Menggali Permata Dalam Dirimu

Posted on April 10th, 2018

“Go within every day and find the inner strength so that the world will not blow your candle out.” (Katherine Dunham)

LUANGKAN WAKTU sejam saja, lalu simak berbagai postingan di media social. Ada postingan yang jadi trending topic dan berbagai tanggapan seputar itu. Sadar atau tidak komentar seputar topik itu bertalian dengan tokoh yang ada dalam kisah itu. Dan bisa ditebak, komen umumnya dibagi dua kubu, yang menyampaikan pendapat cenderung positif dan yang cenderung negatif.

Syukur-syukur bisa menemukan mereka yang berpendapat netral. Kedua kubu itu tentu merasa yang paling benar. Namun bisa saja berbagai pandangan itu adalah asumsi yang didasari informasi yang boleh jadi benar tapi tidak komplit.

Telanjur Memberi Label

Dalam sesiku beberapa waktu yang lalu tentang “Self Branding”, seorang peserta bertanya, “Apa yang harus saya lakukan kalau lingkungan telanjur memberikan label kurang sedap pada diri kita?

Saya teringat akan sebuah kata bijak yang entah siapa yang empunya: “Tell me who your friends are, and I will tell you who you are.”

Makna dari petikan ini adalah bahwa, bila kita berteman dengan mereka yang mempunyai mindset dan perilaku positif maka kemungkinan besar kita akan belajar banyak dari mereka dan cenderung membangun mindset positif dan berperilaku positif. Sebaliknya juga bisa terjadi.

Namun yang perlu disadari adalah: bukan lingkungan yang membuat kita menjadi positif atau negatif tapi cara kita memberikan response terhadap situasi lingkungan.

Dengan kata lain, walau lingkungan di mana kita berada bisa memberikan pengaruh negatif, kita bisa saja menghindar atau berusaha untuk selalu berperilaku positif, berbicara positif karena mempunyai mindset positif. Di sinilah letak pentingnya langkah merumuskan Personal Brand dan mendemonstrasikan secara sadar dan berkelanjutan melalui perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.

Inspirasi dari Seorang Ayah

Saat itu, di desa terpencil Lamalera Lembata, semua rumah berdinding gedek. Mata pencaharian utama adalah menangkap ikan. Sebuah keputusan kontroversial diambil seorang nelayan, Sindolfus Serani, untuk meninggalkan mata pencaharian sebagai nelayan dan belajar membuat batu bata. Semua heran, tidak masuk diakal, bahkan mencibir karena Bapa Sindolfus mau membuat batu bata yang di mata mereka tidak punya nilai apa-apa, karena tidak ada rumah yang dibangun dengan batu bata.

Ternyata dia menerima semua cibiran itu sebagai motivasi yang mendorongnya untuk terus mencetak batu bata. Datang pesanan seorang guru untuk dibuatkan batu bata untuk rumahnya, yang lain mengikuti, akhirnya pesanan mengalir tak terbendung. Bapa Sindolfus sejak awal memberikan nilai tinggi untuk batu bata buatannya, yang oleh penduduk desa semula dianggap tidak berharga.

Ayahku, pembuat batu bata tersebut, mengajarkanku tentang nilai sebuah batu bata dan pengorbanan, berani mengambil keputusan, berani mengambil jalur yang menentang arus, siap ditertawakan, siap dicibir. Pada akhirnya semua mata terbuka, betapa penting nilai sebuah batu bata untuk pembangunan di desa itu. Yang dia demonstrasikan, bukan hanya nilai penting sebuah batu bata, tapi juga nilai dirinya dalam memberikan kontribusi penting pada pengembangan desa.

Priceless Stone

Di akhir sesi tersebut di atas, saya sempat memutarkan sebuah film pendek berjudul “Priceless Stone”. Bisa disimak di link ini:

10 April 2018_Menggali Permata Dalam Dirimu

Suatu hari seorang anak bertanya kepada ayahnya, berapa nilai dirinya. Bukannya menjawab, sang ayah menyuruhnya membawa sebuah batu dan menjualnya di pasar, dengan pesan, kalau ada yang menanyakan harganya, tunjukkan dua jarimu dan jangan katakan apapun.

Si anak lalu pergi ke pasar, seorang wanita bertanya: “Berapa harga batu ini? Aku ingin menaruhnya di kebunku.”

Anak itu tidak menjawab dan hanya menunjukkan dua jarinya.

Wanita itu berkata: Dua dollar, saya ambil.

Si anak pulang dan berkata kepada ayahnya: “Seorang wanita ingin membeli batu itu seharga dua dollar.”

Si ayah kemudian berkata: “Nak, ayah ingin kau membawa batu ini ke museum. Kalau ada yang ingin membelinya, jangan katakan apapun, cukup tunjukkan dua jarimu.

Si anak kemudian pergi ke museum. Seseorang ingin membeli batunya. Si anak tidak mengatakan apapun dan menunjukkan dua jarinya.

Lalu si pria berkata, 200 dollar? Aku beli.

Si anak terkejut dan berlari pulang, berkata kepada ayahnya… “Ada pria ingin membeli batu itu seharga 200 dollar.”

Si ayah lalu berkata: Nak, ayah ingin kau membawa batu ini ke tempat terakhir, Toko Batu Mulia. Tunjukkan kepada pemilik toko dan jangan katakan apapun. Jika dia menanyakan harganya, tunjukkan dua jarimu.

Si anak kemudian pergi ke toko batu mulia, menunjukkan batu itu kepada pemilik toko, yang lantas bertanya, “Dimana kau temukan batu ini? Ini salah satu batu langkah di dunia. Aku harus memilikinya! Berapa harganya?”

Si anak menunjukkan kedua jarinya!

… dan pria itu berkata: Aku akan membayarnya 200.000 dollar.

Si anak terkejut, dan pulang menemui ayahnya: “Ayah, ada pria yang ingin membeli batu ini seharga 200.000 dollar.”

Ayah kemudian berkata, ”Nak, apa sekarang kau sudah tahu nilai dirimu di dunia?”

Anda yang Menentukan Nilai Dirimu

Lanjut ayahnya memberikan petuah:

Dengar, tak peduli dari mana Anda berasal, di mana Anda lahir, apa warna kulit Anda, atau seberapa kaya diri Anda. Yang terpenting adalah bagaimana Anda menentukan tempat Anda, teman-teman Anda, dan sikap Anda. (bagaimana anda membawa diri). Mungkin seumur hidup Anda menganggap dirimu batu seharga dua dolar.  Mungkin seumur hidup Anda bersama orang-orang yang menilai diri anda batu seharga dua dolar. Namun ada berlian dalam diri setiap manusia. Dan kita bisa memilih untuk berteman dengan oran yang melihat nilai diri kita dan melihat berlian di dalam diri kita. Kita bisa memilih untuk menempatkan diri di pasar atau di toko batu mulia. Anda juga bisa memilih untuk melihat nilai orang lain. Anda bisa membantu orang lain melihat berlian di dalam diri mereka. Pilih teman Anda dengan bijak. Itu bisa mengubah hidup Anda. (Sean Buranahiran)

Potensi diri kita ada di dalam. Terlalu sering kita mencari keluar. Padahal dengan usaha terus menerus untuk mengetahui apa potensi diri yang bisa diasah, dipoles, maka lama kelamaan sinar permata dirimu akan terpancar keluar, yang akan bisa digunakan untuk membantu menggali mutiara yang tersembunyi dalam diri orang lain.

“All the darkness of the world cannot extinguish the light of a single candle, yet one candle can illuminate all the darkness.” (Jewish Hanukah Prayer)

Bookmark and Share

2 Responses to Menggali Permata Dalam Dirimu

  1. Bily says:

    Inspiratif, pak. Mirip seperti cerita yang pernah saya dengar. Seorang pekerja tambang mengangkut ratusan kilo batu untuk dibayar rendah, sedangkan seorang dokter dibayar tinggi hanya untuk mengangkat batu kecil, batu ginjal.

    • josef josef says:

      Terima kasih Bily, mungkin masih banyak lagi cerita seperti itu yg layak ditulis atau di ceritakan untuk menginspirasi orang lain. Silahkan dibagi ke saya kalau Bily atau teman Bily punya cerita, biar saya muat di blogku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Sutjipto untuk menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya kita menyadari pentingnya...

josef:
Terima kasih Sutjipto, semua itu perlu prsiapan, termasuk persiapan mental untuk memasuki dunia yang boleh...

josef:
Terima kasih Koekoeh, inilah maknanya berbagi siapa tahu ada yang bisa dimanfaatkan oleh teman lainnya. Yang...

Sutjipto Budiman:
Sangat setuju, kalau kita tidak sehat bagaimana mau produktif. Kalau pun sudah punya uang, uang itu...

Sutjipto Budiman:
Selamat menjalani kehidupan baru Pak. Sangat berkesan dan memberi pelajaran bahwa Bapak...


Recent Post

  • Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
  • Setelah Baju Itu Kutanggalkan
  • KESEHATAN: Harta Tak Ternilai
  • Perhatian Kecil Berdampak Besar
  • Kesan Positif Yang Ditinggalkan
  • Bahagia di Tengah Harmoni
  • Keberagaman Talent Ciptakan Sukses
  • Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita
  • Bangga dengan Pekerjaanku
  • Saatnya Mengisi Baterei