Posted on September 26th, 2014
“When in Rome, live as the Romans do; when elsewhere, live as they live elsewhere.” (St. Ambrose)
TITIP SALAM dari keluarga di Lamalera. Ini pesan yang dibawa adikku yang baru tiba di Jakarta waktu itu. Ketika saya berangkat ke kantor, dia minta untuk ikut dan diturunkan di tengah kota, karena dia ingin mengantar sekitar 10 pucuk surat yang dititip keluarga di kampung untuk anak mereka di Jakarta.
Keluarga itu berpesan, tolong antarkan sendiri, dan sampaikan surat ini beserta pesan bahwa kami semua sehat-sehat saja. Tentu maksud keluarga itu, adik yang bercerita merupakan kesaksian otentik bahwa keluarga di kampung memang sehat-sehat. “Tapi, apakah perlu diantar sendiri?? Kita bisa poskan, sambil menelpon mereka untuk menyampaikan berita itu!”
Kedua pendekatan itu tidak ada yang salah, karena saya menawarkan dari segi kepraktisan, sementara adik ini terbiasa dengan kebiasaan kampung yang merasa ada tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan langsung. Dan sore itu, diapun bercerita, kalau hanya dua buah surat yang bisa disampaikan hari itu….. dan akhirnya dia setuju menggunakan pendekatan yang saya sodorkan: diposkan.
Surat Undangan
Kejadian tersebut di atas sudah dua puluhan tahun lalu. Dua bulan lalu kami didatangi tamu dari Lampung. Mereka membawa sekantong besar undangan pernikahan untuk keluarga di Jakarta. Dan mereka adalah orang tua calon pengantin. Mereka meluangkan dua hari penuh di Jakarta untuk mengantar sendiri surat-surat tersebut. Katanya menurut adat dan kebiasaan di sana.
Nilai sebuah undangan yang diantar sendiri (bukan dititipkan atau diposkan), adalah nilai tertinggi bahwa mereka menghargai atau menghormati mereka yang diundang. Walaupun kami menyarankan agar mereka poskan saja. Mereka di Jakarta tentu mengerti bahwa kita berjauhan tempat tinggal, tapi mereka tetap memilih mengikuti adat kebiasaan.
Kata mereka:
“Kalian bisa menerima kalau dikirim via pos, tapi belum tentu keluarga lain demikian. Dan kemungkinan untuk mereka hadir akan lebih tinggi.”
Dan ternyata dia benar. Undangan yang hadir malam itu melebihi perkiraan. Siapa yang berani memulai membuat perubahan dari praktek ini?? Ternyata calon pengantin sendiri berani mendobrak tradisi dengan mengenakan pakaian pengantin lebih modern, tidak seperti biasanya menurut tradisi Lampung, dan ternyata BISA.
SMS Undangan: Sebuah Terobosan
Baik pengantin pria maupun pengantin wanita adalah putra/putri tokoh masyarakat yang dikenal luas. Saya kawan dekat ayah pengantin pria. Suatu hari saya menerima pesan di SMS, undangan pernikahan anak mereka.
Awalnya saya pikir karena surat undangan habis, teman-teman dekat cukup diinfo via SMS atau mungkin email. Dan buat saya oke-oke saja.
Ternyata saya keliru.
Semua undangan memang via SMS. Saya pun kagum, walau hampir tidak percaya, bahwa ada tokoh masyarakat yang berani mendobrak tradisi. Saya langsung membalas SMS untuk konfirmasi kehadiran saya. Alhasil, ternyata ruang acara pun penuh sesak, sehingga saya berasumsi bahwa para undangan tidak merasa dikecilkan dengan undangan melalui SMS.
Yang lebih mengagumkan saya lagi, usai menghadiri acara tersebut, belum tiba di rumah di HP saya sudah hadir pesan SMS ucapan terima kasih karena telah berkenan hadir dan mendoakan pengantin. Sungguh luar biasa.
Di Mana Batas Jumlah Undangan??
Di kesempatan lain, saya menerima undangan pernikahan anak seorang Presiden Direktur Perusahaan terkenal. Tidak seperti biasanya ballroom hotel penuh sesak. Ternyata jam 19:00 pengantin sudah langsung di pelaminan, dan semua yang sudah hadir langsung menyalami pengantin dan menikmati hidangan yang tersedia.
Kitapun bisa ngobrol leluasa dengan teman-teman lain. Ternyata ini adalah acara pernikahan kedua kalinya, di mana pada pernikahan anaknya yang pertama, ribuan yang diundang, tapi bahkan banyak diantara mereka yang tidak bisa mencapai lobby tempat acara. Banyak yang kecewa dan langsung pulang.
Dalam kasus kedua pun banyak yang kecewa, karena tidak diundang. Tapi dalam posisinya sebagai tokoh masyarakat, dia berani merombak tradisi, dengan berani memangkas undangan. Prioritas undangan adalah teman-teman kedua pengantin, kelompok prioritas kedua adalah keluarga kedua pengantin, baru terakhir yang dibatasi adalah teman-teman orang tua pengantin, yang umumnya dianggap sebagai tokoh-tokoh masyarakat yang paling penting dan paling banyak mengingat jaringan sosial yang dimiliki kedua orang tua.
Orang boleh berargumentasi: ini sekali dalam seumur hidup. Tapi pasti ada sisi yang bisa didobrak: entah tradisi tidak efektif/efisien, cara mengirim undangan, cara memilih jumlah undangan, cara dan tempat penyelenggaraan acara, dan lain-lain. Dan seperti perubahan pada umumnya, diperlukan keberanian untuk memulai dan kebesaran hati untuk menanggung berbagai resiko, yang dalam kisah seperti di atas adalah resiko sosial dari berbagai reaksi masyarakat.
“If you want to be in the world I live in, which is a creative world with new ideas, then you’ve got to get away from the norm. You’ve got to go for it.” (Jerry Weintraub)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...