Membekali Agen Perubahan

Posted on December 6th, 2019

“If you don’t understand generational differences, You overreact to the small things, ignore the big things, and propose the wrong things.” (Haydn Shaw)

PERUBAHAN terus terjadi seputar kita. Tanpa kita melakukan apa-apa, dampak pada diri kita atau organisasi kita akan terjadi, cepat atau lambat. Dengan membuka mata dan telinga lebar demi menyimak perubahan itu akan sangat membantu kita dalam menyikapinya. Apalagi secara proaktif kita mengantisipasi, mempersiapkan diri untuk perubahan jangka Panjang.

Kagum akan Pendekatan

Menjaring generasi muda untuk menjadi agen perubahan di perusahaan swasta, itu sudah biasa. Berbagai program transformasi yang dilakukan dengan pendekatan yang professional, juga lumrah dilakukan dengan melibatkan semua unsur lintas divisi maupun lintas generasi. Namun telpon yang saya terima hari itu membuat saya tertegun kagum: Departemen Keuangan mempunyai unit transformasi, dengan melibatkan agen-agen lintas divisi dan lintas generasi. Lebih mengagumkan lagi, mereka memang membuka diri untuk belajar dari berbagai sumber di masyarakat, dari perusahaan swasta local maupun multinasional, start-up company, individu dan lain-lain. Mereka diundang di sesi pagi untuk memberikan perspektif yang berbeda serta pendekatan mereka yang unik demi meraih sukses.

Foto Bersama Menteri Keuangan, ibu Sri Mulyani, sesudah beliau memberikan pengarahan.

Salah satu butir kecil yang diminta bu Menteri dalam pengarahannya, tapi ini merupakan contoh apakah mereka mau berubah atau tidak: agar mulai besok semua eselon 1 dan 2 harus makan siang dengan orang yang berbeda setiap hari. Jangan hanya satu divisi, satu kampung atau satu sekolah saja. Walau disambut dengan tertawa peserta, namun saya percaya bahwa untuk melaksanakannya diperlukan komitmen tulus.

Saya diundang sebagai narasumber dalam kegiatan tahunan bersama para Change Agent Kementerian Keuangan, untuk mengaddress isu mengenai tantangan komunikasi multi-generasi di Kementerian Keuangan, bersama Coach Nina Moran dengan moderator Coach Zizi (Zivanna Letisha Siregar), Miss Universe Indonesia 2009.

Eco-System yang perlu sentuhan

Saya sangat yakin, ibu Menteri Keuangan dan tim sangat paham kebutuhan akan perubahan secara organisasi, system, procedural. Mereka juga sangat sadar bahwa pada akhirnya manusia yang terlibat disana yang menentukan berhasil atau tidak. Walaupun sekitar 60% tim adalah milenial, sementara itu generasi yang lebih tua pun masih hadir disana terutama pada posisi-posisi menentukan dalam pengambilan keputusan. Sementara itu mereka semua harus sepakat akan pola interaksi, cara komunikasi secara terbuka yang mampu mengakomodasi berbagai perubahan. Eco-system ini harus diciptakan, agar ide-ide cemerlang di kepala masing-masing tidak mengalami hambatan saat difasilitasi untuk dialirkan keluar. Karena itu tidak berlebihan kalau tema yang mereka pilihkan untuk saya fokus adalah:  Seni Mendengarkan dan Tanggung Jawab Bersama Membangun Team yang Resilience. Dari sini kita bisa memahami bahwa masing-masing generasi yang hadir akan memainkan peran penting. Namun bila mana terjadi potensi benturan, maka tak boleh ada yang patah atau pecah, karena mempunyai daya lentur yang tinggi.

Provokasi Tim Transformasi

Tujuan kami bertiga adalah untuk memprovokasi team transformasi, untuk bisa terus berusaha menemukan cara2 berkomunikasi yang tepat di lingkungan kerja yang multi generasi. Mereka tidak mungkin bertransformasi dengan pendekatan perintah atau instruksi. Transformasi tidak akan berjalan mulus kalau semua unsur tidak sepenuhnya memahami arah kedepan. Dan transformasi akan bisa berjalan mulus kalau tercipta suasana terbuka, untuk dialog, untuk menggugah munculnya ide2 kreatif, untuk membuat anggota tim merasakan kalau ide mereka dihargai, sehingga mereka akan dan mau mengutarakan semua yang mereka pikirkan.

Kita semua sadar bahwa perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Namun demikian niat mereka untuk memulai sudah sangat positif. Tinggal tantangannya adalah seberapa cepat mereka bisa berlari mengejar berbagai ketinggalan, seberapa tinggi semangat dan daya tahan untuk terus berlari mengawal transformasi tersebut. Kita semua doakan semoga SUKSES.

“When you encounter difficulties and contradictions, do not try to break them, but bend them with gentleness and time.” (St Francis de Sales)

 

Bookmark and Share

2 Responses to Membekali Agen Perubahan

  1. Tommy Keraf says:

    terus berkarya Tata .. GBU

    • josef josef says:

      Terima kasih Tommy, sudah berkenan mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Semoga membawa manfaat. Salam sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan