Posted on August 27th, 2021
“My father didn’t tell me how to live; he lived and let me watch him do it.” (Anonymous)
SAAT DIBUTUHKAN alam semesta akan menghubungkanmu dengan mereka yang siap belajar. Ada yang akan memfasilitasi, “connecting the dots” menghubungkan mereka yang juga sedang mencari untuk mendapatkan pelajaran untuk pengembangan diri. Yang mau belajar, terus bertanya pada diri sendiri, bisakah saya menjadi seorang “Role Model?.” Bagaimana saya tahu kalau saya menjadi contoh, panutan yang ditiru dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, tempat kerja atau masyarakat? Tentu saja yang dimaksud adalah contoh positif.
Banyak Kebaikan sekitar kita
Topik yang dibahas adalah Successful Leader as Role Model. Pembicara pertama, pak Eddie Sarwono, Director HC United Tractors juga memaparkan dengan sangat menarik, sambil memberikan berbagai contoh keseharian yang muda dicerna, menginspirasi dan bisa diterapkan. Saya kemudian memilih menampilkan slide ini untuk memprovokasi sekitar 300an peserta untuk menjadikannya sebagai anchor, saat saya bercerita melalui slide2 berikutnya.

Saya ingin mengajak semua peserta untuk mulai dengan langkah sederhana, melatih diri setiap hari untuk melihat HAL BAIK dalam diri siapa saja yang mereka temui, hal baik dari apa saja yang dialami setiap hari. Dengan demikian, pada kesempatan pertama, sebelum memikirkan menjadi role model, kita fokus pikiran kita pada hal-hal positif. Kata orang bijak, alam semesta akan menghadirkan didepan kita apa yang kita fokus, yang kita sungguh perhatikan (pay attention to). Dalam hal ini, kebaikan dalam diri orang lain.
Perubahan Mulai Dari Diri sendiri
Dengan langkah sederhana seperti itu, saya mengajak peserta untuk menyimak keseharian di rumah. Saya sendiri belajar banyak dari orang tua saya. Slide berikut memperlihatkan bagaimana ayahku mengajarkan untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya, dan senantiasa melaksanakan semua tugas kewajiban dengan sepenuh hati. Disamping itu saya juga belajar dari pengalaman ayah saat meninggalkan mata pencaharian sebagai nelayan dan mulai belajar membuat batu bata untuk bangun rumah. Saat itu tak ada satu rumahpun yang menggunakan batu bata, semuanya dari gedek.

Pelajaran berharga dari beliau adalah menjadi pelopor dan berani mengambil resiko, termasuk resiko bagi keluarga bila langkah dia tidak berhasil. Saat kuliah, baru dengar cerita tentang pengalaman dua salesman sepatu yang dikirim ke India. Yang pertama mengirim pesan balik ke kantor pusatnya, disini tak ada peluang menjual sepatu karena tak ada yang pakai sepatu. Sementara, salesman kedua mengirim pesan dengan penuh gairah, peluang pasar sungguh luar biasa karena mereka tidak pakai sepatu. Bapa Sindolfus Bataona, tidak belajar Marketing atau Sales. Tapi intuisinya bekerja tajam, saat memutuskan untuk belajar membuat batu bata. Ini ilmu lain lagi, yang baru saya dapatkan setelah belajar Intuitive Coaching.
Be Genuine and Be Present
Sebagai seorang leader, kita diharapkan untuk hadir di tengah team kita, bisa digapai (approachable) oleh karyawan kita. Be present mengandung makna, saat mereka membutuhkan kehadiran kita, kita ada untuk membantu bahkan untuk melayani mereka. Ini kontras dengan kondisi dimana secara fisik kita memang ada, tapi team atau karyawan kita tidak merasakan manfaat kehadiran kita sebagai pemimpin.
Kehadiran kita diperlukan untuk menyampaikan apa yang harus dikomunikasikan kepada karyawan. Misalnya berkaitan dengan bagaimana seharusnya kita hidup dalam keberagaman team dengan landasan values yang kita punyai demi mencapai visi/misi perusahaan kita. Penyampaian seperti ini tidak sekali, tetapi perlu diartikulasi berkali-kali di setiap kesempatan. Namun yang paling penting adalah, karyawan yang mendengarkan, merasakan ketulusan dari seorang pemimpin. Mereka percaya bahwa selain kata-kata bijak yang mereka simak, mereka juga akan mencontoh keseharian sang pemimpin itu. Mereka terinspirasi dengan ajakan untuk bertindak, karena mereka mempunyai referensi contoh positif yang ada di depan mata. Para pemimpin sepenuhnya sadar bahwa mereka hidup di rumah kaca. Semua kata dan perbuatan mereka disaksikan secara gamblang oleh karyawan mereka.
Sayapun tak bosan2nya memberikan contoh kunjungan kerja saya bersama tim kantor pusat ke daerah, termasuk ke perkebunan tebuh di Komering atau Perkebunan Kelapa Sawit di Balias. Saya mengajak serta team untuk bisa belajar bisnis dan mengenal pelaku bisnis di lapangan. Saya selalu menyampaikan bahwa belajar bisnis, bukan dengan duduk di belakang meja, tapi turun ke lapangan. Dan disana saya sebagai seorang pemimpin hadir, menyapa mereka, berdialog, dan mendengarkan apa yang memang ingin disampaikan karyawan untuk ditindak-lanjuti.
Kita tampil setiap hari dalam momen yang berbeda-beda, termasuk dalam situasi pandemic ini, dimana kita muncul melalui media digital. Saat anda tampil, saat nama anda disebut, apa yang diharapkan muncul di kepala orang lain? Mudah-mudahan kesan positif yang muncul secara spontan, bahkan saat anda tidak secara fisik hadir, tetapi hanya dengan mendengar namamu.
Tips Sederhana
Saat ini, mungkin sudah banyak referensi role model yang menjadi panutanmu. Namun tidak berhenti disitu. Sudah saatnya juga untuk terus belajar menempah diri menjadi pribadi yang bisa menjadi panutan. Pesan sederhana berikut ini yang saya ambil dari tulisan Gina Arnold (https://medium.com/philosophy-logic/on-role-models-9f62fdaeb450) bisa menjadi pegangan kita untuk mengambil langkah kecil. Di tingkatan manapun saat ini kita berada, kita harus terus belajar menjadi Role Model, menjadi panutan bagi siapa saja, baik di keluarga, masyarakat ataupun di tempat kerja.

Saya masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Saya juga terus belajar untuk menyentuh lebih banyak hati dalam perjalanan hidup kedepan, menginspirasi lebih banyak orang untuk terus sukses dan menjadi pribadi yang lebih baik, hari demi hari.
“My biggest thing about being a role model is whatever I’m preaching, I’m practicing.” (Gigi Hadid)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Terima kasih Besa atas pencerahan ttg role model. Mulai dari diri sendiri dan titik terdekat di sekitar kita.
Terima kasih suster untuk kunjungan ke blog, kita saling belajar, saling mengingatkan. Salam sehat selalu
Selamat pagi Pak Josef, tulisan Bapak bagai oase bagi saya di tengah hiruk pikuk keseharian, yang kadang melupakan waktu untuk belajar dan memperbahurui pengetahuan. Sangat berkesan dengan bagian tulisan Bapak pada bagian Be Genuine & Be Present. Terima kasih Pak Josef
Terima kasih Santi, sebagai individupun kita perlu genuine dan present terutama bersama mereka dalam satu team atau bahkan bersama keluarga tercinta di rumah. Ini akan menjadikan kehadiran kita bisa memberikan nilai tambah bagi yang lain. Salam