Posted on July 10th, 2012
DALAM posting terdahulu “Strategi Perang Menghadapi Kompetisi” terdapat satu pembelajaran dari ilmu perang: bila menghadapi kompetisi, Mindset Pemenang (Winning Mindset) yang dituntut dari seluruh tim adalah:
Mindset bahwa kita dalam siaga perang, diantaranya:
Teman saya Wiwik, BM Bojonegoro, berkisah tentang pengalamannya sewaktu ia kembali ke tempat kerja setelah hampir dua minggu berada di luar kota. Kesempatan pertama, tentu saja dia ingin mendengarkan laporan pencapaian target timnya. Bahasa tubuh mereka sebagian memperlihatkan confidence tinggi, sementara itu yang lainnya seperti sedang demam.
Dan sudah dapat diduga, isi presentasi adalah tentang berbagai alasan kenapa target tidak dicapai. Kita semua pernah jadi anak buah dan pernah melakukan hal yang sama. Kesimpulan presentasinya: “Saya sudah lakukan maksimal, tapi tetap tidak berhasil karena… Apakah targetnya tidak ketinggian?”
A Simple Case… Tanggapan Seorang Pemimpian
Menurut kalian, “Berapa sering tokoh seperti David Becham, atau Ronaldo, atau Irfan Bachdim melihat papan skor sepanjang permainan?? Seorang David Becham, atau Ronaldo, atau Irfan Bachdim… tidak akan berhasil membuat goool seandainya sepanjang pertandingan, mereka hanya melihat papan skor yang ada di samping lapangan. Mereka justru mengikuti proses dalam menerapkan strategi yang jitu agar mereka bisa menggiring bola ke gawang lawan dan mencetak goal. Jadi, kalau tujuan kita yang sudah sangat jelas itu tidak tercapai, bukan tujuannya yang harus diubah tapi cara atau proses mencapai tujuan yang harus ditinjau kembali. Jangan sampai sepanjang hari hanya melihat angka-angka target dan kesulitan-kesulitan yang ada dilapangan sebagai penghalang keberhasilanmu, sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk meninjau proses dan cara kerja.”
Demikian Wiwik memberikan pencerahan kepada timnya dengan menggunakan perumpamaan sepak bola.
Saya cenderung memilih pendekatan positif untuk membangkitkan motivasi tim. Karena saya juga yakin bahwa Pribadi yang memiliki mindset pemenang sejati adalah mereka yang memiliki komitmen, integritas, kebesaran jiwa dan penghargaan yang tinggi terhadap aturan, etika dan moral yang berlaku dalam kompetisi di berbagai kehidupan. Mereka yang berhasil menjadi pemenang pertandingan, pada umumnya telah memiliki mindset pemenang dalam diri mereka sebelum turun ke arena pertandingan, bahkan terkadang sudah ditanam sejak kecil.
Foto ini diambil dari layar RCTI di Final EuroCup 2012 yang lalu.
Terima kasih Wiwik Sri Wilujeng, yang telah memberikan kami contoh nyata di lapangan tentang Mindset Pemenang dan peran seorang coach.
Coaching is a profession of love. You can’t coach people unless you love them – Eddie Robinson
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Thanks pak Josef, orang sukses dan orang gagal sama-sama memiliki satu kelebihan. Orang gagal kelebihan satu alasan, sementara orang sukses kelebihan satu cara.
Terima kasih Martin. Kita belajar dari sukses dan kegagalan. Simak terus kisah2 selanjutnya yg akan hadir rutin di blog ini
like this pak. terima kasih, sangat bagus postingannya.
Btw . kak martin, reuni nih.(CHRP batch 20)
Terima kasih Dea Helendra. Semoga posting lainnya juga bermanfaat