Saya Manusia Biasa: “Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Posted on September 14th, 2012

MASIH dalam suasana Lebaran, suasana di mana kita saling memaafkan satu sama lain. Pernah beredar pertanyaan, apa 3 kata penting dalam kehidupanmu sehari-hari: dan macam-macam jawabannya. Termasuk di dalamnya; saya mengaku salah; saya minta maaf; janji tidak mengulangi, maaf lahir batin.

Ungkapan terakhir ini sungguh sangat mulia, terdengar merdu bila keluar dari hati yang tulus, ikhlas menjalankannya. Saya mohon dimaafkan.

Tanpa disadari, ini merupakan sebuah janji, bahwa setelah permohonan maaf ini, saya tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Akan kembali hidup sesuai norma yang seharusnya.

Dan kehadiran saya sore itu di Surabaya, adalah juga sebagai seorang manusia biasa yang penuh salah, dengan ikhlas saya ingin memohon diberikan maaf, lahir dan batin.

Komunitas Majemuk

Kesadaran penuh akan kehidupan sosial kita, baik itu di rumah, di tempat kerja ataupun di tengah masyarakat, akan terus membuat kita lebih jelas bahwa kita tidak sendirian, tapi bersama orang-orang lain dengan karakteristik yang berbeda-beda. Kesadaran ini juga akan mendorong masing-masing kita untuk berusaha memahami orang lain, sehingga akan memudahkan berinteraksi dengan mereka.

Kesalahan, yang menjadi alasan kenapa kita meminta maaf tersebut, tidak jarang dimulai dari kesalah-pahaman satu sama lain. Berbagai pesan yang disampaikan penceramah, baik dalam acara “Buka Puasa Bersama”, maupun acara “Halal Bi Halal”, merupakan pesan moral kehidupan, untuk saling memahami, dan tentu saja diberikan berbagai tips untuk berbuat BAIK, termasuk juga untuk bersama menciptakan lingkungan yang damai.

Janji Followup

Paling sering kita melihat kemajemukan dari kacamata horizontal, di mana semua kita berasal dari berbagai etnis, agama, golongan, karakter dan lain-lain. Tapi juga kita bisa melihat kemajemukan dari spektrum vertikal: ada atasan dan bawahan, ada pimpinan ada karyawan, ada kakak dan adik, ada orang tua dan anak, dan sebagainya.

Di rumah, umumnya anak-anak akan berkumpul di rumah orang tua atau yang dituakan kalau orang tua sudah tidak ada lagi. Lebaran kali ini, saya memilih untuk mendatangi daerah binaan saya di Cabang Gub-Suryo, Surabaya, untuk saling menerimakan “Maaf Lahir Batin”.

Dan fokus kunjungan kali ini juga pada membangun tim dengan menciptakan lingkungan kerja yang diinginkan bersama. Dalam acara tatap muka di sore itu, saya mulai dengan presentasi tentang butir-butir yang mereka ungkapkan dalam kunjungan yang lalu, dan progress dari followup saya.

Secara terbuka saya sampaikan:

“Dalam setiap kunjungan, saya akan mulai dengan melaporkan kepada kalian, tentang followup yang sudah kami jalankan. Sesudah itu, baru giliran kalian melaporkan kepada saya tentang janji kalian untuk followup actions dari presentasi terdahulu.”

Menyingkirkan Batas-batas Formal

Foto di bawah ini memperlihatkan:

Foto bersama tim seusai laporan tim, akan progress dbanding kunjungan lalu (foto paling bawah). Sementara itu, keempat foto lainnya, adalah suasana saling memberikan “Maaf Lahir Batin.”

Suasana makan pun dibuat lebih santai, semua duduk di lantai berkarpet, bisa ngobrol sambil makan, dalam situasi yang tidak kaku karena batasan-batasan formal yang tercipta di pikiran masing-masing, karena status dan jabatan. Dan tidak diduga, sesampai di Jakarta malam itu sebuah kicauan hadir di TL (time-line) Twitter saya, dari ‏@aiemono yang berbunyi:

“Another best part being Danamoners: we can have a friendly conversation with the director” cc Mr @Josefbataona

Terima kasih Aie telah mengangkat ini, dan sengaja saya tampilkan di sini bukan kerena compliment yang diberikan oleh Aie, tapi terlebih untuk mengedepankan kepada anggota tim lainnya bahwa, saya memang datang berkunjung sebagai Direktur, tapi saya adalah Joseph Bataona, manusia biasa yang sedang duduk makan bersama kalian sambil lesehan, ngobrol tentang kesukaan akan sambel yang pedas, tentang kebiasaan kita (termasuk saya) yang narsis untuk selalu berfoto-foto bersama.

Dan kita semua pun bisa tertawa berbarengan, dan saya tidak tertawa sebagai Direktur, tetapi tertawa sebagai seorang manusia biasa. (*)

Bookmark and Share

2 Responses to Saya Manusia Biasa: “Mohon Maaf Lahir dan Batin”

  1. Membaca tulisan diatas, saya jd bercermin dan mulai mengkaji bhw sebuah kt maaf adl sbh kata yg bgitu besar artinya bg si pemohon dan penerima maaf, walaupun kata maaf sgt mudah diucapkan ada baikna kitapun hrs mudah menjalankan dan mpertanggung jawabkan sbh kt maaf.., jgn hanya terucap dibibir tdk diikuti dgn sbh tindakan ya pak…,hehehe.., utk itu sy juga mhn maaf ya pak utk segala salah yg prnh sy lakukan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan