Posted on April 10th, 2012
PERUSAHAAN terus tumbuh dengan pesat, tahun demi tahun, mengukir prestasi gemilang selama lebih dari 70 tahun hadir di Indonesia. Setiap tahun, Anggota Direksi (BOD) berkesempatan untuk melakukan acara away day, dengan tema dan lokasi yang beragam.
Diskusi kali ini pun menghangat, ketika berbagai ide dikumpulkan, dan semuanya bagus untuk dipertimbangkan. Namun ada satu ide untuk away day yang sangat unik, walaupun dengan biaya yang tidak sedikit. Rencana disusun dan berangkatlah anggota BOD bersama istri/suami masing-masing menuju Roma, Italia.
Mengapa Roma?
Acara meeting hari pertama, membahas strategy tiga tahun mendatang dan model organisasi yang dibutuhkan. Diskusinya serius, tapi tidak melelahkan karena ada semangat lain yang melandasi pertemuan ini, yaitu Roma. Dalam tur keliling kota Roma, direksi berhenti di Coloseum dan beberapa tempat bersejarah lainnya, yang sekarang hanya sebagian puing yang tersisa, tapi masih bisa dibayangkan kemegahan aslinya.
Ditempat-tempat ini, kami berhenti dan melakukan refleksi:
1. Roma merupakan kerajaan di masa lalu yang sangat berjaya, dan sekarang tinggal kenangan sejarah. Kalau ULI (Unilever Indonesia) yang sangat sukses saat ini tidak berhati-hati, maka cerita sukses ini juga akan segera hanya menjadi cerita sejarah.
2. Roma memiliki banyak nilai SENI yang dirawat. Kalau ULI bisa menemukan Talent dengan mentality yang pas sesuai Value, maka ini akan menjadi kekuatan yang bisa diwariskan kepada generasi penerus.
3. Di dalam Roma sebagai ibu kota Italia, ada Vatikan, sebagai sebuah kota tapi juga sebuah Negara independen. Vatikan yang kecil itu mempunyai pengaruh luas di seluruh dunia, dan banyak Negara mempunyai duta di Vatikan. Demikian juga, di dalam Unilever Global dan Unilever Asia Afrika, terdapat ULI. Sebagaimana halnya Vatikan, ULI memang kecil, tapi mempunyai power dan berpengaruh di kancah regional maupun International.
4. Orang bilang “Banyak jalan menuju Roma”. Menuju lima tahun mendatang, kita perlu menjajagi rute yang berbeda, senjata yang berbeda dan strategi yang berbeda untuk memenangkan kompetisi di pasar.
5. Unilever bukannya perusahaan sederhana, tapi complex. Labirinth dan Catacomb di Roma adalah diantara contoh yang dikedepankan tentang lay-out bangunan yang complex di bawah tanah, dimana orang bisa tersesat dalam mecari jalan keluar. Tapi di sinilah tantangan sesungguhnya yang dihadapi ULI baik secara ke dalam maupun keluar: organisasi dan proses yang efisien dan efektif.
Banyak butir-butir refleksi dan insight yang dibawah pulang sebagai oleh-oleh. Penerapan ide-ide tersebut telah membawa perusahaan ke tingkat pertumbuhan bisnis 2x lipat dalam kurun waktu 5 tahun. Dan semua daya dan upaya dilakukan agar jangan sampai kisah Coloseum terulang di ULI. Perusahaan ini harus terus eksis, tumbuh dan berjaya. Dan indikasi positif masih nampak dari hasil yang dicapai perusahaan hingga saat ini. (*)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Refleksi dan belajar dari sejarah membuat kita lebih bijak dalam mengambil langkah ke depan. Sip!
Sumber pembelajaran yg tak terbatas, terima kasih Erlina
Sebuah perjalanan yang sangat menarik dengan filosofi yang tak kalah hebat. Sangat menginspirasi, tentunya dalam manifestasi bentuk2 pembelajaran yang lain. Salut !
Terima kasih Antonius untuk terus menyimak berbagi kisah di blog ini. Dan Roma sangat kaya akan pembelajaran, dan memang diracik oleh pemandu wisatanya dengan cara yang sangat cerdas. Salam
Roma dikenal juga dengan julukan “La Citta Eterna” alias Kota Abadi. Tata Jos membuat refleksi dalam padanannya dengan ULI, berarti terbersit juga cita-cita agar ULI juga jadi ETERNA, alias abadi dalam spirit,vision dan mission-nya.
Saya sendiri pernah melewati tahun-tahun studi di Roma, dan memang selalu ada kerinduan untuk kembali lari pagi mengitari Colloseum, menikmati musik-musik dan ukiran-ukiran yang memang abadi dalam kenangan, tetapi juga modernisme yang tidak menggerus Roma yang Sejati. Viva Roma! Viva ULI! Ad multos annos!
Sudut pandang lain yang sangat powerful. Dan eksistensi ULI di tahun2 mendatang bersama dengan spiritnya, akan menjadi legacy yang sangat bernilai dari para pemimpin saat ini. Bait terakhirmu juga turut menggugah keinginan saya untuk kembali berkunjung ke Roma. Teima kasih pater atas kunjungannya ke blog ini
Tata Jos, buka pagi, saya suka menginspirasi para staff di Yayasan kami dengan mantra orang-orang italia ini: “La Vita e’ bella, facciamola piu’ bella che c’e’!”: “Hidup itu indah, marilah kita membuatnya lebih indah dari apa adanya sekarang ini!”
Saya menemukan lagi sebuah mantra baru… Sangat berguna, dan saya akan share ke temN2 saya. Terim kasih
Sangat menarik refleksinya, ternyata puing2 reruntuhan itu masih bisa mengatakan sesuatu untuk kita di masa kini, salut. Sedikit masukan kecil, kalau tidak salah Imperium Romana Latin itu jatuh karena perang saudara dan konflik internal di dalam Imperiumnya, sebagaimana semua peradaban besar jatuh karena logika internalnya masing2. Mungkin ini juga bisa jadi pelajaran untuk kita semua, khususnya Indonesia. Salam & Selamat Paskah..
terima kasih Ito, sisi lain yang diangkat disini, sangat real: konflik internal, menempatkan EGO diatas segalanya, ini merpakan muasal bencana. Pelajaran yang sangat bermanfaat. Salam
Benar sekali Pak JOS,
Hal tsb telah terjadi pada ICI (Imperial Chemical Industries), sebuah perusahaan raksasa dari UK, dimana sekarang hanya tinggal kenangan.
Saat itu terjadi 5 th yll, sulit bagi kami untuk menghadapinya & banyak cerita sedih dibaliknya.
Pagi Mudji, ada kesedihan tapi juga banyak pembelajaran yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Kita semua belajar dari setiap moment kehidupan kita. Terima kasih. Sebentar lagi akn tampil artikel tanpa kata, biar imajinasi kalian bebas membacanya. Sekali lagi terima kasih