Suksesi dan Kucing Dalam Karung

Posted on February 21st, 2014

“The best way to inspire people to a superior performance is to convince them by everything you do and by your everyday attitude that you are wholeheartedly supporting them.” (Harold S. Greneen)

TANGGUNG JAWAB PIMPINAN untuk mengembangkan anak buahnya, memang merupakan amanah yang tertuang dalam job description. Kalau tidak punya job description pun bukan berarti tanggung jawab ini menjadi hilang. Ini  merupakan hal yang logic dan diterima umum. Karena tanpa pengembangan jangka panjang, tim akan jalan di tempat, atau kalaupun melangkah,  atasan maupun bawahan juga akan sangat lamban melangkah untuk berprestasi yang lebih baik.

Proses belajar dan berkembang  bisa dimungkinkan bila kepala bagian mampu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk seluruh tim belajar, belajar dari masing-masing tim, belajar dari keseharian, belajar dari atasan dan bawahan. Dan karyawan pun siap belajar dengan berbagai cara seperti terlihat pada gambar ini, diambil dari sesi kerja tim di Bandung baru-baru ini.

Sesi Kerja Tim by josefbataona dotcom

Diperlukan Ketulusan

Surat pengangkatan yang diterima untuk menduduki sebuah posisi dan sekaligus memimpin sebuah tim, adalah sebuah panggilan mulia. Ada masa depan sejumlah orang yang dipercayakan di tangan pimpinan ini.

Apakah ini kebetulan?? Jawab saya TIDAK.

Semua ada alasannya. Dan tanggung jawab untuk membimbing anak buah memberikan kontribusi pada kepuasan kerja sang atasan, karena dia bisa menemukan makna mendalam dari tugas tersebut: membuat orang lain maju dan berkembang.

Ini membutuhkan sikap tulus dalam berkarya, terutama bila menemukan anggota tim yang tidak mudah diatur, atau yang mempunyai kemampuan belajar tidak seirama dengan anggota tim lain. Dalam situasi seperti ini, atasan tertantang, apakah akan meninggalkan anggota tim ini karena mereka harus berlari cepat, atau memacu anak buah ini karena mereka semua harus mencapai garis finish bersama-sama.

Praktek yang Tidak JUJUR

Saya termasuk yang prihatin bila mendengar sharing teman kalau ada praktek yang kurang terpuji di perusahaan mereka. Ketika mendiskusikan Succession Plan, ada saja yang mencoba untuk membungkus karyawannya yang kurang berkualitas, dengan cerita yang meyakinkan untuk memberikan kesan betapa bagusnya karyawan itu sehingga patut dipromosikan di tempat lain.

Atau, kalau saja ada lowongan tersedia di unit atau Divisi lain, ada juga atasan yang tidak henti-hentinya menyodorkan karyawan yang sebetulnya tidak berprestasi, tapi dengan cara sedemikian rupa sehingga bisa diterima dan belakangan atasan yang baru merasa seakan terjebak atau persisnya tertipu. Peribahasa lama: “membeli kucing dalam karung.

Loh, bagaimana bisa terjadi?

Iya, ini bisa dan senantiasa terjadi, bila tidak ada forum dan sistem untuk merancang succession. Dan tentunya, yang berada pada posisi yang paling netral untuk memfasilitasi ini adalah HR. Melalui forum Succession Plan discussion, semua aspek tentang posisi kunci dibahas, dan juga calon-calon penggantinya. Dengan demikian, ketika ada posisi lowong yang perlu diisi, kita hanya merujuk pada daftar succession yang sudah dibahas dan disetujui bersama.

Yakinkah Karyawan di Luar Daftar Itu Kurang Mampu?

Ada sharing kawan lain yang baru mau menerapkan program Succession Plan secara benar. Dalam diskusi tersebut, setelah semua sepakat akan daftar talent sebagai successor, dia bertanya: “Apakah mereka yang tidak berada dalam list artinya mereka kurang mampu?? Mereka memiliki kualitas tidak memenuhi syarat untuk menjadi Talent??”

Serentak semua yang hadir yang merasa aneh akan pertanyaan tersebut, dan serempak menjawab: “Tentu saja IYA.”

Kemudian dalam diskusi lebih lanjut, lebih intensif, ditemukan bahwa ada juga karyawan yang seharusnya berada dalam list tapi tidak dimasukkan karena sering berbeda sudut pandang dengan atasan. Ada yang berbicara dengan cara yang berbeda dengan atasan, atau yang pikirannya berbeda dengan atasan. Ada juga yang sering tidak setuju dengan atasan

Pimpinan yang bersungguh-sungguh akan menghargai perbedaan, bahkan menjadikan perbedaan sebagai modal untuk menemukan ide-ide gemilang dalam kerjasama tim. Dan menerima tugas sebagai pimpinan tersirat JANJI untuk mengembangkan anak buahnya yang juga mempunyai karakteristik beragam.

“Nothing destroys trust faster than making and breaking a promise. Conversely, nothing builds trust more than keeping a promise.” (Stephen R. Covey)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life