Ajari Saya menjadi HR yang Strategic

Posted on July 2nd, 2013

“If you pick the right people and give them the opportunity to spread their wings – and put compensation as a carrier behind it – you almost don’t have to manage them.” (Jack Welch)

HARI ITU ada pesan WhatsApp yang mampir ke Hpku, “Sore Pak Josef, tolong ajari saya gimana caranya menjadi HR yang strategic ya pak?”

Karena alasan confidential saya tidak menyebut nama pengirim pesan ini, tapi sebut saja Mety. Dengan latar belakang Accounting, dia bekerja di HR. Pernah mengikuti Certified Human Resource Professionals, program di mana saya juga menjadi salah satu fasilitatornya. Itu alasannya, kenapa dia menghubungi saya.

Belajar Diving

Permintaan Mety tersebut bisa diumpamakan dia minta saya mengajarinya Diving. Bila permintaannya dikabulkan, mungkin pelajarannya bisa dilakukan di kolam renang untuk belajar renang dan teknik diving. Tapi bukan di sana tempatnya diving. Dia harus berada di tempat di mana teknik diving itu bisa diimplementasi: di laut.

Dan ternyata tidak di semua laut. Ada spot tertentu. Beruntung di Diving, mereka punya seorang pendamping yang namanya buddy. Berikut ini rangkaian dialog via WhatsAPP:

Pertanyaan pertama (JB): “Apakah Mety ada di HR dan pekerjaannya ngurusin strategy?”

Mety: “Supposedly iya pak, tapi limited resource membuat saya trapped di operasional.”

JB: “Mety perlu tim yang bisa support. Pertanyaan berikutnya, Prioritasnya apa?? Prioritas ini tergantung prioritas bisnisnya apa??”

Mety: “Prioritas bisnis (ini menurut saya, karena HR Director saya juga tidak pernah info atau beliau juga tidak tahu?) adalah produktivitas untuk bisnis increase dan retention karena banyak orang keluar. Sepertinya masalahnya sudah sistemik sehingga kita masih fire-fighting saja.”

HR dan Values to the Business

Misalkan saja, asumsi Mety ini betul, karena dia dapatkan input dari sumber lain di bisnis, pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa dilakukan oleh Mety, sementara lingkungan di bawah pimpinan atasannya tidak mengagendakan Produktivitas dan Retention sebagai elemen yang penting dalam program kerjanya. Saya lanjutkan dialognya:

JB: “Tahu kenapa produktivitas rendah dan orang pada keluar?”

Mety: “Tidak jelas systemnya. Atasan tidak supportif. Tidak ada clarity. Itu kami dapatkan dari exit interview.”

JB: “Mungkin saja dari sini sumbernya: agenda atasanmu tidak jelas dan sekaligus tidak suportif.“

Mety: “Saya tahu sih pak, atasan saya tidak jelas. Means saya ga usah mikirin strategic dulu ya? Beresin yang basic HR-nya dulu. Tapi saya lama-lama bosan sendiri karena itu-itu terus. Jadi rutin dan nggak maju-maju.Lebih mengenaskan, HR Director saya tidak dianggap oleh peersnya, dibilang tidak strategic. Dan leadership style para directors juga nggak jelas sehingga para karyawan menggunjingkan.”

JB: “Bukankah itu berarti para petinggimu adalah bagian dari problem?? Pernahkah memikirkan alternative lain? Lingkungan kerja yang lebih menunjang??”

Team HR di layer bawah, terkadang berusaha dengan sepenuh hati untuk menjadikan kehadiran mereka sebagai orang HR berarti demi menambah nilai terhadap bisnis. Mereka belajar konsep, dan ingin menerapkannya. Namun kandas, hanya karena lingkungan tidak mendukung. Ibarat ikan, mereka ingin berada di air, kalau perlu di laut luas, agar membuat mereka bisa berenang, leluasa mengeksplorasi kemungkinan untuk menerapkan ilmu yang mereka punyai.

Dan ketika memberikan persetujuan untuk mengangkat soal ini, Mety juga minta tolong teman-teman lainnya untuk memberikan dia pandangan, ide, saran. Dan terima kasih sebelumnya atas nama Mety.

“Everybody is genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it’ll spend its whole life believing that it is stupid.” (Albert Einstein)

Bookmark and Share

10 Responses to Ajari Saya menjadi HR yang Strategic

  1. Damianus Rangga says:

    Pagi Pak Josef, saya mohon info, dimana saya boleh mendapatkan program certified human resource professionals, apakah ini semacam kursus atau training dan kira-kira program ini berapa lama saya harus ikuti dan ttg biayannya apakah boleh terjangkau utk ukuran gaji level staff. Kenapa saya butuhkan pendidikan ini, siapa tau dpt memperbaiki karier saya, krn tlh 16 thn sbagai staff HR, grade dan posisinya tetap sama. ATAU paling tidak sebagai Knowledge. Maaf sangat teknis yg saya tanyakan.Terima kasih.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus, hubungi Maria, administrator CHRP +62 858 88431600, atau datang langsung ke Atma Jaya Semanggi, program dilaksanakan sore hari. Dapatkan informasi disana kalau berminat

  2. Benny says:

    Terima kasih sharing nya Pak Josef..

    Situasi ini pasti banyak yang mengalami, saran saya Mety mungkin bisa fokus untuk melakukan hal hal yabg sifatnya tactical, yaitu yang bisa dilakukan secara kecil kecil dulu, yang sekiranya bisa membawa impact sehingga impact itu bisa (mungkin) mempengaruhi di tingkat strategic

    Yang penting mety harus terus menjadi The Catalyst. The Catalyst bisa membuat perubahan dengan minimum resources dan growing from within 🙂 kalau boleh share, ada mantra yang aku dapat dari training Organic Growth (Designed by Prof Jeanne Liedtka), yaitu: Fail Fast, Fail Cheap 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Benny, dan terima kasih atas sarannya untuk Mety. Kita semua belajar juga dari komentarmu. Mety pasri mendapat semangat baru

  3. Zulfikar says:

    Kondisi ini hampir persis saya alami di perusahaan saya sekarang pak Josef. Lingkungan saya sangat tidak mendukung utk memikirkan hal-hal strategic mengenai HR, karena para petinggi2 masih terkungkung dalam hal-hal operasional personalia,dan sangat resisten utk menerima perubahan. Sebenarnya saya mau menjadi change agent di perusahaan ini, namun saya tidak memiliki power yang cukup utk menembus ke atas, karena sering kali kandas di atasan saya sendiri,blm sampe ke manajemen. Yaaa masih berlaku istilah “yang muda belum boleh bicara”..

    • josef josef says:

      Terima kasih Zulfikar untuk sharingnya. Yang penting Zulfikar sudah mencoba. Kalaupun belum berhasil, paling tidak ada pengalaman yang bermanfaat untuk langkah selanjutnya. Terima kasih juga untuk kunjungannya ke blog ini

  4. uray ali says:

    Dear Mety,
    Sekedar sharing: Anda sudah memiliki (yang menurut S.C/ Stephen Covey)disebut : Circle of concern. Karakter yang dibutuhkan dalam lingkungan tersebut (juga menurut S.C.) adalah abandon mentality Kemudian lakukan pula habit ” End in mind ” dan teruslah sharpen the saw. Insya Allah akan Anda temui ” Menjadi HR yang strategic”

    • josef josef says:

      Terima kasih mas Ali, input yang bermanfaat untuk Mety dan lainnya yang mengalami hal serupa. pandangan Stephen R. Covey itu bisa jadi panduan. Sekali lagi, terima kasih

  5. Agnes Murniati says:

    Wah Pak Josef… artikelnya seperti curhatan saya ke Bapak hehehehe….

    Kalau saya boleh sharing… Saya juga mungkin seperti mbak Mety. Yang skrg saya lakukan sekarang adalah ber-proses. Saya memutuskan untuk “menyelam” dan berproses belajar di dalam laut… “Enjoy” the process … dan saya yakin suatu hari akan tiba saatnya saya mengambil keputusan output dari proses ini. Semangat mbak Mety!!!

    • josef josef says:

      Terima kasih Agnes. Melalui upayah serius siapa tahu ada jalan keluar. Yang perlu kita sadari adalah, ini bukan kebetulan seseorang mengalami hal seperti itu. Tentu ada alasannya, paling tidak demi pembelajaran untuk masa mendatang. Terima kasih untuk sharing dan kata2 meneguhkan untuk Mety.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life