Posted on August 30th, 2019
“We all do better when we work together. Our differences do matter, but our common humanity matters more.” (Bill Clinton)
MERDEKA punya banyak versi dalam interpretasi dan implementasi. Seputar hari kemerdekaan RI, banyak sekali postingan di social media yang bercerita tentang apa yang dilakukan untuk memeriahkan hari bersejarah tersebut. Ada juga yang membuat posting dengan tagar #merdeka itu, seperti: #merdekaitusehat, #merdekaitubahagia, #merdekaitupilihan, dan lain-lain. Ada yang serius memaknai merdeka, seperti #merdekaitutanpadiskriminasi, atau #merdekaitubersatu, ada pula dalam bentuk candaan, #merdekaituterbebasdarimantan atau #merdekaitubisatertawa. Tidak ada yang salah, Namanya juga bebas berekspresi. Karena itu di postingan IGku hari senin, saya juga memberikan makna MERDEKA dengan caption seperti pada foto berikut ini:

Contoh Paguyuban di sebuah desa
Menarik untuk mengangkat salah satu tagar di hari kemerdekaan, tentang kebersamaan dan persatuan: #merdekaitubersatu #nggaadalonggarame berkaitan dengan peristiwa yang layak diangkat untuk dicermati.
Anggota keluarga ini adalah pendatang, dan sudah menetap di Curug, Bojongsari, Depok. Merupakan kebiasaan di desa ini untuk saling membantu bilamana ada anggota yang melaksanakan pesta, seperti pernikahan. Terbentuklah paguyuban beranggotakan 200 orang, dengan Ketua RT sebagai ketua dan seorang sekretaris. Saat ada keluarga yang melaksanakan pesta pernikahan, ketua RT akan mengumumkan ini beberapa minggu sebelumnya (tidak perlu surat undangan). Pengumuman ini penting agar tidak ada pesta lain diwaktu yang bersamaan atau berdekatan. Anggota Paguyuban akan diberi waktu khusus menghadiri pesta pernikahan tersebut. Dalam kasus yang saya amati ini, mereka datang malam hari di hari pernikahan, sementara siangnya untuk undangan umum.
Dukungan ala Arisan
Sebagai anggota paguyuban itu, setiap kali ada yang punya pesta, kita memutuskan untuk NAROH (istilah mereka untuk sumbangan) berapa rupiah. Ada sebuah buku yang akan mencatat nama kita dan jumlah sumbangan kepada orang yang menyelenggarakan pesta.
Sumbangan itu akan dicatat di kolom naroh untuk sumbangan pertama kali pemberi menyumbang kepada anggota yang berpesta, atau diisi di kolom mulang, bila sumbangan ini membuat impas karena penyelenggara pesta pernah menyumbang kepada pemberi di masa lalu.

Catatan di buku ini akan dipindahkan ke buku besar yang dipegang ketua paguyuban (dalam hal ini ketua RT) Buku kecil itu disimpan sekretaris. Jumlah uang yang dikumpulkan pada hari itu akan diserahkan seluruhnya kepada penyelenggara pesta setelah dipotong Rp 200.000 untuk kas paguyuban. Jadi pengurus samasekali tidak memegang uang cash milik anggota, kecuali uang iuran tersebut.
Semakin rajin kita naroh saat anggota paguyuban selenggarakan pesta, semakin banyak tabungan kita untuk pesta kita di kemudian hari.
Disamping paguyuban mereka yang sudah berkeluarga, juga ada paguyuban muda-mudi yang belum menikah. Saya sempat ngobrol dan mengamati bagaimana mereka mencatat uang sumbangan, dengan pola yang serupa tapi dalam jumlah sumbangan yang lebih kecil.

Irnuha, sang ketua sedikit menceritakan aktivitas tersebut dan manfaatnya bagi kelompok mudanya. Beberapa hal positif:
Mengamati proses pendaftaran dan penyerahan uang di kedua kelompok tersebut, kami menemukan ada orang lain lagi yang memegang daftar berbeda, yaitu daftar orang yang nunggak di kesempatan lalu. Orang ini akan menerima uang tunggakan tersebut, dicatat dan menyerahkan uang itu kepada yang punya pesta dimasa lalu. Sementara itu, kepada penyelenggara pesta yang kami hadiri tersebut, pengurus menyerahkan uang sumbangan lengkap dengan daftar mereka yang menyumbang hari itu, dan juga siapa saja yang nunggak. Pengurus yang akan bertanggung jawab untuk mengusahakan agar penunggak akan bayar.
Hari ini, giliran Isti yang narik. Berikut adalah foto bersama sang pengantin, Isti dan Budi

Gotong Royong
Dengan berjalannya waktu, anggota akan mempunyai tabungan banyak. Dan manfaat dari sistim ini menurut pengakuan pengurus adalah:
Anggota yang saya temui mengakui praktek ini sangat membantu, bermanfaat untuk meringankan beban. Ini juga sekaligus mempererat tali persaudaraan anggota paguyuban. Apa jadinya kalau anggota pindah ke tempat lain tapi uangnya belum dikembalikan sepenuhnya? Pengurus yang akan menghubungi yang bersangkutan, bilamana ada anggota yang mempunyai pesta.
Ini hanya salah satu contoh praktek positif paguyuban yang hidup sejak lama di desa itu. Di desa-desa lain di nusantara, saya yakin ada banyak model serupa. Tanpa kita sadari, ini merupakan terjemahan nyata Persatuan Indonesia dalam skala kecil, atau model gotong royong dalam kehidupan nyata. Melalui gaya hidup seperti ini, ketentraman dan kedamaian akan diperoleh karena antar sesama anggota saling peduli dan saling membantu. Gotong royong tidak mengenal perbedaan, sehingga ketika dilaksanakan semua akan merasa SATU. Saya salut untuk paguyuban di Curug, Bojongsari, Depok.
“Unity is strength. . . when there is teamwork and collaboration, wonderful things can be achieved.” (Mattie Stepanek)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Budaya yg patut dicontoh dan dilestarikan..tq om sdh share hal2 yg bermanfaat..
Terima kasih sama2 Cita, sudah semakin jarang ketemu yang seperti ini, karena itu saya sengaja mengangkatnya untuk mengingatkan kita semua. Salam