Memberikan Makna Hidup Lanjut Usia

Posted on December 13th, 2013

“Retirement can be a great joy if you can figure out how to spend time without spending money.” (unknown wise person)

MASIH ADA HARAPAN bagi orang tua bahwa di masa lanjut usia, anak-anaknya masih akan memberikan perhatian, entah berupa waktu, ataupun dukungan baik secara finansial atau bukan. Dan entah dari mana memulainya, percakapan dengan teman-teman hari itu tentang anak-anak dan masa depan kami semua saat anak sudah mandiri, mengalir begitu saja. Fokus pembicaraan lebih pada kebersamaan dengan anak cucu nantinya, bagian dari pola hidup yang perlu dipertahankan.

Nenek Cekatan Membawa Dimsum

Dalam perjalanan baru-baru ini, bersama teman-teman kami janjian untuk sarapan Dimsum di sebuah restoran lokal, bukan di hotel. Mereka menyebutnya Eating House (mungkin terjemahan untuk Rumah Makan).

Setting restoran yang terdiri dari 4 lantai itu sama saja seperti restoran lainnya. Di atas meja memang ada lembaran kertas dengan tulisan Mandarin, yang dugaan saya merupakan daftar menu. Bagaimana saya yang tidak mengerti bahasa dan tulisan Mandarin memesan makanan??

Segera kekhawatiran saya teratasi. Seorang ibu usia lanjut sudah datang menghampiri meja menawarkan Dimsum. Uap panas masih terlihat. Kami tinggal menunjuk yang kami mau. Selang beberapa waktu, ibu tua lainnya menghampiri dengan varian Dimsum lain lagi.

Pola pelayanan seperti ini membuat kita bisa makan secara bertahap, dengan Dimsum yang masih panas, dan sekaligus juga bisa mengukur kapasitas perut sendiri. Rasa ingin tahu saya membuat saya luangkan waktu untuk memperhatikan gerak-gerik ibu-ibu itu. Mereka tidak saja ada di lantai itu, tetapi bergerak dari lantai ke lantai melayani tamu di keempat lantai.

Kalau saja saya pinjamkan pedometer yang saya bawa, mungkin 10.000 steps per hari sangatlah mudah untuk dicapai. Mereka pasti bugar sekali, karena langkah-langkah selama melayani merupakan olahraga yang bisa membuat mereka sehat.

Lain Lagi di Singapore

Sesekali terdengar bunyi klakson dari kendaraan seorang kakek yang sedang membawa rangkaian trolley untuk dirapikan di tempatnya. Juga bila kita perhatikan benar, mereka yang menangani kebersihan di Bandara Singapore atau di Mall adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Dan entah di mana lagi kelompok umur seperti itu diberdayakan.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, pemerintah Singapore memang sengaja menciptakan lapangan kerja untuk kelompok umur ini. Ada beberapa alasan untuk itu:

  • Memberikan mereka kegiatan (tidak full time) untuk mengurangi kemungkinan kepikunan.
  • Memberikan kesempatan untuk sosialisasi dengan teman-temannya.
  • Mengurangi ketergantungan financial pada keluarganya.
  • Membuat mereka merasa masih punya kontribusi bagi masyarakat, bukan sebagai warga pengangguran, bukan sebagai beban bagi Negara atau keluarga.

Semua alasan tersebut di atas akan membuat mereka yang sudah lanjut usia masih tetap hidup penuh gairah karena merasa ada makna dalam kehidupan senjanya, sebuah langkah pemerintah yang patut diacungkan jempol.

Bahkan di Januari 2012, pemerintah menggantikan RAA (Retirement Age Act) dengan RRA (Retirement and Re-employment Act). Usia pensiun karyawan masih 62 tahun, tapi karyawan yang eligible masih ditawarkan untuk dipekerjakan kembali hingga usia 65 tahun, bila prestasinya bagus dan sehat.

Keputusan Ada di Tangan Masing-masing

Data yang dikumpulkan BCG tentang “Indonesia Demographic Profile” menggambarkan rata-rata usia angkatan kerja Indonesia di 2010 yang usia 28.1 tahun, di 2020 (32.5 tahun) dan di 2050 (40.2 tahun). Artinya dengan praktek usia pension 55 tahun (ada yang sudah mulai dengan 60 tahun) banyak pensiunan yang harus mempersiapkan diri untuk mempunyai aktifitas sesudah pensiun.

Belum lagi dengan harapan hidup yang semakin panjang, tantangan ini akan semakin berat. Persiapan secara finansial, banyak tersedia seperti program pensiun, asuransi dan lain-lain. Tapi, tidak kalah pentingnya adalah pemahaman sekaligus kesadaran tentang perubahan rutinitas, perubahan gaya hidup, dan perubahan cara pandang masing-masing tentang bagaimana menciptakan sendiri makna hidup dalam periode ini.

Ini merupakan keputusan masing-masing kita, tapi tidak bisa menunggu sehari setelah pensiun, perlu persiapan jauh hari sebelumnya.

Praktek reuni dengan teman-teman lama, seperti yang kami hadiri baru-baru ini juga merupakan praktek yang sangat disarankan untuk temu kangen sekaligus bisa saling update keadaan masing-masing kami.

Dan kembali ke percakapan awal, makna hidup ini akan bertambah cemerlang dengan hadirnya anak dan cucu serta keluarga besar lainnya yang terus memberikan perhatian dan apresiasi kepada kehidupan mereka yang sudah lanjut usia.

Retirement Poem dari Irish Blessing berikut ini akan terasa manis, sekaligus do’a untuk mereka yang akan pensiun:

Irish Retirement Blessing

May you always have work

for your hands to do.

May your pockets hold

always a coin or two.

May the sun shine bright

on your windowpane.

May the rainbow be certain

to follow each rain.

May the hand of a friend

always be near you.

And may God fill your heart

with gladness to cheer you.

Bookmark and Share

6 Responses to Memberikan Makna Hidup Lanjut Usia

  1. Banis says:

    Dear pak Josef, terima kasih terus-menerus atas inspirasi yang selalu bapak hadirkan di blog ini. Membaca artikel ini, saya jd teringat orang tua saya yang akan pensiun sebentar lagi.. Ini mengingatkan saya sebagai anak utk lebih banyak lg memberikan perhatian kpd mereka. Thank you pak 🙂

    • josef josef says:

      WOW, terima kasih Banis, kalau lebih banyak lagi anak2 yang menyadari hal ini, akan sangat positif. Orang tua kita akan bahagia sekali

  2. Doris Maruli Purba says:

    Terima kasih pencerahannya Pak Josef, terkadang mereka terabaikan karena aktifitas & kesibukan kami sehari-hari.
    Salam

  3. Etty Soedewo Purwanto says:

    Pak Josef, terima kasih ulasannya tentang masa pensiun. Kalau saya perhatikan di kantor2, program pelatihan masa pensiun selalu diberikan hanya 1-2 thn sebelum usia pensiun. Agak terlambat menurut hemat saya. Alangkah baiknya kalau ini diberikan jauh sebelum usia pensiun untuk memberikan gambaran dan persiapan yg lebih matang. Karena seperti pak Josef katakan, at the end of the day it is the individual’s choice.

    • josef josef says:

      Terima kasih bu Etty. Banyak perusahaan baru memulai program persiapan pensiun, karena itu mereka mulai dari yang menjelang pensiun. Pengamatan saya, yang sudah lebih awal memulainya, sudah mengcocer karyawan 3-5 tahun jelang pensiun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET