Lidah Mertua

Posted on December 9th, 2014

“The inner speech, your thoughts, can cause you to be rich or poor, loved or unloved, happy or unhappy, attractive or untractive, powerful or week.” (Ralph Charell)

PERCAKAPAN RINGAN selagi sarapan bersama teman-teman. Entah dari mana mulainya, tapi saya akhirnya sharing tentang manfaat tanaman yang kerennya disebut Sansevieria. Tanaman ini dapat mereduksi radiasi gelombang elektromaknetik yang ditimbulkan oleh komputer dan televisi. Maka baik jika tanaman ini diletakkan disamping komputer atau televisi.

Cerita ini saya dapatkan ketika mengunjungi sebuah kantor di Korea, dan menemukan tanaman ini di dekat banyak komputer. Teman-teman bersemangat mendengar cerita ini, tapi ada yang terperanjat begitu mendengar nama Indonesianya: Lidah Mertua.

Siapa yang memberi nama itu?? Apa hubungannya dengan mertua?,” tanya teman tadi. Entah siapa yang awalnya memberi nama itu, tapi tajamnya daun tanaman tersebut sering diasosiasikan dengan perilaku mertua (entah mertuanya siapa). Saya yang bercerita pun sampai kaget akan reaksi teman itu, sambil bersyukur bahwa kedua mertuaku dan mertua istriku adalah pribadi yang sejuk mengayomi, dengan tutur kata yang bijak dan menyenangkan siapapun yang mendengarkan.

Entah benar atau tidak tentang tajamnya lidah mertua, tapi LABEL itu sudah telanjur dibuat. Foto berikut ini saya ambil di lobby lounge sebuah hotel berbintang. Kehadirannya di sana terasa anggun, di tempat yang berkelas. Sangat kontras dengan konotasi negatif di balik nama Indonesianya.

Lidah Mertua by Josefbataona

Label

Dalam sebuah pertemuan, seorang kawan mengeluhkan keadaan di perusahaan, di mana dia merasa menjadi VICTIM, menjadi korban, mengutip kata yang digunakan teman itu. Banyak rencana yang ingin dilakukan tetapi terhambat, ide-ide bagus yang ingin diterapkan tapi terbentur. Masih banyak lagi hal yang dia keluhkan. Intinya dia menjadi victim.

Dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan untuk klarifikasi, diapun akhirnya menyadari bahwa label victim yang digunakan adalah label yang muncul spontan dari pikirannya, karena dia menggunakan kacamata “menyalahkan orang lain” seakan-akan dia benar dan orang lain yang salah. Ini merupakan perilaku reaktif.

Juga ketika saya mengajaknya untuk mencoba melihat potret peristiwanya dari kacamata yang lebih proactive, dia pun mulai melihat bahwa upayanya tidak cukup banyak untuk menyimak berbagai challenges yang dihadapi. Tidak cukup cermat untuk menggali berbagai peluang di balik challenges tersebut.

Label Diri yang Negatif Menurunkan Percaya Diri

Berapa banyak cap atau label yang pernah Anda ciptakan untuk diri sendiri?? Dan berapa dari di antaranya adalah label negatif?? Coba cermati label negatif tersebut dan renungkan secara jujur, siapa penciptanya. Kemungkinan besar, Anda sendiri dan mungkin saja tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Beberapa contoh label negatif yang sering dialamatkan pada diri sendiri:

Gagal, tidak ada harapan, nggak berguna, tolol, lemot, jelek, dari sononya, kurang beruntung, membosankan, males, mager (malas gerak), korban, dan lain-lain.

Lama kelamaan, Anda memberikan peneguhan pada diri sendiri tentang label itu, dan semakin percaya bahwa Anda adalah demikian.

Jadikan Positif

Label adalah sebuah bentuk identifikasi. Label juga merupakan nama yang secara mental kita berikan pada diri sendiri, bisa bersifat positif atau negatif. Bila label negatif tersebut di atas memang dibuat sendiri, artinya kita sendiri juga yang bisa berperan untuk membalikkan label tersebut menjadi positif. Semua ini berangkat dari pikiran kita sendiri.

Ambil saja contoh label: “Saya memang Tolol.” Saat ini usia Anda sudah banyak, sudah banyak pengalaman yang didapat. Buatkan daftar untuk meyakinkan bahwa Anda Pintar. Misalnya: Lulus SD, SMP, SMA. Diterima bekerja di Perusahaan. Adikku minta saya ajarkan PR. Teman sering minta pendapat saya…… dan buatkan daftar sepanjang mungkin.

Baca kembali daftar itu dengan penuh keyakinan bahwa Anda memang pintar. Ulangi lagi pernyataan itu: “Saya Memang Pintar” tidak sekali, berkali-kali… Pagi hari, di depan cermin bicara pada diri sendiri, saya memang pintar. Setiap hari tambahkan pada daftarmu eviden baru bahwa Anda memang pintar. Mudah-mudahan dengan cara demikian rasa percaya dirimu akan bertambah, dan juga secara sadar kita sudah membangun mindset positif.

Biasakan Berpikir Positif

Pernah baca riwayat hidup Nick Vujicic?? Pernah juga terlintas di pikirannya label: “Dari lahirnya saya memang begitu” sebuah pernyataan putus asa yang merupakan label negatif. Begitu dia membalikkan label itu menjadi positif, membangun pikiran positif, maka dia melihat bahwa kemungkinan berbuat positif sangat tidak terbatas. Dengan kondisi tubuhnya yang akhirnya dia yakini bukan merupakan keterbatasan, karena ada kemampuan lain yang dia bawa sejak lahir yang memberikan manfaat positif bagi banyak orang, sebuah kemampuan yang tidak mengenal batas…

Dengan membangun pikiran pisitif, kita akan terbiasa melakukan hal positif, bertindak positif, dan akan melihat hal positif di lingkungan sekitar, hal positif dalam diri orang-orang lain sekitar kita. Dunia ini akhirnya berisi hal-hal positif dalam pandangan kita, dan tanpa kita sadari kita sudah menyebarkan gelombang positif di sekitar kita, dan sekaligus menarik mereka yang berpikiran dan berperilaku positif ke dalam lingkungan kita …!

“Sometimes letting go is simply changing the labels you place on an event. Looking at the same event with fresh eyes.” (Steve Maraboli)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan