Pindah Kerja Sambil Mengajak Anggota Tim

Posted on April 11th, 2014

“Change is not meant to be COMFORTABLE because all change that really matters takes you beyond the limits of your COMFORT zone.” (Che Garmen)

LAMA BEKERJA bersama anggota tim, memberikan manfaat maksimal dalam kerja sama tim, terutama karena sudah bisa mengenal kekuatan dan kelemahan dari setiap anggota tim. Dan untuk membangun tim yang solid seperti itu, memang tidak bisa sebentar. Perlu waktu.

Namun dalam perjalanan waktu, masing-masing akan mengikuti alur karier sendiri-sendiri. Belum tentu masih dalam tim yang sama sepanjang waktu. Tapi kalaupun ada perpindahan dalam organisasi yang sama, maka ini akan sangat membantu bila kita berinteraksi dengan orang-orang dari divisi lain tapi yang pernah bekerjasama dalam satu tim.

Pilihan Karier Bisa di Luar Perusahaan

Kedekatan kita dengan anggota tim, bisa berakhir dengan kesedihan bila ada yang harus memilih karier di Perusahaan lain. Dia bisa saja anggota tim atau juga Pimpinan tim itu sendiri. Dan hal ini lumrah terjadi. Kita sedih berpisah, tapi kita juga gembira mengucapkan selamat karena dia mendapat kesempatan untuk maju dalam kariernya.

Lalu gossip mulai merebak seputar kepergian kawan ini. Mulai dari faktor internal yang mendorong, atau juga kesempatan menarik yang menggoda dari luar. Dinamika seperti itu sering kita alami, sebagai orang yang harus pergi ataupun sebagai tim yang ditinggal.

Namun kita senantiasa berpikir positif, bahwa jalan hidup orang itu bukan kita yang menentukan, bukan juga Pimpinan perusahaan yang menentukan. Dia mungkin hanya sekedar mampir untuk mendapatkan pengalaman untuk perjalanan selanjutnya. Atau dia memang diharapkan hadir di tempat ini, walau hanya sejenak, untuk memberikan kontribusi yang memang diperlukan oleh tim ini.

Bedol Desa

Praktek Mengajak Tim

Saking dekatnya hubungan antar tim, terkadang komentar di saat perpisahaan, “Jangan lupa ngajak-ngajak”. Dan dalam hitungan bulan, kita sudah bisa melihat dampaknya. Satu orang diajak, orang kedua ngikut, dan begitu orang ketiga sudah mulai ancang-ancang untuk pergi, alarm sudah mulai berbunyi. Perusahaan pun sudah mulai membuat berbagai sarana pengikat.

Apapun alat pengikat untuk membuat karyawan untuk tinggal, masih saja ada peluang untuk karyawan bisa menggeliat pergi, setelah membuat perhitungan matang jangka panjang. Karena yang diajak inipun melihat peluang untuk bisa maju sukses bersama tim yang sudah solid, yang bersama dibina selama ini.

Terutama, bila yang ajak adalah Atasannya yang sudah lebih dahulu keluar. Dan tentu saja manfaat yang sudah ada di depan mata adalah kesempatan untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi, atau bahkan promosi ke posisi yang lebih tinggi. Dan perusahaan penerima pun sadar bahwa yang dia tawarkan adalah nilai pasar, yang belum tentu sama dengan nilai jabatan internal selama ini.

Plus Minus dari Kebiasaan Ini

Ada seorang kawan yang selama ini selalu satu tim dengan kawan kedua. Begitu yang pertama keluar, sudah bisa dipastikan bahwa yang satunya juga akan ikut. Ini terjadi sampai 4 kali. Sang head-hunter pun sampai pada kesimpulan, bahwa ketergantungan kawan kedua ini sangat tinggi pada kawan pertama, dan dia sulit untuk cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa bantuan kawan pertama ini.

