Mencari Calon Unggulan

Posted on July 21st, 2017

“First-rate people hire first-rate people; second-rate people hire third-rate people.” (Leo Rosten)

MEMPERSIAPKAN PIMPINAN MASA DEPAN sejak dini sudah menjadi model. Termasuk di antaranya adalah menjaring fresh graduate untuk mengikuti program dengan nama macam-macam: Management Trainee Program, Future Leaders Program, MT Star, dan lain-lain.

Satu kesamaannya adalah, mereka di-recruit bukan untuk mengisi posisi yang kosong. Kalaupun ada posisi yang perlu mereka duduki, itu merupakan bagian dari rencana untuk memberikan pembekalan di dunia nyata. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pimpinan masa depan di berbagai lini perusahaan.

Mencari Calon Unggulan_Indofood

Values Jadi Prasyarat

Menarik untuk menyimak paparan Justin Bariso, yang mengangkat pandangan Jeff Weiner, LinkedIn CEO  di blog Inc.com Southeast Asia tentang ‘How to find great people’. Dia memulainya dengan kalimat sejuk: “a company is only as great as its employees.” Banyak yang percaya akan statement itu, namun dalam implementasinya bisa jauh berbeda. Karena itu statement itu menjadi sangat penting untuk dikedepankan di awal.

Ada berbagai persyaratan dasar agar seorang fresh graduate bisa diterima. Dan ijasah sekolahnya termasuk bidang studi yang ditekuni, tentu bisa menjadi paspor andalan. Ini saja belum cukup. Banyak perusahaan memberikan juga fokus pada kesesuaian values calon dengan values yang dianut oleh masyarakat di perusahaan itu. Sukses individu dan perusahaan sangat tergantung pada perilaku sehari-hari dalam menjalankan fungsi masing-masing. Apakah sudah cukup dengan itu?

Mantra Tiga Kata

Para calon yang akan kita jaring tahu benar bagaimana menjual diri, baik saat menulis resume maupun saat wawancara. Sementara kita sendiri juga cenderung mencari dulu lulusan dari universitas unggulan. Jeff Weiner mengungkapkan apa yang coba dilakukan di LinkedIn. Mereka fokus pada tiga kata: Skills, not degrees.

Dia pun menegaskan:

“It’s not skills at the exclusion of degrees. It’s just expanding our perspective to go beyond degrees.”

Idealnya talented candidates yang memenuhi syarat yang dicari (misal: punya growth mindset, dedication dan work ethic) juga berada di antara calon-calon lulusan perguruan tinggi yang dijaring. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal yang tinggi juga bisa menjadi calon yang dicari.

Dan Weiner membenarkan hasil uji coba dalam internship program di mana pesertanya juga dari kelompok yang tidak memiliki pendidikan formal yang umumnya kita jaring. Dan hasilnya luar biasa, justru banyak dari mereka memiliki karakteristik yang dicari,  karena kata Weiner:

“We’re looking for folks with a growth mindset. We’re looking for people with the dedication, with the work ethic. We want to give them a shot. And what we’re finding is, these people are…incredibly talented, and they need a chance.”

Pertanyaannya adalah apakah kita mau memberikan mereka kesempatan?

Mencermati Gejala Baru Secara Bijak

Ketika tulisan ini saya siapkan, beredar pula di media sosial berita tentang 15 perusahaan yang melakukan recruitmen tanpa mensyaratkan degree. Diskusi pun melebar atau meluas, sampai ada kesan seakan-akan perusahaan-perusahaan itu tidak lagi membutuhkan ijasah perguruan tinggi. Salah satu referensinya, pada tautan berikut ini.

Kalau kita cermati benar, dan sejauh pemahaman saya, kita harus kembali melihat persyaratan yang dibuat oleh masing-masing perusahaan untuk job tertentu. Persyaratan itu bisa ditemukan di pendidikan formal di perguruan tinggi, bisa di pendidikan kejuruan atau di pengalaman tertentu dalam kehidupan ini. Seperti kata Maggie Stilwell, Ernst and Young’s managing partner for talent.

“Academic qualifications will still be taken into account and indeed remain an important consideration when assessing candidates as a whole, but will no longer act as a barrier to getting a foot in the door.”

Apalagi informasi pada tautan di atas secara jelas menyebutkan tentang beberapa job bukan semua, walau itu adalah top jobs:

“Here are 15 companies that have said they do not require a college diploma for some of their top jobs.”

Jadi pendekatannya adalah tidak menutup diri untuk mengambil calon yang bukan lulusan perguruan tinggi. Namun demikian perlu dicatat juga bahwa dari manapun asal skill atau knowledge dari calon, kesesuaian VALUE pribadinya dengan VALUE perusahaan juga merupakan prasyarat yang tidak bisa diabaikan begitu saja, kalau tidak mau dibilang sangat penting.

“It’s not skills at the exclusion of degrees. It’s just expanding our perspective to go beyond degrees.” (Jeff Weiner)

Bookmark and Share

2 Responses to Mencari Calon Unggulan

  1. arie herdian says:

    terkadang yg internship pun di buang begitu saja

    • josef josef says:

      Terima kasih arie, sudah ada perusahaan yang menerima internship dengan kualitas MT agar bisa sekalian di rekruit kalau sesuai. Tetapi sisi lainnya: mawasiswa yang average tdk akan dapat tempat internship di perusahaan seperti ini. Salam – Joseph

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET