Posted on February 4th, 2022
“The only change that is really going to dramatically affect your life is you.” (Jim Rohn)
NIAT BAIK dari kita semua untuk mengubah lingkungan sekitar kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, patut dihargai. Dan usaha ini terus berkelanjutan dengan intensitas yang berbeda-beda. Bila setiap kita memberikan kontribusi, seberapapun kecilnya untuk lingkungan lebih baik, maka saya yakin, kebaikan itu akan nampak, sambil memberikan kita konfiden bahwa kita bisa. Karena itu, tidak berlebihan bahwa di awal tahun ini, saya mencoba refleksi dengan bertanya kepada diri sendiri: semua sekitarku terus berubah, apakah saya siap berubah? Bagaimana saya menanggapi perubahan ini, sambil tetap menjadi diri sendiri (Be Myself). Bagaimana saya memberdayakan semua resources yang saya punyai, belajar daripadanya untuk membantu perubahan ini. Tak kalah pentingnya, kebiasaan apa yang harus saya bangun, untuk menunjang niat tersebut?
Perubahan Mulai dari Saya
Dalam beberapa sharing baru-baru ini, dimana saya dan beberapa teman berbagi pengalaman yang kami sajikan dalam sebuah buku yang baru terbit di awal tahun 2022 ini: BERUBAH atau PUNAH, Bertransformasi di Tengah Disrupsi, saat kita bicara tentang berubah, semua setuju bahwa perubahan itu harus terjadi. Yang menarik adalah muncul beberapa pertanyaan: Bagaimana meyakinkan BOD kami bahwa kita perlu berubah. Bagaimana kami di local membuka mata pimpinan di kantor pusat, bahwa kita berada di ambang keruntuhan, dan sebagainya. Penanya melihat bahwa yang harus berubah adalah orang lain. Atau setidaknya, orang lain yang harus sadar bahwa perubahan itu diperlukan, bukan saya. Sementara itu, kita sering mendengar ungkapan bahwa perubahan seharus mulai dari diri saya sendiri. Tapi kita juga mempunyai ungkapan lain yang mengatakan, kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Saya terus merasa terpanggil untuk melakukan refleksi, bagaimana saya bisa mulai berubah, apa yang perlu saya lakukan, perilaku keseharian apa yang perlu saya ubah untuk menunjang niat saya untuk memulai sebuah perubahan.
Menuju Dunia Yang Lebih Baik
Kutipan berikut sepenuhnya merupakan bagian renungan untuk saya sendiri, dalam merancang apa yang saya perlu lakukan, dalam menanggapi berbagai perubahaan yang terjadi begitu cepat disekitarku.
Kata-kata ini ditemukan di batu nisan Anglican Bishop yang dikuburkan di Westminster Abbey:

Sumber: “I wanted to change the world.” – Unknown Monk (docmeek.com)
Semoga mata dan hati saya lebih terbuka lebar untuk melihat perubahan yang bisa dimulai pada diri saya sendiri, yang bisa memberikan dampak beruntun pada perubahan di keluarga, kemudian masyarakat di sekitarku. Dampak lanjutan, semoga kita bersama bisa berkontribusi membuat Indonesia dan Dunia yang lebih baik.
“You need to have a heart of gratitude and thanksgiving. Always do your best to be grateful for everything that comes your way. It is one of the best ways to live happily with yourself.” (Jordan B. Peterson)
josef:
Terima kasih untuk testimoni Randy. Senang dengan progress yang dialami. Perjalananmu masih panjang, banyak...
Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....