Rindu Ber-Hari Raya di Kampung

Posted on April 24th, 2012

KISAH tentang Bersedia ditempatkan di mana saja, masih berlanjut, dan kali ini saya mengangkat kasus yang lebih unik lagi. Karyawan yang berasal dari Jawa Timur dipindah-tugaskan ke Sumatra Utara. Perpindahan ini pun disambut baik oleh karyawan dan keluarganya.

Tahun pertama semuanya berjalan lancar, walaupun sudah mulai muncul pertanyaan, “Apakah kita bisa pulang kampung untuk merayakan Hari Raya bersama keluarga?” Ternyata, bukan satu orang saja yang merasakan situasi seperti itu.


Open Dialogue
Sadar bahwa ada kesempatan open dialogue, di mana hadir Presiden Direktur dan Direktur HR, mereka mempersiapkan pertanyaan, siapa tahu mendapat tanggapan. Tibalah saatnya Sales Conference 2008, dan waktunya open dialogue siap dimulai.

Dengan hati-hati, karyawan ini menyusun kata-katanya agar terdengar santun, kesan bertanya bukan menuntut, tapi dengan keyakinan bahwa ini adalah dialog antara orang tua dan anak-anaknya. Inilah suara-suara mereka:

Sudah dua tahun kami pindah tugas di Sumatra Utara. Kami dan keluarga gembira dengan penugasan itu. Namun setelah dua tahun, ada kerinduan untuk mendengarkan takbir dari masjid masa kecilku di kampung.

Orang tua kami sering telpon dan bertanya, akankah kami pulang Lebaran nanti? Katanya mereka sudah kangen dengan cucunya, dan memang anak-anak kami pun sudah rindu bertemu kakek dan neneknya di kampung

Tidak ada yang aneh dari ungkapan di atas.

Lalu apa yang ada dibalik itu?

Bayangkan seorang karyawan dengan dua anak, kalau pulang kampung untuk Lebaran, dia harus membeli 4 tiket: Medan – Jakarta – Surabaya PP, dan menyewa mobil dari Surabaya ke kampung dan sewa mobil selama di kampung, ditambah keperluan-keperluan lainnya.

Nilai emosional, bukan sekedar finansial.

Hitungan di atas kertas menunjukkan bahwa mereka akan mengeluarkan uang cukup banyak (walaupun ada THR dan tunjangan cuti total sebesar 2.5 gaji). Buat karyawan ini, dan karyawan manapun, tuntutan emosional untuk berkumpul dengan keluarga di kampung di saat Hari Raya, merupakan sesuatu kepuasan yang tidak bisa diukur dengan uang. Tapi memaksakan diri untuk pulang setiap tahun, juga berlebihan.

Perusahaan pun menanggapinya dengan mengeluarkan peraturan:

Bagi karyawan ‘sales’ yang bertugas minimum 1.000 km dari domisili mereka, akan bisa pulang bersama keluarga untuk ber-Hari Raya di kampung halamannya atas biaya perusahaan.

Setelah dicermati, jumlah yang mengalami situasi seperti ini sangat sedikit, dampak keuangan perusahaan sangat minimal, tapi keputusan ini bukan saja memberikan suka cita luar biasa kepada karyawan dan keluarga yang akan menikmatinya, tetapi juga bagi seluruh karyawan perusahaan yang melihat bahwa ada berbagai bukti, pimpinan mendengarkan dan serius menindak-lanjuti. (*)

Baca juga: “Siap Ditempatkan Di Mana Saja”. Klik di sini.

Bookmark and Share

7 Responses to Rindu Ber-Hari Raya di Kampung

  1. erlina says:

    Setuju Pak, Nilai emosional bukan sekedar finansial….:)

  2. erlina says:

    Setuju Pak, Nilai emosional bukan hanya sekedar nilai finansial saja….:)

  3. Hadi says:

    Menarik pak…tapi saya sedikit punya pemikiran berbeda..jika peraturan dibuat, kemudian ternyata hanya menyentuh sebagian kecil dari komunitas, apakah peraturan tsb sudah tepat ? ataukah perlu direview lagi, agar lebih banyak yang juga bisa ter-impact oleh peraturan yang dibuat ?

    • josef josef says:

      Dear Hadi, beda pendapat itu ngga apa2. Saya setuju sekali bahwa aturan yg dibuat, kalau bisa memberikan dampak pada lebih banyak orang, akan lebih baik. Kisah ini untuk memberikan koteks dimana, aturan itu tidak bisa atau belum bisa direview untuk mengcover semua orang, tetapi ada need pada waktu itu untuk segera diterapkan untuk tidak mengurangi motivasi orang yang akan dipindah-tugaskan ke tempat yang jauh. Yang saya antisipasi kedepan adalah, ini bisa menjadi bagian dari peraturan utama, tetap untuk orang2 dengan penugasan tertentu, tetapi semua orang tahu kalau suatu waktu dia mendapatkan penugasan yg memenuhi kriteria itu, dia akan mendapat fasilitas khusus untuk pulang berhari raya. Ini mirip dengan hardzip allowance: orang dipindahkan ke daerah tertentu dapat hardzip allowance, tapi yang ke daerah lain belum tentu dapat. Mudah2an menjawab – Salam

  4. AgusPri says:

    Dear Pak Josep,

    Sangat bijak jika pimpinan memahami dengan cepat dan merespon dengan cepat apa kebutuhan karyawan agar karyawan tetap mempunyai motivasi dan produktivitas tinggi jangka panjang.

    Namun masih banyak pimpinan perusahaan yg belum memahami hal-hal demikian, ini menjadi PR kita para praktisi HR agar HR menjadi business partner yg sebenar2nya, dengan cara menciptakan iklim kerja yg mendorong motivias, produktivitas dan kualitas karyawan dan ujung2nya adalah pencapaian kienrja perusahaan jangka panjang.

    Salam sukses.

    • josef josef says:

      Dear Agus, terima kasih. Awalnya, kita mau mendengarkan, dan karyawan merasa comfortable untuk mengemukakan pendapat. Kedua karyawan juga mau melihat bukti, apakah kita mau follow up. Terkadang hal kecil sekitar kita kalau ditanggapi serius, akan memberikan nampak sangat positif. Setuju, PR dari kita semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih. Semua kita punya kontribusi untuk menciptakan lingkungan untuk tumbuh kembangnya mindset...

Ratih:
Penutupnya keren Pak, “fokus pada solusi”. Hal ini akan mudah diterapkan jika kita punya mindset...

josef:
Terima kasih Ratih, sungguh cantik, hanya terbatasnya ruang untuk penyajian saya di blog. Salam

Ratih:
Cantik sekali ya Pak pemandangannya..

josef:
Terima kasih Tromol untuk waktunya menyimak kisah ini. Banyak momen hadir dihadapan kita, untuk mengingatkan...


Recent Post

  • Kick-off Coaching Program
  • Suasana Penuh Kedamaian
  • Jadikan Pelajaran Berharga
  • Swedia Negara Ribuan Pulau
  • World’s Happy Countries
  • Indahnya Ciptaan Tuhan
  • Meaning dibalik Aktivitas
  • Optimisme Pekerja Mandiri
  • Positive Organization
  • Benih Positif di Taman Kehidupan