Posted on October 30th, 2018
“As you remove toxic people from your life, you free up space and emotional energy for positive, healthy relationships.” (John Mark Green)
TIM YANG KOMPAK. Itulah tim yang bersatu melangkah, dengan irama yang sama menuju masa depan bersama. Masing-maing mempunyai kekuatan sendiri, kekhususan sendiri, karena itulah yang dibutuhkan oleh perusahaan, keberagaman talenta.
Awalnya semua berjalan lancar. Lalu muncul hal yang belum tentu kita sama-sama duga sebelumnya. Ada saja yang mau memanfaatkan cara yang tidak terpuji.
Kebiasaan membicarakan orang lain di belakangnya, atau menggosipkan teman dengan bumbu penyedap yang sebetulnya kurang sedap. Tim bisa goyang karena terpengaruh omongan yang bersangkutan. Orang ini bisa menjadi toxic yang kalau dibiarkan cukup berbahaya.
Satu Toxic Person Bisa Merusak Seluruh Team
Dalam sesi Certified Human Resources Professional Program Batch 45, (foto berikut adalah foto usai sesi) ada peserta yang bertanya: “Bagaimana menghadapi karyawan yang disebut ‘Toxic Employees’?”

Beberapa kemungkinan munculnya yang disebut toxic employee:
1. Tabiat membicarakan orang lain di belakang. Orang seperti ini biasanya ada di setiap perusahaan. Yang type ini bisa dikoreksi:
2. Specialist job. Tenaga-tenaga specialist tersebut, bila diperlakukan khusus dan berlebihan oleh pimpinan bisa membuat mereka merasa istimewa, lebih penting dibandingkan dengan yang lain. Mereka bisa berubah untuk memperlakukan orang lain disekitarnya dengan cara tidak semestinya, karena merasa dia orang yang penting dan dibutuhkan.
3. Pembiaran. Dalam kasus kedua tersebut, bilamana atasannya sepertinya membiarkan saja, terutama karena keahlian khusus dan orang ini punya performance bagus dan sangat dibutuhkan, maka lama kelamaan orang tersebut seakan mendapatkan peneguhan bahwa dia istimewa dan perilaku yang kurang baik pada rekannya juga oke. Yang seperti ini, atasan yang punya peran penting untuk melakukan koreksi, ajak yang bersangkutan untuk diberi pengertian. Sesi coaching sederhana bisa membantu.
4. Ada kedekatan dengan top leader. Ada yang memang bergabung dengan perusahaan melalui jalan tol, karena ada kedekatan dengan top leader. Secara system mestinya nggak apa-apa asal ada posisi kosong dan yang bersangkutan mempunyai kualifikasi untuk posisi yang akan diisi. Namun dalam perjalanan waktu, ada saja yang merasa punya kedekatan dengan yang atas lalu meremehkan rekan lain, seakan menuntut untuk harus diperlakukan lebih dari yang lain, dan masih banyak lagi kemungkinan yang bisa terjadi. Cilakanya lagi kalau orang ini punya kebiasaan seperti type satu, sering melapor ke atas dengan bumbu yang tidak sedap.
Berikut foto bersama peserta yang beruntung mendapat hadiah buku diakhir sesi CHRP #45.

Bagaimana Kalau Atasan yang Toxic?
Pertanyaan peserta pertama bahkan mentriger penanya kedua: Bagaimana kalau yang toxic itu atasan sendiri? Maksudnya? Saya menyampaikan presentasi, hadir juga atasanku, tapi dia malah men-challenge saya habis-habisan, sampai saya sempat berpikir kalau dia ingin menjatuhkan saya. Pemikiran ini muncul karena bukan sekali ini saja.
Salah satu saran yang bisa saya berikan adalah, saat membahas isi presentasi dengan atasan, bicarakan dengan beliau untuk men-challenge atau beda pendapat atau tidak setuju saat itu, dan tidak melakukan itu saat presentasi. Ini untuk menghindari kesan seakan-akan saya beda pendapat dengan atasan. Dan masih ada banyak contoh seperti itu.
Sementara itu ada tulisan popular di social media yang berani mengatakan hidup ini terlalu singkat. Bila itu adalah perilaku boss-mu, sekarang juga layani telepon headhunter. Apa memang demikian? Saya sendiri masih memberikan alternative lain.
Meredam EGO
Bila memang langkahmu adalah memilih untuk keluar saya cenderung bertanya: Apa pelajaran yang sudah diraih dari peristiwa yang dialami di perusahaan itu bersama atasanmu atau dengan teman-temanmu? Jawabannya akan menjadi penting karena waktu sekian lama akan terbuang percuma kalau tidak ada pembelajaran yang didapat.
Sementara itu ada kawan lain yang akhirnya memutuskan keluar, tapi belum mendapatkan pekerjaan. Emosional, padahal saya barusan memberikan mereka sebuah tip tentang “leading self” adalah kemampuan mengelola emosi. Melalui coaching pendek yang bersangkutan menyadari, bahwa pelajaran utama yang harus dia lewati di lingkungan seperti ini adalah mengasah kemampuannya untuk meredam EGO, berpikir sebelum bertindak dan tidak emosional.
Bravo untuk teman ini. Semoga dia lulus meredam EGO, walau nantinya dia putuskan untuk pindah perusahaan. Sementara itu, saran saya, jaga kesehatan, hindari stress, jaga nutrisi yang cukup dan dapatkan dukungan dari teman dan keluarga.
“Don’t let toxic people infect you with the fear of giving and receiving one of the most powerful forces in this world… LOVE!” (Yvonne Pierre)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Selamat pagi Pak Josef, benar sekali ya Pak, kita sebaiknya mengelola ego dalam setiap situasi. Hal itu juga dapat mendewasakan ya Pak. Terima kasih Pak Josef.
Terima kasih Santi, semua kejadian pasti ada hikmatnya, tergantung bagaimana kita menanggapinya.