Refleksi Para Coach

Posted on November 22nd, 2013

“The best managers consistently allow different leaders to emerge and inspire their teammates (and themselves!) to the next level.” (Robyn Benincasa)

DALAM BERBAGAI TRAINING, sering kita mendengarkan komentar: materinya bagus, tapi di lapangan situasinya beda. Sulit diterapkan! Mestinya atasan saya yang ditrain materi ini, dan sebagainya. Karena itu dalam merancang program seperti Leadership Development, kita umumnya memulai program dari Top Leaders.

Dalam menjalankan program itu, para Top Leaders juga akan bertindak sebagai Coach bagi mereka yang baru selesai mengikuti program tersebut. Peran Coach ini sekaligus juga membimbing bawahannya yang baru mengikuti training, untuk menggunakan pendekatan itu dalam tugas keseharian mereka sebagai pemimpin.

Coaching Sebagai Salah Satu Leadership Style

Mereka yang belajar “Leadership” akan familier dengan nama Daniel Goleman’s dengan bukunya yang terkenal: “Leadership That Gets Results.” Buku ini diterbitkan sebagai hasil studi atas lebih dari 3.000 middle managers untuk mengetahui perilaku leadership tertentu serta dampaknya terhadap Corporate Climate dan profit. Dan temuannya mengatakan bahwa leadership style sangat menentukan 30% Company’s Bottom-line Profitability. Pertanyaannya: “Apakah akan kita abaikan aspek style ini??”

Dari study tersebut di atas, ditemukan ada 6 Leadership Style:

  1. The Pacesetting Leader
  2. The Authoritative Leader
  3. The Affiliative Leader
  4. The Coaching Leader
  5. The Coercive Leader
  6. The Democratic Leader

Pada kesempatan ini, saya hanya ingin menyoroti “Coaching” sebagai salah satu gaya kepemimpinan. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada pengembangan manusia untuk masa mendatang.

Refreshing Sekaligus Refleksi

Bersama beberapa Coach lainnya di perusahaan, kami berkumpul untuk refreshing sekaligus refleksi tentang Coaching, dan bersiap-siap untuk membantu tim masing-masing yang akan mengikuti Leadership Development Program.

Dalam melaksanakan coaching post training tersebut kami akan focus pada “Cara berpikir” peserta. Maka dalam refleksi, kami semua mendiskusikan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Dalam pertemuan coaching, anak buahnya bisa mencoba mengangkat hal-hal yang detail operasional untuk mendapatkan jawaban dari atasan. Atau mengambil sikap curhat, seakan-akan: sudah sulit diubah, dari dulu sudah demikian… sudah pernah dicoba tapi tidak ditanggapi… percuma saja melakukan yang ini…. Dan masih banyak lagi yang bisa dimunculkan. Dan akhirnya yang terjadi adalah muncul pertanyaan dari mereka: “Jadi menurut bapak bagaimana?”

Untuk itu semua, kami semua sepakat untuk lebih banyak mendengar dan bertanya. Menyimak dan memfasilitasi untuk yang bersangkutan menemukan pola pikir berbeda. Mengarahkan untuk dia menemukan sendiri jawaban atas persoalannya. Mendorong dia untuk melihat spectrum yang berbeda dari sebuah permasalahan.

Bila bawahan mendapatkan Coach yang memadai, mereka juga akan belajar menjadi Coach untuk anak buahnya lagi. Bila ini terus bergulir, maka kita akan temukan lingkungan di perusahaan di mana para Leader secara berkesinambungan menciptakan Leader lainnya lagi.

Tinggalkan Bagasi Masa Lalu

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung-jawabnya. Cukup sering pula kita mendengarkan keluhan “lelah atau capek.” Keluhan itu muncul tidak sepenuhnya karena tanggung jawab yang semakin besar karena job-nya, tetapi sering karena bagasi pekerjaan masa lalu sebelum dipromosi masih dibawa.

Dia seharusnya sudah mulai berpikir dan mengerjakan yang strategis, namun nyatanya pekerjaan yang sifatnya operasional rutin masih juga dikerjakan, karena tidak didelegasikan kepada bawahannya. Lebih celaka lagi atasan sang manager masih meminta analisa operasional kepada dia, yang seharusnya sudah dikerjakan oleh tim di bawah lagi, hanya karena atasannya belum sepenuhnya percaya kepada yang di bawah.

Nah dalam situasi seperti ini, tugas atasan sebagai coach adalah membimbing anak buahnya untuk siap menjalankan fungsi seharusnya, siap menjadi partner diskusi dengan atasannya, dan siap untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Banyak yang mengaku sudah menjalankan peran sebagai Coach, tetapi sesungguhnya yang dijalankan adalah Coach ATM, Automatic Teller Machine, alias telling all the answer. Dalam situasi seperti itu, bawahan akan lebih cerdik lagi, untuk terus mendelegasikan ke atas: “Mari kita tanya boss, dia punya jawabannya!”

“Leaders don’t create followers, they create more leaders.” (Tom Peters)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET