Liburan untuk Kebahagiaan Siapa?

Posted on December 18th, 2015

“You will find as you look back upon your life that the moments when you have truly lived are the moments when you have done things in the spirit of love.” (Henry Drummondy)

SAAT INI banyak yang sudah punya rencana jelas untuk liburan akhir tahun. Yang jeli akan melihat, dengan mengambil 4 hari cuti tahunan tanggal 28-31 Desember, dia akan liburan 11 hari dari 24 Desember sampai 3 Januari 2016. Mereka memang rajin mengintip kalendar merah, dan proaktif mencermati berbagai promosi untuk bisa mendapatkan tiket lebih terjangkau ke berbagai destinasi.

Ada yang lagi memegang daftar yang dibuat sendiri dengan judul: “Tempat Wisata Yang harus saya kunjungi sebelum saya Meninggal.” Yang lain santai saja, karena mereka tidak akan pergi jauh. Habiskan waktu bersama keluarga di Jakarta atau sekitarnya.

Liburan untuk Kebahagiaan Siapa

(Libatkan dia dalam menentukan pilihan)

Membuka Mata

Di salah satu momen sebelum saya berkesempatan untuk sharing, ada seorang yang hadir berujar:

“Saya sudah baca bukunya. Dan yang sangat menyentuhku, antara lain kisah: Anakku Mengajarkan Cara Libur yang Benar.”

“Kenapa menyentuh ?” tanyaku ingin tahu

“Saat kami merancang liburan selama ini memang kami (saya dan suami) yang merencanakan. Dan apa yang kami cari?

  • Tempat yang kami belum pernah pergi
  • Rekomendasi teman yang pernah kesana
  • Informasi dari internet
  • Promosi dari travel agent

Semuanya kami cari, diskusikan berdua dan putuskan.”

“Apakah anak bahagia dengan pilihan itu?” Tanya saya lebih lanjut.

“Tentu saja ya, karena sering kami gunakan sebagai motivasi atau hadiah karena dia mendapatkan nilai sekolah bagus dan naik kelas,” jawabnya pasti.

“Bila demikian halnya, apa yang dirasakan salah dalam pengalaman liburan selama ini?”

“Indikator yang kami gunakan bahwa anak (2) senang adalah: mereka antusias ketika diberitahu tentang liburan, mereka terlihat senyum bahagia, pulang libur cerita pamer sama teman-temannya. Tapi satu hal yang baru saya temukan dari buku ini: kami tidak pernah ajak anak untuk diskusi, terutama kalau mereka masih anak-anak. Kedua, kami tidak pernah bertanya tentang apa yang paling membahagiakan anak-anak bila kita liburan….”

Kisah dari Kalimantan

Suara di telepon dari Kalimantan itu terdengar sangat gembira. Saya bahkan bisa merasakan energi positif melalui telepon yang sedang saya genggam.

“Saya harus menceritakan ini kepada bapak. Sesuatu yang sering kita katakan  coincident, tapi bapak bilang tidak, semua terjadi for a reason. Itu yang baru-baru ini saya alami.

Kami sekeluarga barusan berlibur ke Singapore. Bersama anak yang baru berusia kelas satu SD, tentu saja kami berencana untuk mengajaknya ke Universal Studio. Kami sangat yakin dia akan sangat senang.

Usai sarapan kami sudah di loby, siap memesan taksi. Anak saya bertanya: “Mama, kita mau kemana?”

Jawabku tidak kalah semangat:

“Kita mau ke Universal Studio, kamu pasti senang di sana. Kita akan luangkan waktu seharian di sana, agar kamu bisa menikmati berbagai pertunjukan dan mainan di sana!”

Dengan nada kurang gembira, anakku meminta: “Aku mau di hotel saja?”

“Loh, untuk apa?”

“Aku mau nonton CN (maksudnya Cartoon Network).”

Saat itu, saya langsung terdiam, ingat cerita anak bapa, Eka di buku ‘Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku’. Singkat cerita, kami akhirnya tinggal di kamar hotel menemani si kecil nonton Cartoon Network.

Selanjutnya kami merancang liburan, sesekali nginap di hotel selama akhir pekan untuk bisa berenang bersama dan temani nonton CN. Dan tentu saja, kami akan mulai mengajak bicara sang anak untuk mengetahui keinginannya untuk liburan nanti.”

Saya sempat diam tertegun beberapa saat, sebelum menanggapi telepon ini. Betapa kisah sederhana di buku telah menginspirasi teman-teman seantero negeri. Syukur tak terhingga, telah berkesempatan menyebar pikiran positif kepada masyarakat banyak.

“The only rock I know that stays steady, the only institution I know that works is the family.” (Lee Iacocca)

Bookmark and Share

2 Responses to Liburan untuk Kebahagiaan Siapa?

  1. Yoni Uskono says:

    Terima kasih sudah menginspirasi. Tetap semangat menulis dan berbagi inspirasi Bapak Josef Bataona.

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 Yony, seperti yg anda saksikan, saat ini sdh lebih dari 400 artikel hadir di blog, dan saya akan tampilkan artikel baru setiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00. Salam

Leave a Reply to Yoni Uskono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih coach Indra, sukses juga untuk bukumu yang baru: Effective Coaching Skills for Leaders. Salam

Indra Dewanto:
Sukses selalu dan terus menginspirasi Pak Josef Bataona….:)

josef:
Terima kasih sama2 Tromol, satu dua kata yang bermanfaat, kiranya menyejukan. Salam sehat dan sukses

Tromol Sihotang:
Terima kasih pak Josef yang setiap saat memberikan pandangan, arahan dan tentunya bimbingan yang...

josef:
Terima kasih sama-sama bu Dwi Suwarnaning, sukses selalu, salam


Recent Post

  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST
  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement