Posted on August 22nd, 2014
“Find what makes your heart sing and create your own music.” (Mac Anderson)
BAGIAN KEDUA perjalanan libur keluarga. Semuanya mencakup 9 kota di lima Negara: Madrid, Lourdes, Paris, Frankfurt, Lucerne, Milan, Pisa, Roma, Vatikan. Semuanya menjanjikan daya pikat tersendiri. Tapi umumnya berkaitan dengan budaya dan kejayaan masa lalu, yang masih dirawat dengan baik. Kita akan menyaksikan kontras dari berbagai lingkungan, begitu kita bergerak ke kota atau Negara berikutnya.
Paris dan Sejarah
Tidak akan cukup seminggu untuk mendapatkan hanya sekedar highlight kota yang satu ini. Tapi dalam dua hari, kami disajikan momen yang bisa memberi warna-warni kehidupan di sana, dari sungai ataupun langsung di lokasi. Dari Montparnas Tower, kita bisa menyaksikan Kota Paris 360 derajad.
Tidak cukup dari kejauhan, posisi lapangan dekat Menara Eiffel bisa menjadi tempat merekam momen kebersamaan, sekaligus leluasa mengekspresikan berbagai perasaan kebahagiaan. Rangkaian foto berikut ini cukup bisa bercerita.
Alam yang Indah di Swiss
Ini bukan pertama kali kami mampir di sana. Tapi suasana di sana tidak pernah membosankan. Dalam perjalanan ke Lucern saja, kita sudah dihadang Danau Titisee dengan kue blackforest yang dinikmati dipinggir hutan blackforest. Atau air terjun Rhine Falls di Schaffhaussen. Semuanya karya Yang Maha Tinggi yang masih terus dilestarikan. (dua foto bagian atas)
Dan tidak seru kalau mampir di Lucern tanpa naik ke puncak Gunung Titlies atau Pilatus. Kali ini kesempatan kami ke Pilatus. Berbagai foto berikut ini akan lebih berbicara dari hanya sekedar ceritaku. (foto bagian bawah)
Milan dan Pisa
Walau sudah agak sore, kesempatan untuk memenuhi keinginan beberapa peserta untuk mampir ke San Siro, Stadium-nya Inter Milan masih bisa dipenuhi. Kita hanya bisa foto-foto dari luar.
Duomo Milan, katedral terbesar di sana juga menjadi obyek untuk dimampiri, selain Galeria Vittoria Emanuele II yang terus mengundang ibu-ibu untuk berbelanja. (foto bagian atas)
Sementara itu semua peserta juga siap-siap untuk beraksi menahan Menara Pisa dari kemiringan lebih jauh, tentu saja dengan berbagai gaya, yang berhasil maupun gagal. Gagal karena begitu banyaknya pengunjung yang tidak menyisahkan ruang atau moment untuk membuat foto yang pas. (rangkaian foto bawah).
Bahkan Eka yang berusaha menahan Menara Pisa dengan sebuah tendangan, nyaris mengenai pantat turis lain. Dan rupanya menara miring ini saking terkenalnya sehingga tidak banyak yang menyadari, bahwa ini adalah menara lonceng yang dibangun belakangan, sebagai bagian dari Baptistery & The Cathedral yang didedikasikan untuk St. Johanes Pembaptis.
Saya memang melakukan posting hampir setiap hari selama perjalanan, agar para sahabat bisa mengikuti perjalanan saya. Hanya satu foto setiap hari di Instagram/Twitter dan Facebook. Dan di rangkaian artikel inipun tidak memungkinkan kami untuk menyajikan lebih banyak foto atau cerita. Dan cerita ini masih akan berlanjut ke posting berikutnya.
“To the question in your life, you are the only answer. To the problems of your life, you are the only solution.” (Jo Coundert)
josef:
Terima kasih untuk testimoni Randy. Senang dengan progress yang dialami. Perjalananmu masih panjang, banyak...
Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....