Pahami Lingkup Pengaruhmu

Posted on February 18th, 2022

“Wake up and see yourself living this day, this moment with energy and do what you love most!” (Marilyn Atkinson)

 

HARI KASIH SAYANG dan kami memang belajar makna di balik kasih sayang tersebut. Tema sharing di CHRP (Certified Human Resources Professional) Program Universitas Atma Jaya batch 64 juga sejalan dengan situasi ini: TRUST dalam Team. Tanpa disadari, trust itu  menjadi fondasi dalam hubungan untuk saling mengasihi dan menyayangi, termasuk dalam hubungan profesional di tempat kerja. Mengasihi orang lain, termasuk anggota team, merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin. Dengan tulus dia membimbing dan menumbuh-kembangkan timnya, sehingga mereka bisa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang andal di masa depan. KASIH itu juga membuat tugas seorang pemimpin bersama timnya tidak dirasakan sebagai beban, sehingga anggota timnya juga akan termotivasi dan bersemangat bekerja dalam tim tersebut. Berikut foto sebagian peserta.

 

Merasakan Ketulusan Pemimpin

Menarik untuk saya angkat dua pertanyaan malam ini: Bagaimana menyikapi ungkapan atasan yang tujuannya mungkin untuk memotivasi tapi terkesan dari mulut, bukan hati: god job, great, excellent dll

Tips utama yang saya sampaikan kepada para peserta adalah, mereka hadir di program ini untuk belajar menjadi pribadi yang lebih professional dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hilangkan dalam pikiranmu niat untuk memperbaiki atasan. Apakah saya tidak bisa memperbaiki atasanku? Kalau toh ada yang mau diperbaiki, adalah meningkatkan persepsi positif atasan terhadap diri kita, karena bisa mendeliver kinerja yang lebih baik setelah mengikuti program ini. Dengan demikian trust atasan akan bertambah, respek atasan akan meningkat. Sementara itu, pelajaran yang bisa ditarik adalah, kita sebagai bawahan bisa merasakan apakah apresiasi/komplimen yang diberikan atasan itu tulus atau tidak. Dengan demikian saya belajar bahwa, bilamana saya menjadi pemimpin, saya akan memberikan apresiasi kepada anggota timku secara tulus dari hati.

Sementara itu, pertanyaan kedua: Saat kita mau di coaching seyogyanya atasan banyak mendengarkan kita. Tapi situasinya malah terbalik, saya yang malah harus  diam mendengarkan atasan ini banyak bicara. Bagaimana menyikapinya?

Menanggapi pertanyaan kedua ini: Bila ini merupakan contoh yang menurut kalian tidak benar, gunakan kejadian ini sebagai cermin untuk belajar dan meyakinkan diri sendiri: Bila saya berada pada posisi sebagai leader, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang diperlihatkan atasan. Saya akan belajar bagaimana seharusnya melakukan coaching, dan menerapkannya secara benar. Saya belajar untuk mendengarkan dengan tulus dan sabar, dan mengajukan pertanyaan untuk membantu tim yang dicoaching untuk bisa menemukan jalan keluarnya.

Ujian Dalam Perjalanan Hidup

Situasi unik yang diberikan penanya lain, dimana dia membuat rencana untuk menjadi pribadi tertentu dan mulai bekerja di sebuah perusahaan. Ternyata menurut dia, kehidupannya malah berantakan, keluarganya tidak terurus. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu dan mulai fokus pada pekerjaan yang juga bisa memberi perhatian pada keluarga. Apakah keputusan itu dia rasakan sudah benar? Menurutnya demikian. Apakah dia merasa lebih bahagia sekarang? Menurut dia iya, walau pikirannya masih terganggu dengan “hidup yang berantakan” yang dia alami sebelumnya.

Tanpa perlu mengetahui detailnya, mari kita memotret perjalanan hidup yang dimaksudkan dengan istilah hidup yang berantakan tersebut:

  • Pertama istilah hidup yang berantakan adalah label yang diberikan bersangkutan terhadap apa yang dialami. Apakah istilah demikian sesuai? Sebetulnya kita bisa mengubahnya, serta melihat pengalaman itu sebagai bagian dari ujian dalam kehidupan ini, serta pelajaran yang harus dipetik untuk perjalanan lebih lanjut. Dengan demikian kita melihat peristiwa tersebut secara positif.
  • Walupun sekarang sudah merasa lebih tenang, pertanyaan lanjutan adalah, apa lagi yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan masa depan? Siapa lagi yang bisa dijadikan sumber untuk belajar bilamana diperlukan. Bagaimana dia terus belajar untuk memandang sesuatu secara positif? Dan tidak kalah pentingnya, bagaimana ilmu dan pengetahuan saat belajar di CHRP ini bisa membantu membuka berbagai peluang kedepan? Hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya.

Sayapun mengajak semua peserta  belajar untuk bisa memimpin diri sendiri dalam situasi sesulit apapun, sebelum berada pada posisi memimpin orang lain. Keduanya dijalankan dengan penuh KASIH dan ketulusan. Tak terasa waktu dua jam tidak cukup untuk bisa meneruskan keingin-tahuan peserta dari pertanyaan yang mau diajukan. Namun saya membolehkan untuk menghubungi saya melalui sarana komunikasi yang ada bila diperlukan.

“By being a living role model of what you want to receive from others, you create more of what you want in your life.” (Eric Allenbaugh)

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih untuk testimoni Randy. Senang dengan progress yang dialami. Perjalananmu masih panjang, banyak...

Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...

josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...

Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...

josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....


Recent Post

  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama
  • Menjadi Cermin Kepemimpinan
  • RUANG Belajar dan Bertumbuh (Blog Seribu Tulisan)
  • Blog Seribu Tulisan – KATA Yang Mengubah Hidup
  • Blog Seribu Tulisan: Pesan Konsistensi
  • Saya Bukan Siapa Siapa Tanpa Kalian
  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI