Siapakah SAYA, Setelah Semua Atribut Ditanggalkan?

Posted on June 28th, 2013

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” (Mahatma Gandhi)

BERAPA BANYAK nasehat yang diberikan dalam kehidupan ini, untuk membimbing kita agar hidup lebih positif, hidup lebih bermakna untuk banyak orang. Dan sekian banyak pesan yang kita terima, sekian banyak kali pula kita tidak menanggapinya secara serius.

“Masih ada hari esok!” Inilah yang sering terlintas dalam pikiran kita. Tulisan ini merupakan elaborasi catatan harianku, refleksi atas beberapa komentar yang saya dapatkan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) lalu. Paus Paulus VI sendiri pernah mengungkapkan:

“Someone should tell us, right at the start of our lives, that we are dying. Then we might live life to the limit, every minute of every day. Do it ! I say. Whatever you want to do, do it now ! There are only so many tomorrows.”

Dan masih banyak lagi pesan yang coba dikedepankan, selalu dengan pembukaan: “Seandainya hidupmu tinggal sehari lagi, apa yang akan engkau lakukan?? Seandainya hidupmu tinggal sejam lagi, apa yang utama dilakukan??” Berbagai latihan dalam program training kita lakukan, tapi masih saja diperlukan reminder dari waktu ke waktu.

Ruang Kerja dan Jas

Usai RUPS, di mana palu diketok untuk pengangkatan saya sebagai direktur perusahaan, saya mendapat ucapan selamat termasuk dari tim saya. Tapi ada yang dengan bercanda bertanya:

“Apakah selanjutnya bapak mengenakan jas seperti hari ini? Kalau bisa jangan pindah ruangan, biar di sini saja bersama kami”

Komentar ini sesuatu yang penting untuk saya renungkan, jangan sampai saya berubah hanya karena atribut baru.  Karena buat banyak orang, pakaian, ruang kerja dan atribut kepangkatan merupakan sesuatu yang penting, kalau perlu ditonjolkan. Saya memang setiap hari hanya mengenakan kemeja, bahkan tanpa dasi. Dan saya tidak akan berubah karena status baru sebagai direktur. Kemarin, sekarang dan besok saya tetap Joseph Bataona, atasan mereka.

Bangga dengan Dasi

Suatu sore di tahun 1989, beberapa manajer muda di Perusahaan saya bekerja mendatangi ruang kerjaku untuk berbincang santai.

“Kita sekarang kalau ada meeting di luar suka minder. Malu sama teman-teman dari bank atau perusahaan lain yang berdasi.”

Demikian ungkapan mereka mengawali obrolan sore itu. Dan banyak contoh pengalaman yang diceritakan. Saya pun bertanya untuk mengerti.

“Kalau demikian, kenapa kalian tidak pakai dasi? Siapa yang melarang?”

Ternyata mereka tidak berani.

“Masa kami pakai dasi sementara para senior di kantor ini tidak. Kalau cuma diketawaian mereka nggak apa-apa, kalau dimarahin?”

Kisah ini selain memperlihatkan bagaimana takutnya Gen X pada Boomers pada waktu itu, juga mengedepankan betapa manager muda ini ingin tampil lebih percaya diri dengan dasi. Dalam pemahaman mereka, dasi itu sebuah symbol untuk penampilan yang trendy sekaligus mengangkat self confidence. Punya nilai yang berbeda di masyarakat.

Dari berbagai diskusi yang berlanjut, akhirnya kami membuat usulan untuk memakai dasi pada event tertentu di perusahaan. Masing-masing manager dibagi “Corporate Tie.” Ini akan memberikan alasan pada manager-manager muda untuk memakainya di luar event dengan dress codeCorporate Tie” tanpa takut disalahkan para senior mereka.

Percaya atau tidak, hanya dua belas tahun kemudian dialog seperti itu terjadi lagi, tapi dengan pertanyaan:

“Mengapa kita harus memakai dasi?”

Loh, yang minta dulu itu siapa?

Akhirnya diskusi juga berlanjut dengan memperkenalkan Jumat sebagai casual day.

Pesan Akhir dari Alexander Agung

Dalam artikel di blognya tanggal 9 February 2009, Devang Vibhakar memaparkan kisah inspirational dari kata-kata terakhir Alexander Agung. Setelah mengalahkan berbagai kerajaan, iapun kembali ke kerajaannya sendiri. Dalam perjalanan pulang Alexander jatuh sakit. Dia pun menyadari bahwa kejayaannya, pasukannya, pedang yang tajam dan semua kekayaannya tidak bisa menolongnya.

Karena sadar bahwa peluangnya untuk hidup sudah sangat tipis, ia memanggil jenderalnya dan menyampaikan pesan terakhir.

“Saya akan segera meninggal, dan saya punya tiga permintaan. Laksanakan itu dengan sebaik-baiknya:

Permintaan Pertama: Dokter saya yang harus memikul peti jenasah saya.

Permintaan Kedua: Sepanjang jalan menuju ke kuburan, agar ditebarkan emas, perak, batu berharga yang saya koleksi.

Permintaan Ketiga: Agar kedua tangan saya dibiarkan terentang keluar peti jenasah.”

Semua yang hadir heran akan permintaan yang aneh, tetapi tidak ada yang berani menanyakannya. Namun sang jenderal kesayangan Alexander mencium tangannya dan mendekapkannya ke dada sambil berjanji.

“O sang raja, kami berjanji akan memenuhinya, tetapi katakanlah, kenapa raja membuat permintaan aneh seperti itu?”

Setelah menarik napas dalam, sang raja menjawab.

“Saya ingin dunia mengetahui tiga pelajaran yang saya dapatkan dalam kehidupan ini. Saya ingin dokter yang merawatku memikul jenasahku untuk  memberi pesan kepada dunia bahwa tidak ada dokter mana pun yang bisa membantumu dalam situasi kritis seperti yang saya alami. Mereka tidak berdaya untuk menyembuhkan aku. Karena itu kalian semua jangan menyia-nyiakan kehidupanmu.

Pelajaran kedua dengan menaburkan emas, perak, batu berharga yang saya koleksi: Bahwa tidak sedikitpun emas atau kekayaan lainnya yang akan kubawa mati. Jangan membuang waktu mengumpulkan kekayaan, dan akhirnya tidak sedikit pun yang akan menyertaimu ketika meninggal.

Dan pelajaran ketiga dengan kedua tangan saya terentang keluar peti jenazah, agar dunia mengetahui bahwa saya datang ke dunia dengan tangan kosong dan saya meninggalkan dunia ini juga dengan tangan kosong.”

Alexander pun menghembuskan napas terakhir setelah menyampaikan kata-kata terakhirnya:

“Bury my body, do not build any monument, keep my hands outside so that the world knows the person who won the world had nothing in his hands when dying.“

Kita tidak harus menunggu saat kritis seperti Alexander untuk menyadari hal-hal penting dalam kehidupan ini. Tapi saling mengingatkan juga merupakan perbutan yang terpuji, agar hidup kita ini bermakna, terutama kalau suatu saat semua atribut dalam perjalanan karier dan kehidupan ini ditanggalkan.

Refleksi melalui pertanyaan ini, senantiasa diperlukan:

Siapakah SAYA, Setelah Semua Atribut Ditanggalkan?

“As a well-spent day brings happy sleep, so a life well-used brings happy death.” (Leonardo da Vinci)

Bookmark and Share

19 Responses to Siapakah SAYA, Setelah Semua Atribut Ditanggalkan?

  1. Damianus Rangga says:

    Luar biasa Pak Josef, atas inspirasi pagi ini. Dan mengingatkan peristiwa rabu abu.Bahwa kita berasal dari abu dan kembali menjadi. Memang dalam hidup ini kadang-kadang ada orang yang mempertaruhkan harga dirinya sendiri agar mendapatkan posisi atau sesuatu dgn cara yang tdk fair, melupakan bahwa setelah meninggal kita tidak membawa apa-apa, seperti ketika lahir dtg dengan tangan kosong dan saat mati nanti plg dgn tangan kosong pula. Terima kasih Pak Josef telah mengingatkan. Ini adalah kado weekend utk berefleksi.GBU

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus, ini lebih merupakan refleksi saya pribadi, tapi ingin saya bagi pada teman2 untuk saling mengingatkan, sekaligus saling memotivasi. Selamat menikmati akhir pekan bersama orang2 yang dicintai !

  2. Ugha says:

    mengesankan Pak..NoteToMySelf

  3. Stefanus Edo Prasetya says:

    Lalu Pak Joseph akan pindah ruangan?
    Bagaimana kesannya pak?
    Semoga CHR Indofood terus berjaya ya pak
    Salam untuk rekan2 disana

  4. Edho Pehelerang says:

    Artikel yang menarik. jangan menjadi orang lain ataupun arogan dengan jabatan yang didapatkan, karena siapakah dirimu, ketika meninggalkan dunia ini. Sangat menarik pak Josef.

    Tapi ijin menanggapi hal berpakaian yang ada di bagian “corporate tie”. Menurut saya berpakaian, mengenakan dasi, potong rambut, dll adalah salah satu cara kita menghargai diri kita masing2. Saya memiliki seorang teman di jogja yang kebetulan sekarang juga rekan kerja saya. Beliau mengatakan “Sudah saatnya Saya meng-SOP-kan diri sendiri”.Beliau juga pernah melakukan presentasi sederhana di depan rekan2 yang lain dimana kondisi dan situasi di situ adalah santai dan tidak resmi sehingga banyak diantara mereka bahkan saya hanya menggunakan kaos. Dan Teman saya yang melakukan presentasi ini menggunakan kemeja, celana panjang kain dan melakukan presentasi di depan rekan2 yang ‘santai” ini. dan setelah itu saya dan teman saya tersebut berdiskusi dan saya iseng bertanya “kenapa resmi banget boy kan sudah dibilang kita boleh santai dengan pakaian kita, toh ini tidak mengharuskan kita berpakaian resmi dan saya tau km juga membawa kaos (casual clothes)”, Dan jawaban beliau adalah “saya menghargai diri saya sendiri yang sedang mencoba menyampaikan sebuah pesan”

    Jadi menurut saya cara berpakaian pun dalam perspektif yang lain adalah cara menghargai dirimu sendiri. Demikian pak Josef share dari saya.

    • josef josef says:

      Terima kasih Edho, kata kuncinya sudah Edho sebutkan: Jangan menjadi orang lain. Contoh Corporate Tie pd waktu itu memang untuk meningkatkan self condidence mereka. Tapi orang lain tdk perlu tambahan ini karena konfidennya sdh tinggi.
      Untuk contoh yang Edho ketengahkan, yang penting orang yang bersangkutan tahu “Personal Branding” nya dan bagaimana mengkomunikasikannya.

  5. Rudy Hartono says:

    Terima kasih for sharing your own experience Pak Josef.

    Sama seperti ajaran dalam agama kami bahwa manusia saat meninggalkan dunia yang fana ini.. tidak ada satu bijipun harta dunia yang dibawanya serta.. semuanya pasti ditinggalkan.. kecuali amal ibadah yang dikerjakannya selama hidup di dunia ini dan doa anak yang sholeh.

    Your sharing are inspiring and remind all readers that we are nothing when we are “leaving” the world for good.

    Have a good weekend Pak..!

    Regards,

    Rudy Hartono

    • josef josef says:

      Terima kasih Rudy, ini untuk mengingatkan kita untuk berbuat kebaikan buat banyak orang. Tidak ada istilah terlambat, hari inipun ada yang bisa kita lakukan. Terima kasih telah mengunjungi blog dan menyimak kisah disini

  6. Santi says:

    Thanks Pak Josef for always inspiring us.

  7. Santi says:

    Great article Pak.
    Thank’s

  8. Merza says:

    Banyak hikmah yang dapat saya dapatkan dari artikel Bapak. Jabatan sering membuat lupa diri cita-cita kita sebelum kita mendapatkan jabatan tersebut…
    Terimaksih Bapak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Merza untuk kembali menggaris-bawahi butir penting dari tulisan ini. Terima kasih juga untuk menyempatkan diri mengunjungi blog ini. Nantikan posting selanjutnya

  9. elfi says:

    Tulisan Bpk memberikan pencerahan yang meluruskan perspektif saya dlm melihat diri sendiri maupun orang lain Pak.. bagaimana memberi nilai dan bersikap,
    baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Terima kasih Pak…

    • josef josef says:

      Terima kasih Elfi, sekitar kita tiap hari banyak sekali yang bisa kita cermati dan mengambil pelajaran darinya, asal kita mau membuka diri untuk itu. Pada tahap berikutnya kita bisa saling membantu, saling mengingatkan, seperti falsafah bugis yg kita dapatkan di Makasar. Sekali lagi terima kasihsdh menyimak kisah ini

  10. Doris Maruli Purba says:

    Terima kasih Pak Josef atas artikelnya. Sangat inspiratif sekali buat perjuangan hidup, terlebih-lebih menghargai hidup, dan seperti apa kita setelah kita menjalani hidup.
    Tuhan memberkati. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life