Rp 10.000 yang menentukan masa depanku

Posted on December 16th, 2011

 

Tantangan paling besar begitu tiba di Jakarta tahun 1973 adalah mencari pekerjaan untuk bisa menunjang kuliah.

Pada suatu hari datanglah tawaran dari sebuah majalah militer yang meminta saya untuk membantu mereka menerjemahkan artikel asing untuk setiap penerbitan. Untunglah kemampuan bahasa Inggris saya cukup lumayan.

Tempat bekerjanya di percetakan, suatu dunia yang sama sekali baru untuk saya. Namun keingintahuan saya yang sering tidak bisa dibendung, membuat saya hanya dalam tempo enam bulan sudah bisa mengetahui, bahkan bisa melakukan pekerjaan secara mandiri, mulai dari perwajahan, pembuatan film, mountage film, expose film ke dalam plat dan siap untuk dicetak. Bagaimana caranya?

Setiap hari saya bergaul dengan para operator dan dengan senang hati saya membantu mengerjakan pekerjaan mereka kalau mereka lagi berhalangan atau tidak masuk kerja. Tanpa saya sadari, direktur percetakan tersebut mengamati apa yang saya lakukan. Terkadang dia menanyakan, ke mana operatornya? Saya pun memberitahukan bahwa operator yang bersangkutan sedang berhalangan, tetapi saya bisa mengerjakan pekerjaannya karena sudah diajarkan oleh dia.

Kesempatan pun datang, ketika percetakan menerima pesanan membuat majalah, dan tidak ada orang yang menurut direktur itu bisa mengerjakan “perwajahan”. Memang agak aneh, karena tenaga perwajahan ada, dan saya yang hanya membantu dianggap lebih cakap untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Ternyata networking dan keikhlasan membantu teman-teman di percetakan selama ini membuahkan hasil.

Singkat cerita, saya bergabung dengan Percetakan tersebut, dan sudah mulai ancang-ancang untuk mendaftar kuliah. Pada waktu itu, Universitas Atma Jaya mempunyai program kuliah sore: Fakultas Ilmu Sosial, jurusan Manajemen Personalia.

Biaya kuliah Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah) setahun, dan boleh dibayar dua kali. Dengan penuh semangat, saya memulai kuliah dengan janji bahwa sisa pembayaran Rp 20.000 akan dilunasi sebelum semester kedua dimulai.

Ternyata perhitungan saya meleset. Kemampuan saving saya hanya bisa menyisihkan Rp 10.000. Harapan satu-satunya adalah meminta keringanan Fakultas untuk boleh membayar dua kali. Karena ini merupakan kewenangan Universitas, saya harus menghadap pembantu rektor bidang kemahasiswaan untuk meminta keringanan tersebut. Namun jawaban yang saya peroleh: “Kalau kami memberikan pengecualian kepadamu, besok akan antri mahasiswa yang mau minta pengecualian seperti itu.”

Pantang menyerah atas keadaan tersebut, malamnya saya mengumpulkan semua slip gaji, membuat rekap pengeluaran setiap bulan dan saving-nya. Keesokan harinya kembali saya menghadap Universitas dengan membawa rekap pengeluaran tersebut sambil menjelaskan: “Pak, sebelum bapak mengatakan TIDAK, tolong dilihat rekap pengeluaran ini. Saya tidak ada niat untuk menghindari pembayaran ini, namun apa daya, kemampuan menabung saya hanya seperti itu. Jadi saya meminta agar dibolehkan membayar sepuluh ribu sekarang dan melunasi sisa sepuluh ribu lagi sebelum ujian semester kedua.”

Setelah berpikir sebentar, bapak Pembantu Rektor yang bijaksana ini akhirnya mengiyakan tetapi kami harus membuat perjanjian tertulis bahwa, bila saya gagal melunasi sepuluh ribu rupiah tersebut, maka saya menyatakan untuk mengundurkan diri dari kemahasiswaan.

Suka cita atas berkat tersebut tidak berhenti di sana, karena pintu lainnya ikut terbuka (inilah doa orang tuaku seperti yang diceritakan di posting terdahulu), ketika di tingkat kedua saya juga diusulkan oleh Universitas dan berhasil memperoleh beasiswa Supersemar.

Dalam refleksi di kemudian hari, saya membayangkan, betapa bernilainya uang sepuluh ribu tersebut, yang telah membawa saya ke tingkat kehidupan seperti saat ini, sebuah berkat yang tidak henti-hentinya saya syukuri.

Bookmark and Share

18 Responses to Rp 10.000 yang menentukan masa depanku

  1. MeiLinda says:

    Nice story om, ibarat pepatah ‘berakit2 ke hulu berenang2 ke tepian’. Jadi tambah bersyukur mengenang masa2 sulit yg pernah dilalui merupakan pengalaman yg sangat berharga. Salute… 🙂

  2. Leslie says:

    Luar biasa Pak Jos, kalau kita selalu mensyukuri apa yang kita terima setiap hari, saya yakin dan percaya Tuhan akan memberikan berkat yang tidak henti-hentinya, GBU

  3. Rudi says:

    Inspiring Pak Jos.

    Fighting spirit, mau belajar, dan keiklasan menjalani proses, menjelaskan bahwa sukses itu tidak instant.

    Thanks, Bapak sudah mengajarkan itu lewat blog ini. Terus berbagi ya pak. Selamat berakhir pekan.

  4. Fanny Bataona says:

    wow, keikhlasan Opa untuk membantu sesama membuahkan hal yang manis berupa pengalaman dan pengetahuan….
    keinginantahuan yang besar ditunjang keikhlasan untuk diajari….Pantang menyerah pada keadaan….(Ciri-ciri Orang Sukses)

    Terima Kasih Opa dan Terus berbagi pengalaman ya Opa, banyak hal yang bisa Fanny ambil di kisah ini…

    • josef josef says:

      Langkah Fanny tepat untuk terus belajar, termasuk dari orang yang sukses. Jangan lupa menjadi diri sendiri. Inilah inti dari “Be yourself but better everyday”

  5. Dahsyat !!!
    Ruaaar Biasa !!!
    Imaging !!!
    Kerja Keras
    Kerja Cerdas
    Kerja Ikhlas
    Ya pak

    • josef josef says:

      Terima kasih Hari, selama ada mimpi yang ingin diraih, kerja keras terasa menyenangkan, dan dengan membuka diri untuk terus belajar, maka pintu2 kesempatan akan terbuka. Ikuti cerita berikutnya besok pagi..

  6. hery syafril says:

    Perjuangan membangun masa depan adalah refleksi masa depan itu sendiri. Pak Josef telah memiliki masa depan saat memperjuangkan sepuluh ribu. God Bless You ..

  7. jhon says:

    yup .. Great ..

    ada kata-kata yang tepat 🙂

    ” .. Suka cita atas berkat tersebut tidak berhenti di sana, karena pintu lainnya ikut terbuka .. ”

    .. uang hanya sebagai media atau ketentuan yang menjadikan kita dapat berintegrasi dengan otoritas tertentu ..

    ..justru perjuangan yang di dasarkan hati tulis dan ikhlas lah yang membuat itu ” indah pada waktunya dan itu AMIN 🙂

  8. angga says:

    Sangat dashyat sekali dan memberi inspirasi yang nyata..bukan hanya pada Rp. 10.000,- yang menentukan masa depanku ini saja, tapi di postingan lain amat sanagt memberi inspirasi kepada yang membacanya..terimakasih pak Josef telah mengundang saya mengunjungi website bapak dan menerima undangan saya untuk terhubung menjadi rekan dalam LinkedIn.
    Sukses selalu buat Bapak dalam kehidupan dan karir..Aamiin.

    • josef josef says:

      Terima kasih Angga, dan saya juga gembira bahwa isi blog ini memberikan manfaat untuk yang mengunjunginya. Saya akan hadir tiap selasa dan jumat pagi dengan cerita baru. Terima kasih doanya

  9. sofia nadira says:

    Luar biasa tangan tuhan ikut bekerja. Kadang saya suka marah dengan anak yg sdh berusia 23 tahun blm membuktikan apapun..padahal jika di flash back saya seusia dia jg bkn ada apa apanya:)

    • josef josef says:

      Terima kasih Sofia, anaknya tidak usah dimarahi, bantu dia menemukan jalan hidupnya. Semoga dalam upayahmu tersebut tangan Tuhan juga mnyentuh dan membimbing anaknya. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan