Balanced Life: Banyak Pilihan dalam Kehidupan

Posted on July 26th, 2013

“Wisdom is your perspective on life, your sense of balance, your understanding of how the various parts and principles apply and relate to each other.” (Steven R. Covey)

ADALAH Elisa Ratna, mahasiswi  jurusan communication, memulai pembicaraan ini.

Bapak sangat sibuk, bagaimana mengatur waktu?

Apakah masih ada waktu untuk istirahat, relax??

Malam ini hadir di acara Buka Puasa Bersama, besok dan lusa pasti ada banyak lagi acara yang menunggu setelah jam kerja.

Masih adakah waktu untuk keluarga??

Saya saja dengan kegiatan tidak seberapa, sulit sekali mengatur balanced life.

Elisa akan terus dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya, kalau saya tidak interupsi untuk meminta klarifikasi: Apa sebetulnya terlintas di pikiran Elisa, pada waktu berbicara tentang Balanced Life??

Bagaimana Mengatur Waktu Istirahat?

Elisa pun menggambarkan jadual hariannya. Pulang kerja jam 17.00, 2 (dua) jam di jalan yang macet, sampai di rumah sudah jam 19.00. Ingin rasanya istirahat, santai, rilex, tapi masih saja ada yang harus dikerjakan mulai dari tugas kuliah, tugas di rumah dan lain-lain. Badan ini terasa capek.

Di satu pihak,  istirahat, santai atau rilex menurut Elisa itu: tidak disibukkan dengan mikirin tugas kampus yang belum selesai, atau pekerjaan di rumah, kalau perlu tidur. Di pihak lain ada  kesulitan membagi waktu. Tapi saya juga menangkap hal lain di balik pernyataan Elisa: Semua yang dia kerjakan: tugas kuliah, tugas-tugas di rumah, tugas di tempat kerja adalah sebagai suatu keharusan, sekedar mengisi jadual kehidupan.

Kalau ini yang terjadi, maka akan muncul rasa terbebani, sekedar kewajiban yang harus dipenuhi, sehingga tidak bisa menikmatinya. Memang Confucius pernah mengatakan: “Wherever you go, go with all your heart.

Pekerjaan atau tugas apapun, kalau kita jalankan dengan sepenuh hati, pasti akan menyenangkan. Jadi kalau tujuan istirahat adalah untuk recharged, maka melakukan variasi aktivitas lainnya pun bisa mendapatkan kondisi recharged tersebut, asal dikerjakan dengan sepenuh hati dan penuh kegembiraan.

Misalnya: merapihkan dan menyiram tanaman, membantu ibu masak, karena sedang belajar berbagai masakan, ikut latihan paduan suara untuk pentas di kampus, atau bila perlu karaoke bareng mumpung banyak keluarga kumpul.

Begitu hari Sabtu, hari yang juga dinantikan banyak orang untuk istirahat, dan kita diajak anak untuk jalan-jalan, walau hanya sekedar window shopping di mall, reaksi kita bisa 2 (dua) macam:

  1. merasa terbebani karena ingin istirahat (tidur di rumah), atau
  2. menikmati moment kebersamaan itu dengan motivasi:  sepanjang minggu sangat sedikit waktu berinteraksi dengan anak, dan ini adalah saat yang tepat, apalagi kalau dia yang memintanya.

Motivasi di balik mengerjakan sesuatu itu, akan berpengaruh pada tingkat kepuasan, sekaligus memulihkan kembali kondisi fisik setelah melakukan pekerjaan lainnya.

Hidup Ini Penuh Pilihan: Perlu Disiplin dalam Menjalankannya

Kembali kepada pertanyaan Elisa tentang balanced life, menurut Elisa, dia akan mendapatkan balanced, kalau cukup waktu untuk beristirahat, cukup waktu untuk bersama keluarga, cukup waktu untuk belajar, di samping kuliah dan kerja. Tapi susah mengatur waktu. Pernah coba olahraga disiplin tapi cuma dapat seminggu.

Berbicara tentang balanced life, perlu disadari bahwa ada satu Life, tapi terdiri dari beragam dimensi: work life, family life, social life, spiritual life, dan lain-lain. Masing-masing berkaitan erat dan bukannya disekat dalam kotak-kotak yang terpisah. Dan hidup kita bukannya berpindah dari kotak kehidupan yang satu ke kotak kehidupan lainnya.

Balanced hendaknya tidak dikaitkan dengan jumlah jam untuk alokasi masing-masingnya, tapi kehadiran dengan sepenuh hati di saat ada panggilan untuk menjalankan masing-masing. Untuk itu perlu dirancang dan dijalankan dengan disiplin.

“Balance means making choices and enjoying those choices.” (Betsy Jacobson)

Menunggu waktu cukup, tidak akan pernah cukup. Kita harus menyediakan waktu, karena Balanced tidak datang dengan sendirinya. Seperti kata-kata bijak berikut ini:

“You will never find time for anything. If you want time you must make it.” (Charles Buxton)

Saya kemudian membagi pengalaman saya di waktu kuliah dulu: pagi kerja dan sore kuliah, tiba di rumah sekitar jam 21:00. Urusan rumah perlu diselesaikan, misalnya nyuci/strika pakaian. Waktu selebihnya saya gunakan untuk merapihkan catatan dan belajar, sampai jam 24:00.

Aktivitas ini saya lakukan dengan disiplin karena menyadari keterbatasan yang saya miliki. Namun manfaat yang diperoleh adalah: jelang ujian saya tidak pernah belajar. Saatnya teman-teman pergi liburan selesai kuliah tingkat tiga (semester 6), saya gunakan waktu untuk mempersiapkan skripsi sarjana muda.

Ketika saatnya harus mengetik semua bahan skripsi, saya minta cuti dari kantor, tapi ijin masuk kantor dan ijin menggunakan mesin ketiknya. Saat teman-teman kembali dari liburan, saya sudah siap untuk maju ujian sarjana muda. Kepuasan dari menyelesaikan skripsi itu, tidak bisa digambarkan, karena saya bisa menghadapi tantangan itu sekaligus enjoy.

Relax Bisa di Mana Saja

Saya meminta Elisa untuk mengamati orang-orang di seputar kami, lalu berikan saya ungkapan positif sambil tersenyum tentang apa yang dia saksikan: ada tertawa, gerak tangan sambil bicara memperlihatkan semangat; ada yang berbicara berapi-api penuh antusias; ada yang mendengar untuk menyimak sambil tersenyum; ada yang bicara dan tiba-tiba berdiri saking semangat, dan masih banyak lagi.

Apa yang terjadi?? Pembicaraan santai teman-teman usai berbuka puasa tersebut, bernuansa ringan menyenangkan; ketegangan seharian perlahan hilang; kami berdua yang mengamati sambil melakukan latihan kecil di atas, telah memenuhi pikiran dan emosi kami dengan hal positif, sekaligus menarik energy positif sekitar kami yang membantu kami untuk recharged.

Dan hanya dengan obrolan singkat malam itu, kami sudah mendapatkan suasana rilex, yang bernilai sama dengan istirahat. Saya sarankan Elisa, untuk melakukan hal yang sama di mana saja, termasuk saat menunggu bis di halte, di tengah kemacetan. Isilah pikiran dengan observasi hal positif, daripada pikiran dipenuhi kejenuan, kekesalan, kegalauan karena macet.

Dengan latihan  seperti itu, saya yakin bisa mendapatkan ketenangan, kedamaian seperti suasana mengunjungi air terjun (Cibodas) berikut ini, yang belum tentu bisa dikunjungi setiap saat karena jarak.

Dan tidak berlebihan, kalau Elisa pun berkicau di Twitter:

@elisaratna: Discussed about “balanced life” with bpk @josefbataona last night. Terima kasih for the incredible inspirational advise

We can be sure that the greatest hope for maintaining equilibrium in the face of any situation rests within ourselves. ( Francis J. Braceland)

Bookmark and Share

8 Responses to Balanced Life: Banyak Pilihan dalam Kehidupan

  1. Andina says:

    Ah saya juga mau discuss sama bapak 😀

  2. Elisa says:

    Terima kasih bapak Josef atas sharing yang sangat inspiratif.
    Suatu kebanggaan bagi saya menjadi inspirasi artikel ini. 🙂
    sejak diskusi dengan bapak terakhir kali, saya membaca seluruh artikel di blog bapak, setiap hari. sampai sekarang.
    Dan saya mendapatkan banyak pelajaran dari sana. 😀

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 Elisa, buat saya tidak ada kebetulan, bahwa kita bertemu dan Elisa mengajukan pertanyaan kepada saya, karena saya sendiri mau belajar dari berbagai sumber, bukan saja dari jawaban tapi justru saya belajar berkat pertanyaan yang diajukan termasuk pertanyaan Elisa. Dalam blog ini ada sekitar 178 artikel, dan ada komentar2 tambahan yang ada di akhir masing2 artikel, yang berjumlah 1.780 komentar. ini membuat setiap artikel bertambah kaya dengan komentar dengan dimensi yang berbeda.

  3. dwinanto wibowo says:

    Terima kasih Pak Josef atas inspirasinya, benar sekali bahwa terkadang kita lupa hanya ada 1 life… artikel Bpk memberikan semangat yg baik.. 🙂
    Semoga Bpk selalu diberikan kesehatan, agar dpt selalu memberikan inspirasi dan pembelajaran
    bagi kami yang muda-muda ini..

    • josef josef says:

      Amiiiin, semoga Allah berkenan memberikan saya kesehatan seperti doamu, untuk terus berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang kami punyai. Terima kasih Dwinanto untuk doanya.

  4. khalid says:

    salam kenal pak, baru siang ini saya tau mengenai Bpk dan saya langsung tertarik untuk melahap bebrapa artikel. lotta thx to u …

    • josef josef says:

      Terima kasih Khalid, untuk kunjungannya ke blog ini dan menyimak berbagai kisah disini. Ada sekitar 180 artikel di blog ini, dan salam kenal juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life