Coaching World Game

Posted on April 12th, 2016

“No one ever sees that last moment. The eroded rock becomes sand. But if they did, they would hear The Sea singing.” (Rumi)

MOMENT LANGKA. Indonesia, khususnya Bali menjadi tuan rumah untuk The World Game 2016. Memang ada Game apa? Event ini serius atau sekedar permainan? Dalam brosur tentang event, dijelaskan maknanya, terutama tentang WE dalam logo:

“Through the World GamE we come to discover that we are all one WE. The vision WE hold is of oneness and unity regardless of age, gender, race, religion, boundaries, political systems, history or occupation. WE empower, encourage and engage individuals and organizations who want to make a difference with their vision. WE support them globally to reach ‘The Tipping Point of Consciousness’ of our planet.”

Coaching World Game_1

Daya Ungkit dan Berbagai Penghargaan

Untuk bisa menjelaskan “The Tipping Point” ada baiknya saya mengedepankan apa yang dibagi oleh salah satu pemateri, Pak Indrawan Nugroho. Dia berbagi pengalaman di Indonesia, tentang Program Jenius Lokal. Program ini berusaha menggandeng penggiat-penggiat di masyarakat melalui program yang disebut “Jenius Lokal”, Program Pemberdayaan Talenta Daerah yang bertujuan mendayagunakan kekuatan Kearifan Lokal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Program ini adalah satu bentuk aktivitas Daya Ungkit Strategis yang dilakukan guna meraih titik di mana program bisa diluncurkan meluas dengan laju yang lebih cepat karena sudah mendapatkan model dan buy in dari masyarakat banyak yang mengenal program ini.

Ternyata paparan ini menarik minat banyak peserta dari luar negeri, dan sekaligus mengantarnya untuk meraih Penghargaan: “The  Most Impactful World Game” dengan program Jenius Lokal tersebut. Sementara itu Coach Lyra menerima penghargaan “The Most Sustainable World Game”, melalui gerakan Coachnesia.

Dan masih banyak lagi program yang disajikan selama dua hari, sharing apa yang sudah dilakukan dengan hasil.

Di tataran membangun ide, Tim Indonesia yang bergabung dalam “The Butterfly Effect” juga meraih “3rd Best World Game Ideas” setelah memaparkan program “Coaching for Building Future Leadership”. Foto keceriaan team setelah pengumuman.

Coaching World Game_2

Sementara itu Mbak Indira Abidin yang memukau peserta manca negara dengan program Coaching bagi yang menerima Gift Cancer dalam Yayasan Lavender. Juga menerima penghargaan kedua, bersama timnya dalam ide program “Health Dynamics”  bersama tim coach dari Rusia, Bulgaria, Korea dan UK.

Daya Tarik World Game 2016

Para alumni Erickson Coaching sudah merasa seperti satu kaluarga besar di muka bumi ini. Di samping inisiatif individu di tempat masing-masing dengan menggunakan pendekatan Coaching, timbul juga hasrat untuk secara bersama-sama, entah di negara masing-masing ataupun lintas negara, untuk melakukan sesuatu demi dunia yang lebih baik. Peserta lebih dari 100 orang meliputi 24 negara, antara lain: Austria, Australia, UK, Canada, China, Rusia, Saudi Arabia, Spain, Rumania, Korea, Poland, Indonesia, Slovakia, Jordan, Singapore, mendapat kesempatan untuk bisa sambil belajar dari praktek yang sudah dijalankan.

Semua hadir dengan niat untuk saling belajar dan berbagi, apalagi semuanya sudah melupakan sekat agama, suku, negara, usia dan gender. Tentu saja lokasi di Bali menjadi daya tarik tambahan bagi peserta luar negeri. Ini sekaligus menjadi tantangan berat bagi tuan rumah dua tahun mendatang, bila menggunakan benchmark penyelenggaraan di Bali.

Coaching World Game_3

Sebuah Kata Penutup Penuh Makna

Untuk merangkum apa yang terjadi selama program World Game, menarik kita simak komen sang master, Marilyn Atkinson di Facebook:

“Really hard to transmit the essence of what happened here in Bali. It was a big conversation… a true think tank between multiple cultures… and thoughtful individuals about who we are as coaches facing this very specific future we are meeting today… and how to meet it with strategic vision, with clear purpose and with inner grace! It was also a BLAST! Lots and lots of good humor and fun.”

Jalan masih panjang, langkah baru dimulai. Tetapi melihat semangat dan energy para peserta, keseriusan untuk memberikan kontribusi bagi dunia ini, saya pribadi sangat yakin bahwa ide-ide yang dihasilkan di Bali bisa menjadi kenyataan.

“Everyone wants to belong, or be a part of something bigger than themselves, but it’s important to follow your heart and be true to yourself in the process.” (Emily Giffin)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life