Konfirmasi Anggukan

Posted on July 16th, 2013

“The time to stop talking is when the other person nods his head affirmatively but says nothing. (Henry S. Haskins)

TANPA PENJELASAN panjang lebar, semua kita paham apa makna sebuah anggukan kepala. Itu artinya setuju, juga berarti menerima apa yang disampaikan secara lisan. Namun demikian, menurut Wikipedia, di Bulgaria, Macedonia dan Albania, anggukan tunggal dengan menggerakkan kepala ke atas (bukan ke bawah) artinya tidak setuju.

Jangan Berasumsi

Kesempatan bertemu seorang kawan expatriate yang baru beberapa bulan bekerja di Indonesia,  sharing pengalaman uniknya. Setiap kali briefing diberikan, semua timnya yang hadir menganggukkan kepala. Ini memberikan konfiden kepadanya, bahwa mereka paham dan akan melaksanakan apa yang dikehendaki.

“Saya merasa puas dan senyum lega, karena yakin timku akan melaksanakan apa yang saya sampaikan.”

Ketika apa yang dia paparkan di briefing, tidak terlaksana sebagaimana mestinya, mulanya kawan ini mengganggap itu biasa. Ada kendala yang harus disingkirkan. Namun apa yang terjadi, lama kelamaan dia belajar bahwa kesalahan ada pada dia sebagai atasan, bukan pada mereka anggota tim.

Loh, kok bisa begitu?

Atas anggukan yang dia terima, apakah mereka paham? Mungkin!

Apakah mereka setuju mengerjakan? Belum tentu!

Apakah mereka janji untuk melaksanakannya? Tidak ada bukti!

Klarifikasi Sangat Penting

Kawan expatriate tersebut akhirnya mengubah strategi. Pada kesempatan briefing berikutnya, dia minta konfirmasi, apa maksud anggukan itu??

Ini sekaligus mengajak dialog, bukan sekedar informasi searah. Di sini dia temukan bahwa ada yang mengangguk tanda paham, ada yang mengangguk tanda paham dan setuju untuk mengerjakannya. Ada juga yang angguk tanda paham, setuju dan janji mau mengerjakan. Di sini pula dia berkesempatan untuk menggali apa yang membuat beragam tanggapan dan alasan masing-masing.

Dan dalam briefing berikutnya dia membuatnya lebih spesifik lagi, butir demi butir. Jadi anggukan itu tidak menyangkut semuanya yang cenderung digeneralisir, tapi dapat merupakan response butir demi butir.

Kawan itu juga punya observasi lain, sebagai bahan pelajarannya. Ada komentar yang dibuat salah satu yang hadir, dan yang lainnya diam saja, padahal komentarnya sangat bermakna. Tapi begitu ada yang lainnya memberi komentar yang sama dengan pengungkapan berbeda, tanggapan positif lainnya langsung meramaikan pertemuan itu.

“I’d make a comment at a meeting and nobody would even acknowledge me. Then some man would say the same thing and they’d all nod.” (Charlotte Bunch)

Belajar dari ini, kawan tersebut membantu me-rephrase dan mengulang kembali komentar yang dibuat oleh peserta pertama tadi, dan ternyata sambutannya luar biasa. Terkadang penyanyi yang lebih menentukan ketimbang lagunya. Tapi kalau lagu bagus dibawakan oleh penyanyi yang tepat, dampaknya lebih dasyat.

Dan dalam kebersamaan seperti ini, kita juga perlu memberikan toleransi kepada yang lainnya untuk bisa berbicara, dengan cara kita diam dan dengar, kemudian baru memberikan komentar.

“Tolerance is the first principle of community. It is the spirit which conserves the best that all men think. (Hellen Keller)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET