Kapan Mencapai “My Best Self”

Posted on December 3rd, 2013

“We are at our very best, and we are happiest, when we are fully engaged in work we enjoy on the journey toward the goal we’ve established for ourselves. It gives meaning to our time off and comfort to our sleep. It makes everything else in life so wonderful, so worthwhile.” (Earl Nightingale)

BANYAK DIANTARA KITA terus berusaha untuk belajar dan melangkah menjadi pribadi versi terbaik. Terbaik dibanding siapa?? Dibanding diri sendiri. Dan terbaik di sini bukan sebuah titik destinasi. Karena terbaik hari ini, besok menjadi sejarah, sehingga kita harus terus melangkah.

Saya sendiri tetap berusaha menjadi pribadi yang lebih baik via motto: “Be Yourself, but Better Everyday. Ini akan terus memacu saya untuk terus menggali potensi yang ada dalam diri saya sendiri, keunikan yang saya punyai, namun terus membuka diri untuk belajar dari orang lain yang juga punya keunikan sendiri.

Untuk apa?? Agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik hari ini dibandingkan dengan kemarin dan besok lebih baik dibandingkan dengan hari ini.

Tujuan Belum Tercapai?

Minggu lalu saya sempat menghadiri acara peluncuran buku sahabatku, Rene Suhardono, berjudul “Your Journey To Be The UltimateU2.

Kenapa ada edisi kedua buku ini? Sejak terbitnya buku “Ultimate U” pertama, Rene terus membuka telinga, mata, perasaan dan hatinya untuk merekam berbagai peristiwa. Rekaman pengalaman perjalanan selama 40 minggu sejak Juni 2011 diracik dengan gaya seorang Rene: unik, menarik, enak dibaca dan mudah dicerna.

Lebih menyenangkan lagi, setiap judul adalah judul lepas yang bisa dibaca tanpa harus berurutan, tetapi bisa dirangkai dengan meramu semua sekaligus atau hanya beberapa judul diantaranya untuk bisa dibawa ke dalam kehidupan nyata. Tergantung menu mana yang mau dipakai.

Di sinipun Rene percaya, bahwa setiap orang unik, karena itu mereka punya sesuatu yang orang lain tidak punya. Karena itu kehidupan kita akan lebih diperkaya bila membuka diri dan belajar dari keunikan orang lain. Seperti kata Robert H. Schuller:

“As we grow as unique persons, we learn to respect the uniqueness of others.”

Gaya Belajar Mindmap

Sebuah pendekatan yang juga unik, ketika Rene mengajak beberapa kawan untuk memberikan dia pemikiran dalam bentuk Mindmap, ilustrasi atau gambar, coretan atau apa saja asal bukan artikel. Keunikan ini sengaja dikedepankan Rene, bahwa belajar itu FUN. Dan orang-orang yang Cool, keren dan Fun itu bisa dilibatkan untuk menciptakan proses pembelajaran yang menarik. Sebuah contoh saya tampilkan di sini, bisa ditemukan dalam buku Rene, tapi foto saya ambil di lokasi peluncuran buku.

Dengan lancar seperti air mengalir, Elsa Christine menuangkan pikirannya tentang  “Leadership Requires Mutual Respect.” Penulisan ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan yang sering menggelitik banyak bawahan: “Bisakah saya terus bekerja dengan atasan yang saya tidak respek?”

Kapan Saya Mencapai The Ultimate-Me?

Kita semua tentu sangat fokus pada upaya pencapaian untuk diri sendiri. Namun kalau kita juga bertanya: Apakah saya sukses dengan pencapaian itu? Apakah saya bahagia dengan pencapaian itu? Perspektif kita akan meluas, bahwa it is not just about me. Ada banyak orang di sekitar kita yang berada dalam journey together. Entah mereka itu anggota keluarga, bawahan di tempat tugas atau sahabat, atau siapa saja.

Menyadari hal ini akan membuat kita juga melakukan refleksi tentang berapa banyak kontribusiku pada mereka yang bersama saya dalam perjalanan ini. Apakah sukses yang saya capai, juga dengan membawa serta orang-orang yang berada bersama saya dalam perjalanan ini?

Dengan demikian KEBAHAGIAAN dalam konteks ini adalah KEBAHAGIAAN karena bisa memberi, bisa berbagi dengan yang lain, mulai dengan lingkungan terdekat: keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan lain yang lebih luas lagi. William Bryan pernah berujar: “Destiny is not a matter of chance, it is a matter of choice.

Di manapun titik Anda berdiri, perjalanan belum usai, seperti kata Lolly Daskal: “The future is not some place we are going to, but one we are creating.”

Karena itu proses belajar dan menciptakan masa depan akan terus berlangsung selama kita hidup. Setiap penggal perjalanan ini seakan menciptakan sepotong mosaik kehidupan yang indah, dan pada waktunya nanti, bila disusun menjadi satu, akan nampak kumpulan mosaik yang tersusun rapih dan indah.

“Intellectual growth should commence at birth and cease only at death.” (Albert Einstein)

Bookmark and Share

6 Responses to Kapan Mencapai “My Best Self”

  1. Terima kasih pak, tulisannya keren. Salam hormat saya.
    Salam SuksesMulia. Jamil

  2. annas says:

    sangat mencerahkan tulisannya.
    wow! mindmap-nya sangat keren. simple, tapi penuh makna….

  3. yomie harlin says:

    Terimakasih pak, sungguh menginspirasi tulisannya.

    salam hormat,
    yomie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life