Posted on October 14th, 2022
“If you want a group to have psychological safety, the #1 thing you need to do is to get people to care about each other.” (Shane Snow)
KARYAWAN RINDU LINGKUNGAN NYAMAN BERBICARA. Seringkali kita mendengarkan ucapan retorik dari para leader mengajak karyawannya untuk berani mengemukakan pendapat, jangan takut memberikan kritik, silahkan mengajukan usulan, dan lain-lain. Karyawan akan mencoba sekali dua kali bersuara, tapi mereka juga akan mencermati apakah pimpinan tulus mendengarkan. Akankah ada tindak lanjutnya. Kalau ternyata tidak ada, maka mereka akan bungkam. Dan perusahaan akan kehilangan kesempatan bagus mendapatkan suara karyawan yang bermanfaat.
Ciptakan Bersama Lingkungan Idaman
Saat menyampaikan paparan di CHRP (Certified Human Resources Professional) Program Batch 70, seorang peserta, memberikan komen:
Scara tidak langsung apa yg dilakuin pak josef sudah nerapin soal Psychological safety at work, yang mungkin sekarang lagi ramai di bahas dan diterapin. Terima kasih banyak pak sudah sharing pengalamannya.
Paparan saya lebih kepada inisiatif seorang leader yang hendaknya turun kebawah, berbaur dengan teamnya. Dia perlu meluangkan waktu dan melakukan dialog dengan anggota teamnya, bukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Pada kesempatan seperti itu, anak buahnya akan menjajagi ketulusan atasannya. Mereka mencoba mengajukan pertanyaan, mencoba berbeda pendapat, dan mereka akan belajar, seberapa nyaman dan aman kalau mereka menyampaikan usul, bertanya atau berbeda pendapat. Berikut foto Sebagian dari 70 peserta Batch 70.

Dan peserta lainnya berkomentar serta meniatkan:
Timbul di pikiran saya, misalnya di tempat kerja yang baru, kalau tidak ada sesuatu yang menyenangkan maka harus mulai dari diri sendiri dahulu berupaya untuk menciptakan suasana yang menyenangkan.
Psychological Safety at Work
Sebuah tulisan di newsletter CCL (Center for Creative Leadership), dengan judul What is Psychological Safety at Work, memberikan definisi Psychological Safety sebagai:
The belief that you won’t be punished or humiliated for speaking up with ideas, questions, concerns, or mistakes.
Sementara itu, Psychological Safety at Work, secara persis dimaknai sebagai:
It’s a shared belief held by members of a team that others on the team will not embarrass, reject, or punish them for speaking up.
Dalam lingkungan seperti itu, karyawan akan merasa nyaman menjadi diri sendiri, dan seutuhnya menghadirkan diri mereka, berani bersuara, mengajukan pertanyaan naif, ataupun berani beda pendapat, siap untuk berkontribusi di tempat kerja. Bahkan David Altman, COO CCL menegaskan:

Sementara itu, melalui buku #CURHATSTAF seni mendengarkan bagi para pemimpin, tak henti-hentinya saya mengajak para leader untuk turun mengajak dialog timnya. Dalam buku #CURHATSTAF halaman 35, dituturkan tentang berbagai inisiatif dengan nama yang berbeda-beda: open dialogue, tatap muka, management by walking around, town hall meeting, dan lain-lain. Tapi mengapa masih saja ada gossip, curhat ke teman kerja atau gunjingan saat makan siang, dengan topik paling hot tentang boss. Mengapa mereka merasa tidak nyaman untuk berbicara berterus terang?

Satu hal yang pasti dan patut dicatat adalah bahwa semakin banyak orang dilibatkan untuk memikirkan masa depan perusahaan akan semakin baik. Semua karyawan hadir di sekitar kita karena mereka dibutuhkan. Sayang kalau yang terpikirkan oleh mereka tetap ada di benak mereka tanpa mereka ungkapkan. Suara mereka diperlukan.
Merujuk pada Hierarchy of Needs dari A. Maslow, psychologically safe workplace dimulai dari feeling of belonging, merasa diterima di dalam tim, seperti petikan yang saya hadirkan di akhir tulisan ini.
“All humans require their basic needs to be met before they can reach their full potential. Employees must feel accepted before they’re able to contribute fully in ways that improve their organizations.” (Abraham Maslow)
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Devamethia G:
terima kasih untuk tulisan-tulisan pak josef, saya sebagai salah satu pembaca merasa sering mendapatkan...
josef:
Betul sekali Puji, terima kasih untuk kontribusinya dalam perjalanan kehadiran blog ini. Sehat selalu
Puji:
Kekuatan kata, memberi makna. 1000 cerita, mendorong aksi nyata.
josef:
Terima kasih mba Yana, upaya kecil dilakukan secara disiplin, bisa menjadi kebiasaan dalam aspek kehidupan...
Iya betul pak, kebebasan untuk berpendapat, didengarkan, dan diakui pendapatnya menjadi salah satu hal yang penting untuk di dunia kerja. Bahkan menurut saya, hal tersebut perlu dijadikan budaya perusahaan agar suasana kerja lebih hidup dan ada proses timbal balik.
Tanpa kita sadari kebebasan berpendapat memberikan keuntungan bagi 2 belah pihak:
1. Untuk karyawan, performa kerja akan lebih optimal karena ada perasaan dihargai ketika pendapatnya didengarkan atau setidaknya tersalurkan ke atasan.
2. Sementara dari sisi perusahaan, dengan diberikan nya kebebasan berpendapat, terdapat potensi didapatkannya ide-ide yang inovatif untuk memajukan perusahaan.
Apalagi anak zaman Now yang cenderung blak-blak-an dan mendapatkan exposure dunia luarnya sangat luas, sehingga mereka pasti lebih open-minded dan keinginan untuk melakukan sharing juga semakin besar.
Thankyou pak for sharing and reminder about psychological safety and health at work!
Terima kasih Diana untuk highlight nya sekaligus menggaris-bawahi pentingnya suasana nyaman untuk berpendapat untuk kedua belah pihak, terutama untuk situasi sekarang dimana banyak anak-anak zaman now di perusahaan. Salam