejutan Dalam Rencana Suksesi
  • Saya Belajar Caranya Belajar
  • REFLEKSI untuk Pengembangan Diri
  • Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
  • Setelah Baju Itu Kutanggalkan
  • KESEHATAN: Harta Tak Ternilai