Memberi MAKNA pada Setiap Karya

Posted on August 2nd, 2013

“Without reflection, we go blindly on our way, creating more unintended consequences, and failing to achieve anything useful.” (Margareth J. Wheatley)

TERKADANG, mereka yang berada di sektor operasional merasa pekerjaannya kurang keren dibandingkan mereka yang melakukan pekerjaan Strategik. Sering juga kita mengalami kesulitan mencari karyawan untuk bekerja di pabrik, apalagi yang agak ke pinggir kota, karena calon-calon merasa lebih suka bekerja di kantor di tengah kota.

Dan masih banyak lagi contoh, dimana lokasi dan kontradiksi strategic/operasional menjadi bahasan ketertarikan seseorang untuk bekerja dan tinggal lebih lama di perusahaan itu. Tapi bagaimana mengangkat tema seperti itu, misalnya kepada kelompok operator mesin di pabrik??

Di permukaan, mereka mungkin mencari rezeki, penghasilan. Tapi lebih dalam lagi mereka ingin merasakan bahwa melalui pekerjaan itu mereka bisa memberikan sebuah makna pada hasil pekerjaan itu, kalau perlu makna dalam kehidupannya sendiri.

Moment  yang diciptakan selama Bulan Ramadhan ini, ternyata bisa dimanfaatkan maksimal untuk refleksi tentang perjalanan kita dalam memberikan MAKNA pada setiap tugas kita, serta bagaimana menggali dan meningkatkan potensi diri untuk menambah MAKNA tersebut.

Memahami MAKNA pada Pekerjaan

Dalam kesempatan berbuka puasa dengan karyawan di Pabrik kami di  Cibitung, Bapak Mustofa, Branch Manager, mengajak karyawan untuk melakukanrefleksi sederhana, melalui pesan beliau:

“Ketika Anda memasukkan bumbu kedalam bungkus PopMie, misalnya, bayangkan berapa banyak orang yang akan mensyukuri nikmat karena bisa berbuka dengan Mie yang kalian produksikan. Kerja kalian bisa membuat mereka tersenyum bahagia. Artinya, kita harus mengerjakan sebaik mungkin sehingga konsumen puas karena produknya dibuat dengan standar kualitas seperti yang mereka harapkan. Inilah MAKNA yang sesungguhnya dari pekerjaan kalian.”

Pesan sederhana, dan mudah dicerna, tapi juga untuk membantu karyawan memahami bahwa pekerjaan mereka mempunyai nilai yang sangat berarti. Karena itu, mereka seharusnya berbangga dan bersemangat untuk terus bekerja.

Menggali Potensi Diri

Sementara itu, Buka Puasa bersama Karyawan di Kantor Pusat, mengambil Tema:  Meningkatkan Potensi Diri di Bulan Penuh Berkah. Renungan dalam kaitan dengan dimensi spiritual, biarkan pakarnya yang membahas: Prof. Dr. Dadang Hawari. Karena itu dalam sambutan saya mewakili Direksi, saya fokus pada dimensi keseharian di tempat kerja: Mengenali Potensi Diri sebagai karyawan. Langkah mengenali potensi diri ini perlu dilakukan agar kita bisa meningkatkan potensi-potensi tersebut, demi menambah MAKNA pada tugas sehari-hari.

Ada 9 butir refleksi untuk menggali dan meningkatkan Potensi Diri:

  • Apakah saya mengenal siapa sebenarnya saya?
  • Masing-masing kita diciptakan unik. Potensi atau talenta masing-masing kitapun unik, tapi apakah saya tahu talenta saya itu apa?
  • Gali Potensi Diri: mengenali diri sendiri lebih jauh lagi. Tidak perlu jadi orang lain untuk sukses.
  • Dengan potensi unik tadi, kita bergabung di perusahaan ini, dan janji untuk berkontribusi. Sejauh mana dengan potensi masing-masing,kita sudahmemberikan kontribusi maksimal dalam berkarya? Bagaimana meningkatkan potensi tersebut?
  • Mengenali diri sendiri saja tidak cukup. Kita perlu menyadari bahwa orang lain juga diciptakan unik. Punya keunikan, punya potensi, punya talenta yang mungkin saya tidak punyai.
  • Apakah saya lalu terbuai dengan potensi diri saya? Jangan sampai  menjadi sombong karena itu. Dan kesombongan itu karena kita melihat diri kita seakan-akan lebih hebat dari orang lain.
  • Dalam konteks refleksi, saya juga menyarankan: kita seharusnya membuka diri untuk belajar dari orang lain, yang juga punya kelebihan, potensi yang tidak kita punyai. Belajar setiap hari untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik hari ini dibanding kemarin, dan besok semoga lebih baik dari hari ini.
  • Apakah sudah cukup? Belum!! Tingkat berikutnya, kalau masing-masing kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itu “belajar setiap hari” saya ganti dengan saling belajar: antara atasan dan bawahan, sesama rekan kerja atau teman. Kita ikhlas berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman.
  • Kalau ini yang kita lakukan, maka akan kita dapatkan akumulasi Potensi seluruh tim di Perusahaan ini, yang kalau diberdayakan, maka hasilnya akan dasyat.

Singkat Kata: Kenali Diri! Kenali potensi! Jadilah diri sendiri yang tangguh, tapi juga saling belajar agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain sekitar kita, untuk menjadikan kita semua karyawan Perusahaan yang lebih baik dari waktu ke waktu, lebih baik hari ini dibanding kemarin dan lebih baik besok dibanding hari ini.Dengan demikian kita akan bisa menambah MAKNA pada setiap karya kita, karya yang memberi MANFAAT bagi banyak orang.

“Without deep reflection one knows from daily life that one exist for other people.” (Albert Einstein)

Dalam rangka Hari Raya Lebaran, saya tidak akan tampilkan posting baru di hari Selasa 6 Agustus, Jumat 9 Agustus dan Selasa 13 Agustus. Saya akan hadirkan kembali posting baru di hari Jumat 16 Agustus, 2013.

Pada kesempatan ini, kami sekeluarga ingin mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Bookmark and Share

10 Responses to Memberi MAKNA pada Setiap Karya

  1. khalid says:

    “sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat buat orang lain”. Akhirnya postingan Bpk di atas membuat saya berkontemplasi, manfaat apa yang sudah saya berikan buat orang lain?…

    • josef josef says:

      Terima kasih Khalid untuk kunjungannya ke blog dan menyimak artikel ini. Semoga kontemplasimu memberikan petunjuk demi masa depan yang lebih baik

  2. Don Sadana says:

    Kesediaan dan awareness yang ingin sekali saya ikuti. utamanya agar senantiasa dapat berbagi nilai sehingga bermakna untuk sesama. Ditunggu terus experience based sharing knowledgenya.

  3. dwinanto wibowo says:

    Sharing wisdom yg indah Pak Josef..
    Pd moment yg baik ini, boleh tidak Pak dibagi ke kami juga perihal menyikapi dan menyiasati sifat manusia yg perfeksionis.. bagaimana pandangan Bpk dlm hal ini? Terima kasih Pak Josef sebelumnya.. 🙂
    Warm Regards,
    Dwinanto. W (chrp19)

    • josef josef says:

      Terima kasih Dwinanto, telah mengunjungi blog dan menyimak kisah2 disini. Kalau Dwinanto bisa berikan saya dua tiga butir concern nya tentang orang yang perfectionist, akan membantu untuk fokus tulisannya. Terima kasih untuk ide tulisannya

  4. susanti gunawan says:

    Pak Yosef

    Thanks buat tulisan Bapak di blog yang sangat memberikan inspirasi dan motivasi buat saya sebagai seorang Entrepreneur

    • josef josef says:

      Terima kasih Susanti, semoga tulisan lainnya yang sudah hadir, dan yang akan terus hadir, senantiasi menginspirasi. Kami juga menunggu kisah tentang pengalamanmu sebagai entrepreneur, untuk dihadirkan di blog ini.

  5. Rangga says:

    Dear Pak Josef, super pak, so inspiring. Kemudian sekedar sharing, saya pun pernah menyampaikan hal serupa yg Pak Mustofa sampaikan ke karyawan operatif di line cup noodle ketika saya menjabat production manager di noodle factory. Bahwa setiap karyawan harus aware / menyadari bahwa meski setiap pack product hanya berinteraksi dg mereka sekitar 0.3 detik ketika mereka mengisikan sachet bumbu atau garpu, dan meski mereka memproduksi produk secara massal (sekitar 12000 cup/jam), namun mereka tetap harus memperhatikan value dan quality dari pekerjaan mereka, memberi makna kepada setiap pack produk yg melalui mereka, karena pada akhirnya every single consumer kita akan berinteraksi dg every single product secara detail, dan kepuasan consumer thd every single produk adalah nilai dan makna dari pekerjaan mereka.

    Beberapa waktu yg lalu saya membaca tulisan Pak Harvey Mackay terkait memberi makna pd pekerjaan kita, “Whatever you do for a living, your signature is on it. You can’t buy a reputation for doing good work; you must earn it.”

    Once again thank you pak, tetap menginspirasi.

    Warm regards, Rangga.

    • josef josef says:

      Terima kasih Rangga untuk waktunya membaca artikel ini, dan juga kisahnya yang memberikan lagi highlight pada materi tulisan ini. Saya suka quote yang dibuat Harvey. Sekali lagi terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life