Di Balik Tameng Menyalahkan Orang Lain

Posted on June 5th, 2015

“The day you stop blaming others for reasons why you did something and messed up will be the day you start REALLY living.” (Unknown)

ENTAH ITU DI RUMAH, di tempat kerja ataupun di tengah masyarakat, penyakit ini bisa bertumbuh subur. Celakanya lagi, bisa masuk kategori penyakit menular kalau tidak ditemukan obat penyembuh atau pencegahnya. Dan begitu menular, dia bekerja secara diam-diam tapi pasti, merasuk kedalam orang-orang sekitarnya, sampai akhirnya kita semua menyadari bahwa sebagian anggota tim kita sudah terkontaminasi.

Namun banyak juga contoh nyata, dimana obat antidotnya sudah diberikan sejak anak usia dini, di sekolah, di rumah dan juga di komunitas sosial keagamaan. Penyakit apa itu? Nama kerennya “Scape Goat” atau Blaming Others alias menyalahkan orang lain sekaligus mencari kambing hitamnya.

Keep calm and stop blamming others

Sore itu di sebuah kafe, ringan saja obrolan kami. Teman lagi curhat, sering disalahkan untuk kesalahan yang dibuat orang lain. Sering dimarahi dengan alasan yang ada pada orang lain.

Dan pagi itu, saya juga menerima telepon dari kawan lain, yang sering kena semprot bossnya dengan alasan yang tidak jelas. Kalaupun ada alasan yang jelas (paling tidak di mata kawan ini), itu karena bossnya lagi stress, tidak mood.

Apakah kebetulan dua peristiwa itu terjadi di hari yang sama? Yang saya percaya, adalah universe memberikan saya kisah yang saya perlukan untuk dirangkai menjadi pembelajaran.

Orang Tua atau Atasan Sebagai Role Model

Banyak pelajaran yang kita dapatkan dari contoh orang yang ada di sekitar kita. Tetapi pengaruh paling kuat adalah datang dari mereka yang juga membentuk hidup atau karakter kita dalam perjalanan hidup kita.

Stephen Covey juga meninggalkan kita pesan:

“Role modeling is the most basic responsibility of parents. Parents are handing life’s scripts to their children, scripts that in all likelihood will be acted out for the rest of the children’s lives.”  

Dengan asumsi orang sudah hidup mandiri lepas dari orang tua sejak berumah tangga, maka boleh dikatakan sebagian besar gaya hidupnya, perilakunya juga turut dipengaruhi oleh unsur lainnya di masyarakat atau di tempat kerja, positif ataupun negatif.

Dalam lingkungan di mana “Saling Menyalahkan” merupakan perilaku yang didemonstrasikan oleh pimpinan, maka bawahan akan dengan mudah tertular dan meniru kebiasan itu (sadar atau tidak sadar). Dan “Menyalahkan Orang Lain” juga mereka jadikan sebagai tameng untuk melindungi diri, agar tidak disalahkan.

Namun perlu kita catat bahwa modal utama pembangunan karakter sejak dini di rumah, sekolah atau komunitas keagamaan, sangat menentukan kokohnya seseorang memegang prinsip hidup yang baik, dan bisa membedakan dengan jelas mana yang baik dan mana yang perlu dihindari dalam kehidupan itu.

Saya Bertanggung Jawab

Adakah di antara role model kita yang mengajarkan untuk “Menyalahkan Orang Lain” untuk kesalahan yang kita lakukan? Tentu saja jawabannya  adalah: TIDAK.

Bahkan mereka akan terus meyakinkan kita bahwa “mengaku salah” (untuk kesalahan yang kita lakukan) adalah perbuatan terpuji. Meminta maaf adalah bagian dari kebesaran hati. Dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan lagi, atau membantu orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan, merupakan langkah yang bijak.

“You are in control of your thoughts and actions so you are responsible for what you do with your life. Never blame anyone for your mistakes. Learn from them.” (Nishan Panwar)

Inti pembelajaran tersebut di atas adalah bahwa saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya perbuat dengan segala resikonya.

Refleksi dan Move On

Bila terjadi kesalahan, pertama-tama lihat ke dalam diri sendiri, apa kontribusimu untuk kesalahan itu. Segera akui dan ambil langkah koreksi. Bila kesalahan itu ada pada orang lain, apakah Anda bisa membantu untuk menyelesaikannya? Kalau tidak, jangan ikut-ikutan membesarkan kesalahan dan menyalahkan orang. Lebih baik ikut membantu mencari penyelesaiannya.

“You can’t undo the past so don’t waste your time blaming others for your bad decisions or the circumstances that you were in, own it, learn from it and move on!” (Nishan Panwar)

Lebih bagus lagi, seperti sharing teman di kafe itu, dia sudah terbiasa dalam lingkungan saling menyalahkan, jadi dia sudah mempersiapkan berbagai langkah untuk melindungi diri. Misalnya, dokumentasikan setiap detil komunikasi, email, sms atau apa saja. Juga mengkomunikasikan kepada pihak terkait tentang setiap langkah.

Teman itu memang berada di lingkungan sulit, tapi dia belajar menjadi bijaksana. Jangan bertanya, mengapa dia masih betah disitu! (pertanyaan judgmental). Lebih baik bertanya, pelajaran berharga apa yang sudah didapat, karena mungkin ini justru sedang mempersiapkan dia untuk menjadi lebih bijak dalam situasi hidup di kemudian hari, yang membutuhkan pengalaman tersebut. Apapun itu, yang bersangkutan punya kebebasan memilih, seperti kata orang bijak berikut ini:

“We either make ourselves miserable, or we make ourselves strong. The amount of work is the same.” (Carlos Castaneda)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan