Dari Best Practice Menuju Next Practice

Posted on July 31st, 2026

“Growth is the only guarantee that tomorrow is going to get better.” (John C. Maxwell)

Sebagai anggota Dewan Juri Indonesia HR Excellence Award 2026, saya mendapat kesempatan yang berharga untuk menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai perusahaan di Indonesia mengelola, mengembangkan, dan memberdayakan sumber daya manusianya.

Ajang yang diselenggarakan oleh SWA Media Group bersama LM FEB UI ini mengangkat tema “Accelerating Sustainable Growth through Engineering Human Performance.” Sebuah tema yang sangat relevan dengan tantangan dunia bisnis saat ini: bagaimana organisasi dapat bertumbuh secara berkelanjutan melalui pengelolaan manusia yang semakin efektif, adaptif, dan bermakna.

Di balik berbagai presentasi, diskusi, dan proses penjurian yang berlangsung , terdapat sejumlah pembelajaran menarik tentang arah perkembangan fungsi Human Resources di Indonesia. Berikut foro Bersama penerima penghargaan.

Dunia Berubah Cepat, HR Tidak Bisa Berjalan Biasa-Biasa Saja

Salah satu benang merah yang muncul hampir di semua sesi penjurian adalah kesadaran bahwa perubahan berlangsung semakin cepat dan semakin kompleks.Teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekspektasi generasi muda, dinamika ekonomi global, hingga perubahan pola kerja pascapandemi telah mengubah lanskap pengelolaan SDM secara fundamental.

Teknologi kini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bisnis. Namun menariknya, perusahaan-perusahaan terbaik tidak terjebak pada euforia digitalisasi semata. Mereka justru berusaha menemukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan (human touch). Karena pada akhirnya, teknologi dapat membantu proses, tetapi manusialah yang memberikan makna.

 

Learning Menjadi Investasi Strategis

Dari berbagai kategori yang dinilai, Learning & Development masih menunjukkan tingkat kematangan yang relatif tinggi. Perusahaan-perusahaan unggulan tidak lagi mengukur keberhasilan pembelajaran hanya dari jumlah jam pelatihan yang diikuti karyawan. Fokus mereka bergeser pada dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi, kesiapan menghadapi masa depan, dan kontribusi terhadap kinerja bisnis.

Mereka memahami bahwa tantangan terbesar bukan hanya menutup kesenjangan kompetensi saat ini, tetapi juga mempersiapkan talenta yang dibutuhkan beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, strategi bisnis dan strategi pengembangan talenta semakin berjalan beriringan.

 

Talent Acquisition Semakin Kreatif

Salah satu kategori yang menarik perhatian tahun ini adalah Employer Branding dan Talent Acquisition. Persaingan mendapatkan talenta terbaik semakin ketat, terutama di kalangan generasi muda yang memiliki lebih banyak pilihan karier dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, pendekatan rekrutmen pun berubah. Banyak perusahaan mulai melibatkan generasi muda dalam merancang sekaligus menjalankan program employer branding. Mereka hadir di kampus-kampus, berbicara dengan bahasa yang lebih relevan, dan membangun hubungan yang lebih autentik dengan calon talenta. Perusahaan menyadari bahwa merekrut bukan sekadar mengisi posisi kosong, tetapi membangun hubungan jangka panjang dengan talenta masa depan.

 

Wellbeing Bukan Lagi Program, Tetapi Strategi

Sebelum pandemi, wellbeing sering dipandang sebagai program tambahan. Kini situasinya berbeda. Perusahaan-perusahaan yang tampil menonjol dalam penjurian memperlihatkan bahwa wellbeing telah menjadi bagian dari strategi organisasi. Tujuannya bukan sekadar menyediakan aktivitas atau fasilitas, melainkan memastikan karyawan benar-benar merasakan manfaatnya. Semakin banyak organisasi yang memahami bahwa keterikatan karyawan (employee engagement) tidak bisa dibangun hanya melalui slogan atau kegiatan seremonial. Karyawan akan memberikan kontribusi terbaik ketika mereka merasa dihargai, didukung, dan diperhatikan sebagai manusia.

 

HR Semakin Menyatu dengan Bisnis

Temuan lain yang menggembirakan adalah semakin kuatnya keterhubungan antara strategi HR dan strategi bisnis. Banyak presentasi menunjukkan bahwa program-program HR dirancang dengan titik awal yang jelas: kebutuhan bisnis.

Bahkan ada juga pimpinan bisnis/perusahaan hadir langsung dalam proses penjurian untuk menjelaskan bagaimana inisiatif HR mendukung pertumbuhan perusahaan.

Hal ini menunjukkan perubahan paradigma yang penting. HR bukan lagi sekadar fungsi pendukung (support function), melainkan mitra strategis yang ikut menentukan keberhasilan bisnis. Lebih jauh lagi, perusahaan-perusahaan terbaik memperlihatkan bahwa pengelolaan SDM bukan hanya tanggung jawab Divisi HR. Para pemimpin di seluruh lini organisasi turut mengambil peran aktif dalam mengembangkan, membimbing, dan memberdayakan tim mereka.

 

Konsistensi Menjadi Pembeda

Dalam proses penjurian, inovasi tentu penting. Namun yang sering kali menjadi pembeda justru konsistensi. Perusahaan-perusahaan yang telah lama berpartisipasi dalam ajang ini memperlihatkan komitmen yang kuat untuk terus memperbaiki diri. Mereka tidak hanya menghadirkan ide-ide baru, tetapi juga menggunakan alat ukur secara disiplin untuk mengevaluasi dampak program yang dijalankan. Budaya perbaikan berkelanjutan inilah yang membuat mereka yakin bahwa kinerja unggul tidak muncul secara otomatis. Ia merupakan hasil dari serangkaian proses yang dirancang dengan baik, dijalankan secara konsisten, dan didukung oleh kepemimpinan yang kuat.

Organisasi yang unggul tidak menunggu krisis datang sebelum berbenah. Mereka mempersiapkan diri jauh sebelumnya. Mereka membangun kapabilitas, budaya, dan sistem yang memungkinkan organisasi tetap tangguh menghadapi perubahan. Dalam semua itu, nilai-nilai perusahaan (corporate values) tetap menjadi perekat utama. Dan para pemimpin memiliki peran strategis sebagai teladan yang menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan sehari-hari.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, sehebat apa pun sistem yang dibangun, pusat dari seluruh proses ini tetaplah manusia. Karena semua karyawan, apa pun generasinya, apa pun jabatannya, dan di mana pun mereka bekerja, adalah manusia. Ketika organisasi mampu memperlakukan mereka sebagai manusia, menghargai martabatnya, mengembangkan potensinya, dan mengangkat harkatnya sebagai manusia, di situlah fondasi pertumbuhan berkelanjutan sesungguhnya dibangun.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Indonesia HR Excellence Award 2026: prestasi memang layak dirayakan, tetapi masa depan selalu dibangun oleh mereka yang terus belajar, berinovasi, dan bergerak dari Best Practice menuju Next Practice.

“Ketika manusia dimuliakan, potensi dibangkitkan. Ketika potensi dibangkitkan, kinerja akan mengikuti.” (Josef Bataona)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...

Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..

josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam

sofia:
Do you care about me (connection)? Can you help me (competency)? Can I trust you (character)? ini yang akan...

josef:
Terima kasih coach. Kita saling berbagi inspirasi. Di blog ini ada lebih dari 1000 tulisan. Yang baru...


Recent Post

  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama
  • Menjadi Cermin Kepemimpinan