Apa Sesungguhnya Kemauan Gen Y?

Posted on March 18th, 2016

“Change is not meant to be COMFORTABLE because all change that really matters takes you beyond the limits of your COMFORT zone.” (Che Garman)

SAAT INI, di berbagai organisasi, hadir pekerja yang bukan saja berasal dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial dan budaya. Mereka juga berasal dari generasi yang berbeda-beda.

Mereka hadir karena organisasi membutuhkan mereka sesuai dengan kualifikasi yang mereka miliki. Mereka hadir di sana karena ada kesesuaian antara persyaratan pekerjaan dan kualifikasi yang dimiliki pada waktu melamar.

Juga para pelamar merasa Value pribadi mereka sesuai dengan Value yang dianut dan hidup di tengah perusahaan itu. Value yang juga menjadi dasar perilaku para pimpinan yang sudah lebih dahulu ada di sana.

Pemimpin perusahaan tentu mengharapkan para calon akan tinggal lebih lama dan berkarya maksimal, sementara calon karyawan juga berharap bisa tinggal dan tumbuh bersama perusahaan tersebut. Namun dalam kenyataannya, tidak semudah seperti yang dibayangkan semua pelaku.

Hangatnya Diskusi tentang Gen Y

Bila ada masalah yang dihadapi, kecenderungan kita terlalu cepat meloncat kepada kesimpulan tanpa analisa yang memadai, maka kesimpulan kita pun bisa jauh dari yang seharusnya. Gen Y yang sedang mengalir masuk dalam dunia kerja sering dituding sebagai penyebab kegaduhan.

Tapi satu hal yang bisa dipastikan: Peta dunia kerja sangat dipengaruhi oleh cara pandang DAN PERILAKU Gen Y yang berbeda, tentang banyak hal dalam kehidupan ini, termasuk kehidupan di dunia kerja. Apakah kita sungguh-sungguh paham persoalan yang sedang dihadapi di era dewasa ini untuk menempatkan Gen Y dalam perspektif yang tepat?

Perubahan yang tidak bisa diabaikan

Survey Gallup akhir tahun 2015 memaparkan bahwa perilaku para pimpinan terhadap karyawannya hendaknya berubah, terutama dengan hadirnya Gen Y yang membawa perspektif yang berbeda. Fokus sedang dan akan terus berubah dari :

  • Paycheck  menjadi Purpose
  • Satisfaction menjadi Development
  • Boss menjadi Coach
  • Annual Review menjadi On-going conversation
  • Weaknesses menjadi Strengths
  • Job menjadi Life

Sekedar menggaris-bawahi beberapa di antaranya. Gen Y akan memilih perusahaan dan pekerjaan yang punya foKus tidak saja untuk mencari keuntungan semata, tapi juga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia sekitarnya. Dengan demikian karyawan yang bergabungpun akan merasa bahwa hidupnya akan lebih bermakna, punya Meaning, karena menjadi bagian dari perusahaan yang memang punya kepedulian untuk membuat hidup banyak orang lebih bermakna.

Berikut foto bersama Jim Clifton, Gallup’s Chairman and CEO, jelang paparan beliau tentang hasil survey tersebut.

jim Clifton (Gallup’s Chairman and CEO)

Apa Sesungguhnya Keinginan Mereka ?

Saya sendiri sangat berterima kasih menemui banyak pimpinanku di masa lalu, yang sangat peduli pada pengembangan karierku. Mereka juga fokus pada Strength yang kupunyai, walaupun daftar kekuranganku juga tidak sedikit.

Walaupun pendekatan Leader sebagai Coach baru mengemuka di Indonesia, namun belum terlambat untuk memulainya. Dengan pendekatan Coach, seorang leader akan terus menggali apa yang dimaui timnya, apapun generasi mereka. Gallup Survey 2015 juga mengedepankan beberapa data yang perlu kita simak:

Karyawan Millennial (lahir sejak 1994) dan tentu saja Gen Y (lahir 1980 – 1994) menginginkan dari Manager mereka:

  • Clear Goals and Priorities
  • Coaching to their strengths
  • Constant Communication and Feed-back
  • Consistent Accountability

Secara umum, menurut Survey Gallup, yang mereka maui, di urutan top 5 adalah:

  1. Opportunity to Learn and Grow
  2. Quality of management
  3. Quality of manager
  4. Interest in type of work
  5. Opportunity for advancement

Millennial dan juga Gen Y memang sedang menentukan trend. Tapi mereka tidak sendirian di perusahaan. Memenuhi keinginan mereka tentu juga dengan mempertimbangkan karyawan dari Gen X dan Boomers. Langkah untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan generasi muda ini, kiranya merupakan bagian dari solusi menyeluruh Strategi Perusahaan untuk meraih tujuan jangka menengah dan panjang.

“If we are to achieve results never before accomplished, we must expect to employ methods never before attempted.” (Francis Bacon)

Bookmark and Share

6 Responses to Apa Sesungguhnya Kemauan Gen Y?

  1. Yuniar says:

    Saya adalah karyawan Gen Y pak, jika saya tidak mendapatkan apa yang saya harapkan di perusahaan saya sekarang ini apa yang harus saya lakukan pak ?

    • josef josef says:

      Terima kasih pertanyaannya Yuniar. Ada berapa banyak dalam daftarmu, yang anda harapkan dari perusahaan sekarang ? Masih adakah harapan lain yang belum ada dalam daftar tersebut ? Berapa banyak yang sudah atau diharapkan akan didapat ? Berapa banyak yang tidak akan didapat ? Menjawabi pertanyaan seperti itu, akan memberikanmu gambaran yang lebih jelas untuk mengambil keputusan. salam

  2. Ferry Butarbutar says:

    Pak Josef, saya sepakat soal keunikan Gen Y ini. Mereka mewakili zaman yg sudah berubah dan memaksa kita memiliki pemahaman dan keterampilan baru. Namun, saya melihat betapa pentingnya satu shared values ditumbuhkan dalam perusahaan yg hidup melintasi generasi. Shared values yg saya maksud bukan saja sebagai guiding principles tapi sekaligus tujuan mulia yg hendak diraih perusahaan. Di dalamnya seluruh pemangku kepentingan diperhitungkan. Dengan begiti generasi apapun yg akan lahir nantinya tetap akan bertahan. Sekedar pikiran Pak.

    • josef josef says:

      Dear Ferry Butarbutar, terima kasih masukannya. Tantangannya adalah seperti kalimat awalmu:”…MEMAKSA kita memiliki pemahaman….” Kenyataannya memang seperti itu, kita merasa dipaksa atau terpaksa berubah. Bila seluruh organisasi siap dan punya kemauan untuk menerima perubahan, termasuk menerima hal positif dari kehadiran Gen Y, upaya menumbuhkan shared values yang bisa diterima lintas generasi, bisa lebih mudah. Tanpa memikirkan generasi, ada perusahaan yang sengaja merekruit beberapa orang baru dari luar setiap tahun guna membawa angin segar kedalam organisasi. Itu prkatek bagus. Dan perlu juga kita sadari, bahwa ini perlu proses dan perlu waktu, sebuah proses berkesinambungan. Sekali lagi terima kasih inputnya.

  3. tika says:

    Bapak, tks sharingnya. Boleh sharing lebih detil mengenai ‘quality of management’ dan ‘interest in type of work’?

    • josef josef says:

      Terima kasih Tika, Mereka mengharapkan berada di lingkungan kerja, dimana dalam keterlibatan mereka, bisa dirasakan tambahan nilai untuk membuat hidupnya lebih bermakna, suara mereka didengarkan, kesempatan untuk tumbuh dalam profesi mereka. Salam

Leave a Reply to josef Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam

josef:
Terima kasih Tromol, belajar hendaknya menjadi menu harian kita, termasuk belajar menjadi Leader yang handal....

Riski Saputra:
wahhh terimakasih pak atas sharingnya 🙂


Recent Post

  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan
  • Peluang ke Jenjang Lebih Tinggi
  • Bermanfaat Bagi Orang Lain
  • Komitmen Belajar dan Berbagi