Ada juga lingkungan lain di mana, karyawan yang di bawah, sebetulnya punya karakter positif, prestasi bagus. Hanya karena atasan yang membawanya punya karakter sebaliknya, dan bermasalah, sehingga karyawan lama yang tidak suka, mulai mencari-cari siapa orang-orang bawaannya. Sampai-sampai kawan yang berprestasi bagus inipun tidak luput dari pertanyaan: dia ini orangnya siapa? Bawaannya siapa? Kita bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya.

Lebih heboh lagi, ada atasan yang membawa banyak anggota tim dari perusahaan sebelumnya. Dan tentu saja mereka adalah karyawan berprestasi gemilang, dengan nilai kompensasi yang juga tidak sedikit. Ini merupakan berita bagus bagi perusahaan baru.

Namun demikian, bila tidak di-manage secara bijak, maka informasi bisa cepat merebak ke seluruh perusahaan tentang karyawan baru yang dibayar (sangat) mahal, bahwa ada kelompok yang dianggap elit dan menjadi anak mas. Ini akan menciptakan lingkungan kerja saling cemburu, tidak saling mendukung dengan sikap: “Biarkan dia yang digaji lebih tinggi bekerja.”

Alhasil, kalau tidak di-manage secara bijak, akan merusak kerja sama tim, dan kalau ini dibiarkan berlarut maka bisa berdampak pada performance tim atau berakibat mereka yang tidak betah bertahan akan pergi.

Kembali ke Comfort Zone?

Mengambil anggota tim dari Perusahaan sebelumnya, di satu sisi menguntungkan dalam konteks kerjasama tim yang sudah dikenal, tapi ada juga sisi lain yang memperlihatkan yang bersangkutan ingin kembali ke Comfort Zone-nya. Percaya dirinya baru muncul hanya dengan orang-orang yang sudah dikenal. Atau dengan kata lain: dia tidak confiden bekerja dengan tim yang belum dikenal.

Dan bila ini terjadi berulang, maka Perusahaan penerimapun harus siap-siap, bahwa suatu waktu Pemimpin Tim ini pergi, dia akan cenderung membawa rombongannya ke tempat baru.

Dalam perjalanan saya di bidang Human Resource, saya sudah terlibat dalam upaya membangun Talent yang tangguh dan berhasil. Pertanyaannya: akankah saya merusak tim tersebut dengan menarik beberapa dari Talent tersebut untuk bergabung di perusahaan baru? Jawabannya adalah TIDAK. Tapi, bukankah itu akan membantu meringankan tugasmu di tempat yang baru?? Tetap jawabannya TIDAK.

“Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to feel awkward and uncomfortable when trying something new.” (Brian Tracy)

Bookmark and Share

10 Responses to Pindah Kerja Sambil Mengajak Anggota Tim

  1. albert tanoni says:

    Excellent !Pak Yosef ….saya setuju dengan sharing Bapak ,positif.

  2. Saritomo says:

    Terimakasih pak Josef atas sharing nya… semoga selalu sehat dan bertambah sukses dan makin banyak yg tersentuh dg wisdom nya Pak Josef

    • josef josef says:

      Terima kasih Saritomo, sukses juga untukmu. Saya akan terus menulis untuk menyapa lebih banyak orang, semoga bermanfaat.

  3. Candrika says:

    Kangen Pak Yos.. inspiring as always..

  4. Rivai says:

    Hi Pak Yosef
    Tulisan Bapak saya alami dan memang menimbulkan iklim yang kurang kondusif di organisasi, bukan hanya orangnya tetapi juga value yang sudah tertanam di organisasi dan tidak mudah di terima oleh new comer.

    salam

    • josef josef says:

      Terima kasih Rivai, kita belajar dari berbagai pengalaman, termasuk yang dialami Rivai sendiri. Terima kasih juga untuk mengunjungi blog ini.

  5. wuwuh says:

    Terimakasih Pak Josef untuk sharingnya….
    Juga info quote dari Brian Tracy….setuju banget…..

    • josef josef says:

      Terima kasih Wuwuh telah luangkan waktu untuk menyimak kisah ini. Semoga kita bisa belajar daei berbagai pengalaman yang sudah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan