Posted on February 22nd, 2013
“In law a man is guilty when he violates the rights of another. In ethics, he is guilty if he only thinks of doing so.” (Immanueal Kant)
TIBA DI RUMAH, Rabu 6 Februari 2013, mata saya tertuju pada head line koran Suara Pembaharuan yang berbunyi: “Pimpinan Dipilih karena Dipercaya,” sebuah head line yang mengulas kepemimpinan Jokowi, Gubernur DKI, yang menekankan pentingnya kepercayaan dan partisipasi publik. Jokowi memulai awal 100 hari tugasnya dengan ‘blusukan’ turun ke tengah masyarakat, sampai ke sudut-sudut kota untuk melihat sendiri, mendengarkan dan memahami apa yang terjadi di tengah masyarakat.
Jokowi juga mendemonstrasikan keterbukaan tentang rencana pembangunannya sambil mengundang masukan dari masyarakat. Kepercayaan yang sudah diperoleh ketika dipilih sebagai gubernur, terus dibangun dan diperkuat. Di sini masyarakat melihat adanya keselarasan antara kata dan perbuatan, yang bersumber dari tulusnya niat untuk melayani masyarakat.
Pesan di Media
Hari Jumat siang, jam 13:40, sebuah pesan di Twitter, dari sahabat:
“Etika itu tentang baik buruk yang disepakati bersama secara luas. Etiket itu tata cara yang disepakati sekelompok tertentu. Tweet ada etiket dan etikanya.”
Dan Sabtu sore 16 Februari 2013, Suara Pembaharuan menghadirkan tulisan Andre Ata Ujan, dengan judul Integritas, di kolom Etika. Di sini Andre mengedepankan tulisan Anna Bernasek dalam bukunya yang berjudul: “The Economics of Integrity.”
Kisah di buku ini mengemukakan betapa dasyatnya kekuatan integritas dalam keberhasilan bisnis. Beberapa butir penting yang dikemukakan Andre:
Andre juga menambahkan:
“Integritas sering diartikan sebagai keselarasan kata dan perbuatan, tapi ini belum cukup. Karena seorang koruptor yang berjanji untuk membagi hasil korupsinya kepada anak buahnya, memang sejalan kata dan perbuatannya. Tapi perbuatan korupsi itu tidak menggambarkan integritas. Integritas berkaitan dengan etika, dengan kualitas kepribadian (dalam arti moral), dan bukan sekedar penampilan luar (yang kelihatan arif dan santun). Dengan demikian, perilaku lahiriah harus merupakan refleksi sejati dari kesadaran dan keyakinan akan nilai-nilai moral.”
Belajar dari Mahatma Gandhi
Dalam buku “The Speed of Trust,” Stephen M.R. Covey memaparkan bahwa seorang pemimpin yang dikenal punya integritas tinggi, dan dipercaya di tingkat organisasi, umumnya merupakan pribadi yang layak dipercaya (trustworthy), juga dalam hubungan dengan orang lain. Selanjutnya Stephen M.R. Covey memberikan sebuah contoh tentang Integritas.
Suatu waktu Mahatma Gandhi diundang untuk pidato di depan Parlemen Inggris. Tanpa teks, ia berpidato dengan sangat memukau selama 2 jam, sehingga mengundang tepuk tangan menggemuruh (standing ovation) di akhir pidatonya. Beberapa wartawan mendekati sekretarisnya, Mahadev Desai, untuk bertanya, apa yang membuat pidato Gandhi begitu memukau pendengar, walau tanpa teks?
Jawab Desai dengan senyum:
“What Gandhi thinks, what he feels, what he says, and what he does are all the same. He does not need notes….You and I, we think one thing, feel another, say a third, and do a fourth, so we need notes and files to keep track”
Kembali ke “Pemimpin yang Dipercaya,” Stephen Covey juga mengingatkan:
“You can have all the facts and figures, all the supporting evidence, all the endorsement that you want, but if you don’t command trust, you won’t get anywhere” (Naill Fitzgerald, Former Chairman Unilever)
Menyadari pentingnya faktor kepercayaan tersebut di atas, bersama tim kami merancang program untuk memahami secara rinci Kode Etik Perusahaan, untuk saling membantu dalam pelaksanaannya. (*)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Pak Josef, selamat pagi. Artikel Bapak sangat kerennnn!!! Saya mohon ijinuntuk meng copy dan share ke teman2 di tim HR kami dan juga teman2 lainnya. Thanks Pak Josef, for “the Food for Thought. ”
God bless
Selamat pagi Agnes, senang untuk bisa berbagi. Silahkan copy dan share kepada teman2mu, semoga bermanfaat. Salam
Pingback: Ketika Mahatma Gandhi tidak membutuhkan sebuah Naskah | Viavi Bercerita
Terima kasih Viavi untuk kunjungan ke blog ini, semoga posting yang ada bermanfaat. Salam
Hi pak Josef, longtime no see. Topic yang bapak angkat ini benar-benar memberikan pencerahan bagi saya. Part yang Mahatma Gandhi paling TOP! Amazing people he was. Akan saya camkan baik-baik didalam hati.
Terima kasih dr. Leonardus, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat buat kita semua. Salam senantiasa, walau lama tidak bersua.
Pak,saya jadi teringat kalimat dari pemateri di ILC 1 : “‘pemimpin’ tanpa pengikut bukanlah pemimpin ” kemudian bagaimana caranya?Salah satu nya ada disini : membangun kepercayaan karena ” Trust.That keep things alive and moving ” (Einstein). Terima kasih pak Josef,semangat menginspirasi.
Terima kasih Lena. materi yang kita cermati sungguh2 akan muncul seketika begitu kita dihadapkan pada kenyataan hidup. Pemunculan materi pembelajaran tadi adalah untuk memperkuat konsep, kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, atau juga kesempatan untuk menguji keyakinan kita akan materi tersebut. Suatu coincident ? Tidak, saya percaya bahwa semua terjadi karena ada alasannya. Semoga kita terus belajar, dan juga belajar untuk membangun TRUST untuk menjadi pemimpin yang berguna. Salam
Untuk mendapatkan kepercayaan team adalah dengan keteladanan pemimpin. Happy weekend Pak 🙂
Setuju Erlina, teladan merpakan unsur sangat penting dari seorang pemimpin. Terima kasih
Dear pak josef,
Terima kasih utk artikel yg sgt bagus ini, mbaca artikel ini jd ingat sewaktu bpk mberikan sambutan utk leaders meeting yg lalu, dmana bpk mengatakan integritas sgt dperlukan dlm kehidupan pribadi dan bkelompok, itu jelas terlihat dr tindakan pak josef selama ini, trims pak smg sy mampu bs spt bapak…
Jbu pak..
Terima kasih Imel, adalah tanggung jawab kita untuk saling mengingatkan untuk menjalankan hidup ini sesuai norma yang seharusnya. Asal kita punya kemauan, kita sanggup: Saya BISA, kamu BISA, kita semua BISA. Salam
Membaca ulang artikel ini dan terkait rencana hari musik kita, saya jadi ingat bbm seorang teman mengenai arti lagu tradisional Jawa yg berjudul “Gundul-gundul Pacul”.
Lagu ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya dan lagu yang cukup simple ini ternyata mempunyai pesan mengenai kepemimpinan yaitu bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tapi pembawa amanat untuk mengupayakan kesejahteraan dan pemimpin harus menggunakan 4 inderanya yaitu mata, telinga, hidung dan mulutnya untuk memimpin, selain itu pemimpin tidak boleh sombong hati, dan apabila rambu-rambu itu tidak dijalankan maka amanahnya akan jatuh yang berakibat semuanya akan berantakan dan sia-sia.
Terima kasih Pak, untuk selalu memberikan contoh pemimpin yang baik bagi kami semua..
Terima kasih Ratih dengan kisahnya tentang lagu tradisional Jawa tersebut. Ratih perlu jelaskan saya makna kata2nya. Sangat setuju bahwa tugas mulia pemimpin itu: melayani rakyatnya. Dan kepemipinan itu menjadi maksimum karena yang dipimpin juga berpartisipasi aktif dalam menyuarakan hati nurani rakyat, sekaligus aktif ambil bagian dalam langkah menciptakan masyarakat yang sejahtera. Partisipasi aktif Ratih dalam menunjang program kita, sangat berarti buat saya, dan terima kasih sekali lagi untuk itu.
Halo bapak Josef, begitu membaca artikel ini kata yang muncul di hati saya adalah “oh iya,,”. Kata “PERCAYA” sudah diajarkan kepada saya sedari kecil, dan sekiranya kita sepakat bahwa kata itu jg ada di benak setiap orang di dunia. Tetapi, kadang sulit untuk bagi saya pribadi untuk melaksanakan secara konsisten utuk melakukannya dalam hidup sehari-hari. Kalau boleh meminta saran dari bapak Besar, sekiranya apa yang harus dilakukan oleh saya atau mungkin teman lain yang masih dalam usia muda ini untuk dapat melaksanakanya secara konsisten?.
Terima kasih Ignacius untuk komentarnya. Berita menggembirakan adalah Ignacius sdh diajarkan sejak kecil. Yang belum melegahkan adalah Ignacius mengaku diajarkan “Kata PERCAYA” dan bahwa kata PERCAYA itu ada di benak setiap orang di dunia. Yang saya sngaja angkat di tulisan ini adalah untuk refleksi: apakah saya ini merupakan pribadi yang layak dipercaya ? Pertanyaanmu tentang bagaimana melaksanakannya: secara sadar mulai menerapkan apa yang dilakukan Mahatma Ghandi, konsisten kata dan perbuatan, tapi juga konsisten perkataan dengan pikiran dan perasaan sendiri. Kita bisa membohongi orang lain, tapi tdk bisa memohongi diri sendiri. Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya ke blog ini
Terima kasih buat artikelnya Pak Josef. Ternyata untuk dapat dipercaya tidak mudah ya Pak.
Terima kasih Ronny, semoga menjadi pelajaran buat kita bila sedang atau akan menduduki posisi sebagai pemimpin