Network dan Lembaran Kosong

Posted on January 20th, 2012

BRIEFING singkat dari CEO tentang penugasan baruku, membuatku sangat excited. Pikiranku mulai membayangkan tugas regional yang penuh tantangan tersebut. Siapkah aku?

Masih terngiang pembicaraan dengan pimpinanku. Waktu itu ia berkata, “Kamu dianggap paling pas untuk tugas baru sebagai Regional HR Manager Quest Asia Pacific.”

Hari pertama masuk kantor pun tiba. Saya datang di kantor baru, disambut langsung oleh Bob, Country Head Indonesia. Setelah berbincang-bincang tentang perusahaan, Bob memperkenalkan saya kepada jajaran top team.

Tak lama, saya lantas di bawa ke kamar kerjaku. Tampak jelas terlihat, di atas meja tersebut masih: kosong!

Bob kemudian menarik laci-laci meja sambil berkata, “Semuanya masih kosong.” Dia pun bergeser menuju ke arah lemari, membukanya pelan sambil tersenyum lebar. Bob kembali berujar, “Ini pun juga masih kosong, belum diisi apa-apa. So, welcome to Quest.”

Jelas dan simpel sekali pesan Bob. Saya paham maksudnya, mengapa semuanya masih kosong. Inilah saatnya bekerja.

Rencana jangka pendek pun segera disusun. Dimulai dengan agenda mengunjungi berbagai negara di kawasan Asia untuk mengenal para pimpinan dan sumber daya manusia setempat, serta memulai proyek integrasi HR system ke induk perusahaan.

Suatu pagi, telepon berdering. Ternyata panggilan dari Australia yang meminta saya segera datang ke kantor. Ada insiden kecil rupanya. Tersiar kabar akan ada pemeriksaan oleh Discrimination Board. Selidik punya selidik, ternyata ada laporan dari calon pegawai asal Vietnam yang merasa diperlakukan secara diskriminatif oleh perusahaan.

Data-data segera kami kumpulkan. Beruntung, team HR rupanya sangat tertib dalam urusan dokumentasi proses recruitment. Pemeriksaan pun dilaksanakan.

Dimulai dari short list diperiksa dengan detil, sampai akhirnya tinggal dua calon utama yang diwawancarai. Semua catatan, nyatanya bisa membuktikan bahwa calon dari Australia dipilih bukan karena dia orang Australia, tetapi karena kandidat ini memang lebih cakap dan sesuai dengan persyaratan pekerjaan dibandingkan dengan calon dari Vietnam.

Urusan clear.

Kesempatan lain, saya harus berhadapan dengan masalah yang menyangkut seorang manager senior. Manager ini sangat tahu seluk beluk peraturan ketenagakerjaan lokal ketimbang saya. Sangat beruntung, bahwa saya mengenal dekat semua HR Director di negara-negara di mana Quest beroperasi.

Di masa lalu, sebagai training manager atau remuneration manager, saya sering mengikuti back to back meeting dengan HR Directors meeting. Ini yang menjadi pintu bagi saya untuk mengenal semua petinggi HR tersebut.

Dan juga, karena Unilever Indonesia mempunyai banyak best practice yang sering dijadikan rujukan oleh teman-teman dari negara lain. Ini yang membuat kami menjadi terbiasa untuk selalu siap membagikan ilmu kepada siapa saja. Langkah ini, saya yakini sebagai investasi membangun dan memupuk kekuatan network sejak dini.

Siapa menanam benih, dia pula yang akan memanen. Pepatah ini mengena sekali. Di saat saya membutuhkan bantuan, mereka semua ini menyatakan siap mengulurkan tangan dengan senang hati.

Kembali kepada kasus senior manager tersebut, begitu mendarat di Thailand, saya langsung menghubungi HR Director Unilever setempat. Yang menggembirakan, ia menyatakan kesiapannya untuk membantu, seandainya saya menghadapi sandungan. Walaupun akhirnya tidak sampai terjadi hal krusial, saya merasa beruntung sekaligus confident dalam menghadapi berbagai tantangan. Saya yakin sekali, akan banyak tangan sahabat yang siap membantu.

Dan di atas lembar kosong, selain mengukir berbagai pembenahan SDM di Quest, saya pun menulis pengalaman belajar untuk bekerja di manca negara dengan budaya yang berbeda. Belajar mengatur waktu yang efisien, karena 60% waktuku terbang berkeliling dari satu negara ke negara lain.

Belajar bahwa setiap moment harus dimanfaatkan untuk membangun network sebaik mungkin. Karena kita tidak pernah menduga, kapan manfaat itu akan muncul di kemudian hari. (*)

Bookmark and Share

14 Responses to Network dan Lembaran Kosong

  1. erlina says:

    Setuju…..Network itu penting banget apalagi di era globalisasi saat ini!

  2. taat says:

    Ringkas padat jelas:-) .terima kasih pak. sayang saya tidak sempat belajar banyak dari pengalaman bapak,padahal bpk dulu HR director saya hehehe.(anakbandel)

    • josef josef says:

      Senang bisa kontak lagi dengan Taat. Tidak pernah terlambat untuk saling belajar. Sekarang ikuti cerita2 baru di blog ini setiap selasa dan jumat pagi

  3. mudji astuti says:

    Dear Pak Jos, selain network, jurus jitu Bpk adalah because you are Mr C&C (Cool & Calm), semua masalah dihadapi dengan kepala dingin & senyuman…;). tambahan info, ruangan di Quest bukan cuma kosong, tapi jauh lebih kecil, tidak ada jendela & no private secretary…;P. Jauh berbeda dengan fasilitas di ULI….& semua dihadapi Bpk dengan semangat tinggi + senyuman andalannya…;))

    • josef josef says:

      Terima kasih Mudji. Keterbatasan fasilitas yang Mudji sebutkan, tidak mengurung niat saya untuk memberikan kontribusi berarti bagi karyawan Quest di Indonesia dan kawasan Asia. Support Mudji, Erik dan teman2 lain di Quest, yang sangat saya syukuri, telah membuat kita bersama2 meyakini bahwa hubungan harmoni antar karyawan dan saling membantu untuk menghadapi berbagai situasi jauh lebih bermakna dari simbol fisik seperti besar kecilnya ruangan. Dan urusan Senyum itu adalah pilihan: sebelum berangkat kantor saya memilih attitude: Cool, Calm dan senyum. Ini bertalian dengan filosofi “Choose your attitude” yang barusan saya dan team HR di perusahaan sekarang sepakati untuk kita jalankan bersama-sama. Lebih jauh tentang ini, akan saya hadirkan di posting di kemudian hari.

  4. Jhon says:

    Hebat Pak Josef,

    kapan – kapan share lagi pengalaman yang membuat bangga akan aspirasi dan jawaban
    yang tepat. Sekali lagi . Trima Kasih

  5. basyit says:

    Salam Kenal, Pak Josef Bataona. Saya Basyit dari Cikarang, Bekasi. Hari ini saya sangat bersyukur bisa mengenal Bapak. Terima kasih buat Pak Nur yang sudah sharing web Pak Josef. Saya sangat setuju bahwa network yang baik adalah kata kunci dalam bisnis dan banyak hail lainnya. Semoga Pak Josef sehat selalu dan tetap bisa sharing ilmu buat sebanyak-banyak orang.

    • josef josef says:

      Selamat bertemu Basyit, terima kasih telah mengunjungi blog saya. Terima kasih juga untuk Nur yg telah merekomendasikan blog ini. Sharing ini akan saya teruskan, dan saya akan hadir setiap selasa dan jumat pagi dengan cerita baru

  6. Tiga Kata ” Saya Sangat Beruntung ” ,telah membaca tulisan Bapak Josef.

  7. Tinton Octora says:

    :), network memang penting.. saya baru akan memulai,, tidak ada kata terlambat bukan..

    *ijin bookmark.. 🙂

    • josef josef says:

      Setuju Tinton, tidak ada istilah terlambat. Langkah pertama biasanya sulit, tapi selanjutnya akan muda karena kita komit pada diri sendiri untuk melakukannya. Silahkan bookmark, silahkan berbagi pada teman2, karena tujuan saya membagi kisah disini agar bisa memberi manfaat bagi teman2 pembaca. Terima kasih Tinton, telah berkunjung ke blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Dewi, setuju sekali di rumahpun kita bisa rancang liburan yang menyenangkan. Butir yang tidak...

dewi:
Tidak semua liburan seharusnya keluar dan mengunjungi salah satu tempat wisata… terkadang dengan d rumah...

josef:
Terima kasih Mudji atas pertanyaannya: 1) Pembelajaran yang dimaksud tidak harus yang besar. Mis. Dalam...

Mudji:
Saat pertama Bpk baru buka blog ini di Nop 2011, terus terang saya suprise banget dgn moto Bpk yg berat ini +...

josef:
Terima kasih mba Meisia, batuknya sudah hilang berkat resep tradisional


Recent Post

  • Komitmen Belajar dan Berbagi
  • Start-up Mentality
  • Transformer Center: School of Life
  • Melayani dengan Coaching
  • Terus Belajar dan Berkembang
  • Agar Sehat dan FIT
  • Evaluasi Leadership Program
  • Kesalahan BESAR Seorang Pemimpin
  • Memaknai Pesan Alam Semesta
  • Waiting Time is Learning Moment